Rabu, 09 September 2020

Ramalan Zodiak Cinta 29 April: Libra Makin Hangat, Scorpio Jaga Ucapan

 Ramalan zodiak cinta Virgo saatnya anda menikmati kebahagiaan yang telah lama anda dambakan. Bagaimana dengan ramalan zodiak cinta anda hari ini:

Capricorn:

Apa salahnya jika anda kali ini mempercayainya bagaimanapun juga tak selamanya si dia berbuat salah, berilah si dia kesempatan untuk membuktikannya dengan bukti yang nyata bukan hanya ucapan saja.

Aquarius:

Apa gunanya anda masukkan hati perkataannya yang keras dan menusuk hati, apa anda tidak hafal dengan gaya bicaranya kalau dirinya lagi emosi, lebih baik anggap angin lalu saja dan senangkan hati anda sendiri.

Pisces:

Tak perlu anda terus memojokkan dirinya dengan berbagai kekurangan yang ada pada dirinya, justru selalu tonjolkan kelebihan yang ada pada dirinya sehingga selalu ada kebanggaan dalam dirinya.

Aries:

Si dia kurang mempercayai anda untuk saat ini dan itu tak bisa dipaksakan bagaimanapun juga ketidakpercayaan yang muncul itu ada korelasinya dengan sikap anda yang mengecewakan akhir-akhir ini.

Taurus:

Pasti sangat tidak menyenangkan bila wajah anda ditekuk seperti bemo sekalipun saat itu hati lagi jengkel sebaiknya buat senyum yang indah dan menarik serta membuat nyaman siapa saja yang di dekatnya.

Gemini:

Tak perlu bersitegang kepadanya, cobalah anda mengalah demi kebaikan dan ketenangan hubungan asmara dengannya. Ingatlah awal anda bertemu dirinya hampir tidak ada selisih pendapat yang mengarah ke pertikaian.

Cancer:

Bagaimanapun juga selisih pendapat dalam hubungan asmara anda dengannya adalah hal yang biasa dan terjadi pada siapa saja, yang terpenting adalah bagaimana menelaah suatu persoalan dengan sebijaksana mungkin dan menempatkan segala sesuatunya pada proporsi yang ada.

L e o:

Selalu libatkan dirinya di dalam mempersiapkan langkah anda ke depan nanti nya jangan sampai anda mengabaikannya dengan mengambil keputusan sepihak meskipun si dia diam saja tetapi hal tersebut sangat melukai hatinya.

Virgo:

Inilah saatnya anda menikmati kebahagiaan yang telah lama anda dambakan bersamanya dengan mengabaikan segala perbedaan yang selama ini menjadi penghalang kemesraan hubungan anda dengannya.

Libra:

Suasana percintaan anda semakin hangat dan menyenangkan jika ada riak-riak kecil tetap tak akan mengganggu romantisnya suasana asmara anda dengannya di hari ini.

Scorpio:

Semakin menggelora dan menggairahkan suasana percintaan anda dengannya jika sudah tahu seperti ini maka jagalah setiap ucapan anda jangan sampai merusak suasana yang sudah baik ini.

Sagitarius:

Berpikir lah positif meskipun sikapnya sangat menjengkelkan akhir-akhir ini jika menuruti hati panas maka tak akan ada tenang nya hati karena yang ada hanyalah perasaan gelisah bercampur aduk dengan kecurigaan yang tak berdasar.

Hamil Kena Corona, Ibu Baru Bertemu Bayi Kembarnya 3 Minggu Pascamelahirkan

 Seorang ibu dari Michigan, Amerika Serikat yang telah dinyatakan sembuh dari Corona kini bisa berbahagia karena akhirnya dapat menemui bayi kembarnya untuk pertama kali. Bukan hanya sang ibu, sang ayah yang juga terkena Corona, akhirnya dapat menggendong bayi kembarnya setelah tiga minggu mereka dilahirkan.

Seperti dikutip dari People, pasangan yang bernama Jenifer dan Andre Laubach, pertama kali bertemu dengan bayi kembar mereka yang bernama Mitchell dan Maksim pada 23 April di Rumah Saki Beaumont Troy, Michigan, Amerika Serikat. Jenifer sang ibu, mengatakan kepada People bahwa pertemuan itu adalah momen yang sangat emosional bagi dirinya.

"Mereka terlihat sangat kecil dan rapuh. Saya menangis saat berterimakasih kepada para suster karena sudah menjaga mereka saat kami tidak bisa melakukannya," kata Jenifer.

Seperti yang dilaporkan oleh Good Morning America, Jennifer sebelumnya sudah melakukan isolasi diri di rumahnya selama sekitar satu minggu. Lalu pada tanggal 19 Maret dia pertama kali mulai mengalami gejala virus Corona berupa sesak napas. Sementara sang suami, Andre, pada tanggal 24 Maret justru memperlihatkan gejala yang lebih parah daripada Jenifer.
https://nonton08.com/twinkle-twinkle-lucky-stars/

Baru Dirilis, Novel Ini Sebut Pandemi Mirip COVID-19 Dimulai dari Indonesia

 Dunia sedang bergumul dengan salah satu bencana kesehatan terburuk dalam sejarah. Pandemi COVID-19 yang terjadi akibat virus Corona diketahui bermula di kota Wuhan, China. Namun, apa jadinya bila sebuah pandemi serupa terjadi, kali ini Indonesia menjadi asal virus pemicunya?

Setidaknya itu yang terbayang dalam imajinasi Lawrence Wright ketika menulis novel 'The End of October'. Buku ke-12 karya jurnalis sekaligus penulis pemenang Pulitzer Prize itu dirilis pada Selasa (28/4/2020).

Penulisan 'The End of October' sudah rampung pada pertengahan tahun lalu. Maka betapa kagetnya dia ketika cerita di novel tersebut seakan menjadi kenyataan. Sebuah virus baru muncul di benua Asia pada akhir 2019, lalu mewabah ke seluruh penjuru dunia dan menimbulkan kekacauan di tatanan sosial, ekonomi, bahkan politik sekalipun.

"Rasanya agak mengerikan, mengimajinasikan sesuatu yang buruk di masa depan, lalu terjadi lebih parah di kehidupan nyata," tulis Lawrence di kolom opini The New York Times, baru-baru ini.

Selain itu, ada sensasi deja vu tersendiri yang dirasakan pria 72 tahun tersebut. Pada 1998, Lawrence berkesempatan menulis skenario film 'The Siege' yang dibintangi Denzel Washington, Annette Bening dan Bruce Willis. Film tersebut berkisah tentang upaya teroris dari kaum Islam radikalis menyerang New York City. Tiga tahun kemudian, terjadilah tragedi '9/11'.

'The Siege' yang tadinya gagal di Box Office, lalu menjadi salah satu film yang paling banyak disewa di AS setelah serangan teroris terburuk dalam sejarah tersebut. "Sekarang, sembari membaca koran dan menonton berita, saya merasakan sensasi yang sama ketika melihat kembali adegan-adegan yang pernah saya tulis," tambah penulis buku 'The Looming Tower: Al-Qaeda and the Road to 9/11' itu.

Entah kebetulan atau tidak, tapi yang pasti Lawrence mempertegas bahwa dirinya bukanlah peramal. Apa yang tampak seperti ramalan merupakan buah dari penelitian yang kuat.

Dengan latar belakangnya sebagai jurnalis, ia terbiasa membuat tulisan-tulisan yang diolah berdasarkan fakta-fakta dari berbagai riset. Hal yang sama ia terapkan saat menulis literatur, termasuk yang bergenre fiksi.

Maka dalam menciptakan 'The End of October', ia mewawancarai mereka yang berkepentingan dalam bidang kesehatan. Seperti dokter, ilmuwan dan peneliti, tanpa terkecuali perawat. Beberapa di antaranya, kata Lawrence, saat ini menjadi garda terdepan dalam menghadapi krisis COVID-19.

Adapun ide untuk membuat novel ini sebenarnya bermula dari perbincangan santainya sekitar 10 tahun lalu dengan Ridley Scott, produser dan sutradara kenamaan Hollywood di balik film-film blockbuster seperti Alien, Gladiator dan Black Hawk Down.

Kala itu, Ridley bercerita tentang novel apokaliptik karya Cormac McCarthy yang berjudul 'The Road'. "Dan pertanyaannya untuk saya, 'Apa yang akan terjadi?' Saya selalu suka ketika ada orang yang menanyai saya dengan pertanyaan seperti itu," kata dia kepada New Yorker.

Oleh Ridley, Lawrence diminta untuk menulis alur cerita sebuah film tentang hancurnya peradaban manusia seperti di novel tersebut. Pernah bertugas di desk kesehatan ketika mengawali karier sebagai jurnalis, Lawrence terbayang tentang pandemi. Menurutnya, pandemi adalah alasan yang paling logis untuk menghancurkan sebuah peradaban.

Pemikiran tersebut lalu membawanya pada pandemi flu Spanyol pada 1918 yang memakan korban hingga 50 juta jiwa di seluruh dunia. Flu tersebut lantas menginspirasi Lawrence untuk memunculkan virus 'fiktif' bernama Kongoli Flu di 'The End of October'.

Menariknya, Indonesia menjadi pilihan Lawrence sebagai tempat pertama kali virus itu ditemukan. Dalam imajinasinya, Kongoli Flu muncul di sebuah kamp pengungsian.

"Indonesia sering mempersekusi kaum homoseksual dan saya membayangkan di sana ada sebuah pusat penahanan di mana sejumlah pengidap HIV/AIDS dan sistem imun mereka dipertaruhkan. Dan di situasi seperti itu, muncul sebuah virus baru, seperti flu yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan tiba-tiba menular ke mana-mana dan mengancam populasi dunia," terang Lawrence yang mendidasikan buku tersebut bagi para tenaga medis COVID-19.

Di era modern seperti saat ini, dengan pergerakan miliaran manusianya yang sangat dinamis, seberapa cepat virus tersebut menjangkit? Berapa banyak korban yang berjatuhan? Bagaimana dampaknya pada ekonomi?

Pertanyaan tersebut yang coba dijawab oleh sang pahlawan di novel tersebut, yakni Henry Parsons. Ia diceritakan sebagai ahli mikrobiologi utusan organisasi kesehatan dunia WHO dan CDC (Centers for Disease Control and Prevention).

Situasi menjadi genting ketika supir Henry di Indonesia terinfeksi virus tersebut dan membawanya ke Mekkah saat menunaikan ibadah haji di mana jutaan jemaah berkumpul dari seluruh dunia. Kemungkinan akan adanya 'gelombang kedua' dari virus tersebut turut disinggung Lawrence di novelnya ini.Seandainya saja novel 'The End of October' hadir jauh-jauh hari lalu, mungkin kita sudah lebih siap menghadapi pandemi COVID-19 yang saat ini sudah menelan 216 ribu jiwa secara global.