Dunia siap menjalani new normal, hidup berdampingan dengan virus Corona, selama vaksin belum ditemukan. Salah satu bagian dari new normal itu adalah jaga jarak atau social distancing.
Seperti diketahui menjaga jarak merupakan upaya untuk melindungi diri sendir juga orang lain agar bisa menekan penyebaran COVID-19. Jarak aman yang direkomendasikan WHO adalah 1-2 meter.
Namun memastikan orang-orang jaga jarak aman bukan perkara mudah. Hanya sedikit yang tahu pasti, atau setidaknya sadar, seberapa jauh mereka harus social distancing ketika berada di tempat umum.
Pria asal Transylvania, Rumania, ini punya solusinya. Grigore Lup menciptakan sepatu kulit 'Pinokio' yang memanjang di bagian depannya.
Grigore yang berprofesi sebagai tukang reparasi sepatu membuat sepatu tersebut untuk membantu orang-orang jaga jarak sekaligus mendukung aturan social distancing. Panjang sepatu memang tidak sampai 1 meter, tapi setidaknya bisa membuat orang sadar agar mau mengambil posisi berjauhan satu sama lain.
Seperti dikutip dari Metro, sepatu ini diberi label ukuran 75 menurut penghitungan Eropa. Ketika dua orang sama-sama memakai sepatu berukuran 74 tersebut, ketika mereka berdiri berhadapan, maka jarak antara mereka bisa mencapai 1,5 meter.
"Saya melihat orang-orang berkerumun dan mengabaikan aturan jaga jarak jadi saya bilang ke diri sendiri mari kita buat sepatu entah untuk menghukum mereka atau yang benar-benar bisa dipakai. Mungkin dengan cara itu mereka akan menjaga jarak," tutur Grigore.
Dia mengaku ide ini datang dari pengalamannya yang pernah membuatkan sepatu khusus untuk aktor. Kala itu Grigore mendapat pesanan lima pasang sepatu dan mengerjakannya selama dua hari.
Pria 55 tahun ini sudah berprofesi sebagai tukang reparasi dan pembuat sepatu lebih dari tiga dekade. Dia memulai kariernya sejak usia 16 dan kini mengelola tokonya sendiri yang didirikan sejak 2001.
Kamu tertarik pakai sepatu 'Pinokio' buatan Grigore ini?
Viral! Pegawai Dipaksa Makan Cacing Mentah karena Gagal Capai Target
Setiap perusahaan pasti memiliki target penjualannya masing-masing. Biasanya jika penjualan yang dilakukan tidak mencapai target, maka pegawai di tim bagian penjualanlah yang akan disalahkan. Hal itu yang juga dilakukan oleh sebuah perusahaan di China. Namun hukuman yang diberikan oleh perusahaan itu dinilai terlalu berlebihan.
Seperti dikutip dari Daily Star, pegawai dari sebuah perusahaan China dipaksa untuk memakan cacing hidup sebagai hukuman karena tidak dapat mencapai target penjualan. Hal itu baru terungkap setelah video yang memperlihatkan kejadian tersebut menjadi viral di internet.
Dalam video terlihat para pegawai yang mengenakan rompi perusahaan sedang berdiri melingkar sambil menjalankan hukuman yang aneh. Para pegawai itu memegang cacing yang sedang menggeliat di atas selembar tisu. Salah satu pegawai kemudian terlihat memasukkan cacing itu ke dalam mulutnya lalu segera meminum banyak air, sementara pegawai lainnya masih berusaha menemukan keberanian untuk melakukan hal itu.
Pegawai yang merasa tidak sanggup melakukannya lalu dipaksa untuk membungkus cacing tersebut dengan tisu dan menelannya secara utuh. Dalam video tersebut juga dapat terdengar seorang pria yang mengatakan, "Kadang-kadang itu bisa meledak di mulutmu jika kamu menggigitnya."
Itulah mengapa pria tersebut lalu menyarankan para pegawai untuk membungkus cacing hidup tersebut dengan tisu dan memakannya. Video viral diduga direkam di kantor Bijie Sanhe Pinwei Decorating pada 25 Mei 2020.
Seorang sumber melaporkan video tersebut kepada pemerintah kota dan mengatakan bahwa ada beberapa pilihan lain yang bisa dilakukan oleh pegawai yang gagal mencapai target. Seperti, membayar denda sebesar Rp 892 ribu secara tunai, membersihkan toilet kantor selama 15 menit, menyediakan sarapan untuk seluruh pegawai kantor, atau memakan ikan Loach mentah.
Menurut penuturan dari sumber tersebut, biasanya para pegawai yang gagal mencapai target hanya mendapat hukuman berupa squat atau memakan telur mentah. Namun sejak bulan lalu, hukuman yang diberikan menjadi lebih berat.
Hingga saat ini, video tersebut masih diselidiki oleh Biro Peraturan Pasar Distrik Qixingguan. Hasil dari penyelidikan nantinya akan dipublikasikan oleh pemerintah di wilayah tersebut. Seorang asosiasi pengacara Bijie, Jiang Zhenxiang, mengatakan bahwa tindakan yang dilakukan oleh perusahaan tersebut telah melanggar hukum perburuhan di China.
https://nonton08.com/jukdo-surfing-diary/