Rabu, 02 September 2020

Lagi, Peneliti Temukan Bukti Penularan Corona Lewat Airborne

Peneliti kembali menemukan bukti virus Corona bisa menyebar lewat udara. Hal ini ditemukan pada penelusuran seorang pasien Corona di China.
Seorang pasien Corona yang duduk di bus berventilasi buruk menginfeksi banyak penumpang lainnya walau tidak banyak yang duduk di dekatnya.

Studi yang diterbitkan pada Selasa (1/9/2020) di JAMA Internal Medicine ini menyelidiki ancaman infeksi yang ditularkan melalui udara dengan mengamati penumpang yang melakukan perjalanan 50 menit ke acara Buddhis di kota Ningbo, China Timur, dengan menaiki dua bus pada Januari.

Peneliti percaya seorang penumpang yang jenis kelaminnya tidak teridentifikasi, kemungkinan besar pasien nol karena orang tersebut telah melakukan kontak dengan orang-orang dari Wuhan, episentrum virus Corona pertama.

Mereka kemudian memetakan di mana penumpang lain duduk dan menguji mereka untuk COVID-19. Ditemukan 23 dari 68 penumpang yang melakukan perjalanan bersama terinfeksi virus Corona. Hal yang jadi catatan adalah pasien nol ini bahkan menginfeksi orang di depan dan belakang bus padahal jarak mereka sudah dalam radius aman penularan yakni 1-2 meter yang memunculkan bukti kuat tentang adanya penularan lewat airborne.

Selain itu, penumpang yang sakit atau pasien nol itu juga belum menunjukkan gejala penyakit seperti batuk ketika rombongan melakukan perjalanan ke acara keagamaan. Para peneliti juga mencatat bahwa AC hanya mensirkulasikan ulang udara di dalam bus, yang kemungkinan berkontribusi pada penyebaran virus.

"Penyelidikan menunjukkan bahwa, dalam lingkungan tertutup dengan resirkulasi udara, Sars-CoV-2 adalah patogen yang sangat mudah ditularkan," tulis peneliti dikutip dari Strait Times.

"Penemuan kami tentang potensi penularan melalui udara memiliki arti penting bagi kesehatan masyarakat," sambungnya.

Studi mereka, yang mencakup diagram yang menunjukkan di mana setiap penumpang yang terinfeksi duduk, menambah bukti penularan melalui udara, termasuk penelitian tentang bagaimana virus menyebar di antara meja makan di sebuah restoran di kota Guangzhou, China selatan.

RI Jadi Negara dengan Jumlah Kematian akibat COVID-19 Tertinggi di ASEAN

 Indonesia masih melaporkan penambahan kasus baru Corona yang cukup tinggi setiap harinya. Bahkan Indonesia beberapa kali mencetak rekor infeksi baru Corona harian terbanyak yakni lebih dari 3 ribu orang dalam 24 jam.
Di ASEAN, Indonesia menjadi negara tertinggi dengan kasus kematian Corona terbanyak tercatat pada hari Selasa (1/9/2020) ada penambahan kasus kematian sebanyak 88 kasus sehingga total menjadi 7.505 pasien Corona yang meninggal dunia.

Angka ini terlihat cukup jauh jika dibandingkan dengan Filipina sebagai negara ke dua dengan kasus kematian Corona terbanyak se Asia Tenggara. Ada sebanyak 3.597 kasus kematian pasien Corona di Filipina per 1 September 2020.

Dikutip dari laman Worldometer, Rabu (2/9/2020), berikut rincian kasus Corona se-ASEAN:

1. Indonesia
Positif: 177,571
Meninggal: 7,505
Sembuh: 128,057

2. Filipina
Positif: 224.264
Meninggal: 3.597
Sembuh: 158.012

3. Malaysia
Positif: 9.352
Meninggal: 128
Sembuh: 9.075

4. Thailand
Positif: 3.417
Meninggal: 58
Sembuh: 3.274

5. Vietnam
Positif: 1.044
Meninggal: 34
Sembuh: 735

6. Singapura
Positif: 56.852
Meninggal: 27
Sembuh: 55.749

7. Brunei Darussalam
Positif: 144
Meninggal: 3
Sembuh: 139

8. Kamboja
Positif: 274
Meninggal: 0
Sembuh: 266

9. Laos
Positif: 22
Meninggal: 0
Sembuh: 21

10. Myanmar
Positif: 919
Meninggal: 6
Sembuh: 357

Bukan Batuk, Anak yang Terinfeksi Corona Lebih Banyak Alami Diare dan Muntah

Gejala umum virus Corona COVID-19 adalah demam tinggi, batuk persisten, hilangnya indra penciuman dan rasa. Tapi, sebuah penelitian baru menemukan gejala umum virus Corona pada anak-anak.
Dikutip dari laman Express, para peneliti dari Queen's University Belfast mengatakan virus Corona COVID-19 lebih mungkin membuat anak-anak sakit perut dan diare daripada batuk.

Penelitian yang dilakukan pada Mei 2020 sampai sekarang ini bertujuan untuk menilai jumlah anak yang pernah terinfeksi virus Corona COVID-19. Penelitian itu juga menemukan gejala infeksi Corona dan kemungkinan anak-anak memiliki antibodi yang bisa melawan virus atau tidak.

Lebih dari 1.000 anak dari Irlandia Utara, Inggris, Skotlandia dan Wales dites antibodi mereka dalam uji coba yang disebut seroprevalensi infeksi SARS-CoV-2 pada anak-anak sehat.

Antibodi mereka diukur melalui tes darah pada tahap awal. Kemudian, tes lebih lanjut dilakukan pada 2 bulan dan 6 bulan. Para peneliti tersebut mengatakan mereka telah menemukan hasilnya setelah gelombang pertama pandemi virus Corona COVID-19. Hasilnya, mereka menemukan 7 persen anak dinyatakan positif memiliki antibodi, yang menunjukkan infeksi virus corona COVID-19 sebelumnya.

"Separuh dari anak-anak dengan virus Corona COVID-19 melaporkan tidak ada gejala. Gejala gastrointestinal, seperti diare dan muntah juga lebih umum terjadi pada anak-anak daripada batuk dan hilangnya indera penciuman," kata peneliti.

Penemuan ini juga menunjukkan bahwa anak-anak di bawah usia 10 tahun memiliki kemungkinan yang sama untuk untuk memiliki bukti infeksi sebelumnya, seperti anak-anak yang lebih tua. Selain itu, anak-anak yang terinfeksi virus Corona tanpa gejala sama mungkinnya untuk mengembangkan antibodi seperti anak-anak yang bergejala.

"Setelah gelombang pertama pandemi di Inggris, kami telah mengetahui bahwa setengah dari anak-anak yang berpartisipasi dalam penelitian ini tidak menunjukkan gejala dengan infeksi virus Corona. Sedangkan mereka yang memiliki gejala biasanya tidak mengalami batuk," kata Dr Tom Waterfield, seorang peneliti dari Wellcome-Wolfson Institute for Experimental Medicine di Queen's University Belfast.

Studi ini telah menunjukkan bahwa perlu untuk mempertimbangkan pengujian bagi anak-anak yang terinfeksi virus Corona COVID-19. Temuan penting ini bisa dieksplorasi lebih lanjut, karena penelitian ini terus memantau penularan komunitas pada anak-anak untuk membantu mengatasi penyebaran virus Corona COVID-19.

Lagi, Peneliti Temukan Bukti Penularan Corona Lewat Airborne

Peneliti kembali menemukan bukti virus Corona bisa menyebar lewat udara. Hal ini ditemukan pada penelusuran seorang pasien Corona di China.
Seorang pasien Corona yang duduk di bus berventilasi buruk menginfeksi banyak penumpang lainnya walau tidak banyak yang duduk di dekatnya.

Studi yang diterbitkan pada Selasa (1/9/2020) di JAMA Internal Medicine ini menyelidiki ancaman infeksi yang ditularkan melalui udara dengan mengamati penumpang yang melakukan perjalanan 50 menit ke acara Buddhis di kota Ningbo, China Timur, dengan menaiki dua bus pada Januari.

Peneliti percaya seorang penumpang yang jenis kelaminnya tidak teridentifikasi, kemungkinan besar pasien nol karena orang tersebut telah melakukan kontak dengan orang-orang dari Wuhan, episentrum virus Corona pertama.

Mereka kemudian memetakan di mana penumpang lain duduk dan menguji mereka untuk COVID-19. Ditemukan 23 dari 68 penumpang yang melakukan perjalanan bersama terinfeksi virus Corona. Hal yang jadi catatan adalah pasien nol ini bahkan menginfeksi orang di depan dan belakang bus padahal jarak mereka sudah dalam radius aman penularan yakni 1-2 meter yang memunculkan bukti kuat tentang adanya penularan lewat airborne.

Selain itu, penumpang yang sakit atau pasien nol itu juga belum menunjukkan gejala penyakit seperti batuk ketika rombongan melakukan perjalanan ke acara keagamaan. Para peneliti juga mencatat bahwa AC hanya mensirkulasikan ulang udara di dalam bus, yang kemungkinan berkontribusi pada penyebaran virus.

"Penyelidikan menunjukkan bahwa, dalam lingkungan tertutup dengan resirkulasi udara, Sars-CoV-2 adalah patogen yang sangat mudah ditularkan," tulis peneliti dikutip dari Strait Times.

"Penemuan kami tentang potensi penularan melalui udara memiliki arti penting bagi kesehatan masyarakat," sambungnya.

Studi mereka, yang mencakup diagram yang menunjukkan di mana setiap penumpang yang terinfeksi duduk, menambah bukti penularan melalui udara, termasuk penelitian tentang bagaimana virus menyebar di antara meja makan di sebuah restoran di kota Guangzhou, China selatan.
https://cinemamovie28.com/shi-shen-dai-yan-2/