Sebuah kegiatan bersepeda viral di media sosial, melewati 'jalur gadis desa' yang kontroversial. Jalur tersebut melintasi sungai tempat peserta bisa berhenti untuk berfoto dengan gadis-gadis yang mengenakan kemben, seolah-olah sedang mandi.
Penelusuran detikcom, lokasi 'jalur gadis desa' yang kontroversial tersebut berada di Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang, Jawa Timur.
Ketua bidang umum ISSI (Ikatan Sepeda Sport Indonesia) DKI Fatur Racavvara meyakini keberadaan jalur gadis desa sebagai gimmick untuk menarik peserta. Iming-iming keunikan semacam itu terkadang ditujukan untuk merangsang minat pemula, sedangkan pesepeda yang sudah berpengalaman biasanya tidak akan terpengaruh.
"Mereka (pesepeda lama) akan lebih seneng mencari track baru, meng-explore alam, jelajah jalur yang belum dilalui," jelas Fatur kepada detikcom, Minggu (13/9/2020).
Soal adanya gadis-gadis di jalur gowes, Fatur melihatnya sebagai fenomena yang memang sering ditemukan di berbagai kegiatan. Golf misalnya, selalu menyediakan caddy perempuan dengan penampilan menarik, demikian juga balap motor dengan umbrella girl.
"Saya ngeliatnya sih selama tidak merendahkan harkat wanita, saya pikir fine-fine aja apalagi ketika rencananya untuk meningkatkan pariwisata daerah. Cuman kalau ada pake kemben itu kan udah melecehkan harkat wanita itu yang saya nggak setuju sebenarnya," lanjut Fatur.
"Sebaiknya ditiadakan hal yang kaya gitu. Stigmanya akan menjadi negatif," tegasnya.
Sementara itu, praktisi kesehatan olahraga dari Slim and Health Sports Therapy, dr Michael Triangto SpKO, menduga keberadaan gadis-gadis berkemben bukan bagian dari acara utama. Biasanya, gimmick semacam itu dihadirkan untuk kepentingan pribadi atau sponsor.
"Menurut saya hal itu sering terjadi dimana ada yg memasukkan kepentingan pribadi ataupun perusahaan seperti sponsor. Memang saat ini sifatnya ilegal dan memasukkan kata gadis yang membuat jadi tidak nyaman," kata dr Michael.
Diberitakan sebelumnya, Camat Karangploso Indra Gunawan telah menegaskan bahwa jalur yang viral itu bukan bagian dari kegiatan resmi. Pihaknya memastikan tidak akan terulang lagi.
"Tidak ada di sini jalur gowes gadis desa, dan memang seterusnya tidak akan ada. Itu ulah orang pencari uang untuk dirinya sendiri," tegas Indra.
PSBB Akan Diperketat, Warga DKI Pilih Olahraga di Mana Nih?
Rencana penerapan PSBB secara ketat di DKI Jakarta pada 14 September tak mempengaruhi semangat warga untuk berolahraga. Ini bisa dilihat dari ramainya aktivitas olahraga di kawasan Jl Sudirman sekitar mal fx, Minggu (13/9/2020) pagi.
Sejak beberapa waktu lalu, kegiatan Car Free Day (CFD) memang sudah ditiadakan. Pemerintah Provinsi DKI sempat menggantinya dengan KKP (Kawasan Khusus Pesepeda) di masa PSBB transisi, namun akhirnya ditiadakan juga mengingat risiko penularan virus Corona COVID-19 masih tinggi.
Namun faktanya, tempat-tempat favorit untuk berolahraga tetap ramai pengunjung. Termasuk di kawasan Sudirman-Thamrin dan seputaran Gelora Bung Karno (GBK). Andai PSBB jadi diperketat, masih mau olahraga nggak ya?
"Saya rasa PSBB nggak ada masalah ya, nggak ada apa-apa. Mungkin protokol kesehatannya aja yang lebih diperhatikan," kata Aal (58) warga Kebon Jeruk, Jakarta Barat, yang sedang beristirahat di sekitar mal fX usai bersepeda, Minggu (13/9/2020).
Hal ini juga disampaikan oleh Adit (24), warga Tanjung Barat, Jakarta Selatan, yang sedang bersepeda di ruas Jl Sudirman. "Iya PSBB nggak ngaruh, karena enak aja rutenya lurus gitu. Tapi kalau sampai ditutup ya nggak apa-apa sih karena ini kan buat kita juga, olahraga bisa di mana aja, di kompleks juga bisa," jelas Adit.
Meski begitu, ada juga warga yang lebih memilih untuk melihat situasi terlebih dahulu, apakah nantinya masyarakat tetap diperbolehkan berolahraga di fasilitas umum atau tidak, selama PSBB ketat di DKI Jakarta berlangsung.
"Jadi apa mungkin kaya PSBB awal saya larinya di sekitar kompleks rumah saja, jadi belum tahu nih mau ke sini lagi apa nggak. Lihat situasi dulu sih pastinya," ucap Prita (38), warga Pancoran, Jakarta Selatan.
https://cinemamovie28.com/blood-punch/