Rabu, 02 September 2020

Dahak Berwarna Seperti Ini, Bisa Jadi Indikasi Terinfeksi Corona

Lendir atau dahak adalah cairan yang diproduksi paru-paru seseorang yang rusak atau sedang sakit. Berbeda dengan air liur, dahak ini jauh lebih kental.
Lendir ini diproduksi tubuh untuk membantu menjaga kelembaban jaringan yang ada pada saluran pernapasan. Ini bisa menangkap partikel kecil atau benda asing lain yang bisa mengancam kesehatan untuk dibuang keluar.

Namun, berbeda dengan orang yang sedang batuk biasa, dahak atau lendir dari orang yang terinfeksi virus Corona ternyata memiliki warna yang berbeda. Hal ini bisa membantu untuk membedakan mana penyakit infeksi akibat COVID-19 atau bukan.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dari banyaknya gejala virus Corona yang ada, salah satu yang harus diperhatikan adalah produksi dahak. Produksi dahak sering menjadi berlebihan saat paru-paru mengalami infeksi yang berfungsi untuk membuat partikel asing penyebab infeksi keluar dari tubuh.

Dikutip dari Express.co.uk, jika dahak yang dikeluarkan warnanya akan berbeda, lebih kental dan baunya tak sedap, itu bisa jadi salah satu indikasi kamu terinfeksi virus Corona.

Dari warnanya dahak itu tidak bening, melainkan bisa berwarna hijau, kental, dan berbau. Jika warnanya berubah semakin gelap, bisa saja itu menjadi pertanda bahwa infeksi virus sudah semakin parah.

Warnanya juga akan kembali berubah semakin bening, secara bertahap bersamaan dengan infeksi yang semakin membaik.

Selain berkaitan dengan gejala COVID-19, produksi lendir yang berlebih juga bisa terjadi karena faktor-faktor tertentu, seperti pada perokok, penderita asma, dan mereka yang mengalami fibrosis kistik.

Bukan Batuk, Anak yang Terinfeksi Corona Lebih Banyak Alami Diare dan Muntah

Gejala umum virus Corona COVID-19 adalah demam tinggi, batuk persisten, hilangnya indra penciuman dan rasa. Tapi, sebuah penelitian baru menemukan gejala umum virus Corona pada anak-anak.
Dikutip dari laman Express, para peneliti dari Queen's University Belfast mengatakan virus Corona COVID-19 lebih mungkin membuat anak-anak sakit perut dan diare daripada batuk.

Penelitian yang dilakukan pada Mei 2020 sampai sekarang ini bertujuan untuk menilai jumlah anak yang pernah terinfeksi virus Corona COVID-19. Penelitian itu juga menemukan gejala infeksi Corona dan kemungkinan anak-anak memiliki antibodi yang bisa melawan virus atau tidak.

Lebih dari 1.000 anak dari Irlandia Utara, Inggris, Skotlandia dan Wales dites antibodi mereka dalam uji coba yang disebut seroprevalensi infeksi SARS-CoV-2 pada anak-anak sehat.

Antibodi mereka diukur melalui tes darah pada tahap awal. Kemudian, tes lebih lanjut dilakukan pada 2 bulan dan 6 bulan. Para peneliti tersebut mengatakan mereka telah menemukan hasilnya setelah gelombang pertama pandemi virus Corona COVID-19. Hasilnya, mereka menemukan 7 persen anak dinyatakan positif memiliki antibodi, yang menunjukkan infeksi virus corona COVID-19 sebelumnya.

"Separuh dari anak-anak dengan virus Corona COVID-19 melaporkan tidak ada gejala. Gejala gastrointestinal, seperti diare dan muntah juga lebih umum terjadi pada anak-anak daripada batuk dan hilangnya indera penciuman," kata peneliti.

Penemuan ini juga menunjukkan bahwa anak-anak di bawah usia 10 tahun memiliki kemungkinan yang sama untuk untuk memiliki bukti infeksi sebelumnya, seperti anak-anak yang lebih tua. Selain itu, anak-anak yang terinfeksi virus Corona tanpa gejala sama mungkinnya untuk mengembangkan antibodi seperti anak-anak yang bergejala.
https://cinemamovie28.com/london-love-story/

Kasus Corona Rekor Terus, Masih Berani ke Bioskop?

Munculnya kasus baru COVID-19 di Indonesia belum menunjukkan tanda-tanda landai. Bahkan dalam beberapa hari terakhir, kasus positif Corona di sejumlah wilayah tembus rekor.
Di sisi lain, pusat keramaian di sejumlah tempat justru diwacanakan untuk dibuka lagi. Di mana yang paling santer adalah pembukaan bioskop yang disebut-sebut bakal dibuka pada 10 September mendatang.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, masihkah Anda berani ke bioskop di tengah rentetan rekor kasus Corona yang menghantui?

Dalam catatan detikcom, Satgas Penanganan COVID-19 pada 31 Agustus 2020 melaporkan 2.743 konfirmasi kasus baru Corona. DKI Jakarta jadi provinsi dengan penambahan terbanyak, yaitu 1.049 kasus.

Laporan ini membuat DKI Jakarta sudah dua hari berturut-turut menyentuh angka di atas 1.000 kasus baru Corona per hari. Hari sebelumnya, pada 30 Agustus 2020, menjadi rekor tertinggi penambahan kasus Corona di DKI dengan angka mencapai 1.094 versi Satgas COVID-19 dan 1.114 versi Pemprov DKI Jakarta.

Lonjakan kasus Corona ini disebut-sebut Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Dwi Oktavia, kemungkinan karena kluster long weekend atau libur panjang. Pada rentang waktu 16-20 Agustus ada libur panjang yang tampaknya dimanfaatkan banyak warga untuk bepergian.

Hal ini diketahuinya dengan menghitung mundur tanggal pengambilan spesimen tes COVID-19 dikurangi masa inkubasi virus Corona.

Dalam kesempatan terpisah, Ketua Satgas COVID-19 Doni Monardo menuturkan, rencana pembukaan bioskop masih dalam tahap penjajakan alias belum ketuk palu.

"Sekarang kasusnya (kasus baru Corona-red.) sudah di atas 1.000 terus, jadi siapa yang mau nonton bioskop?" ujarnya saat berdialog dengan jajaran Transmedia, Selasa (2/9/2020) malam.

Satgas COVID-19 mengatakan sudah banting tulang untuk memberikan pendidikan ke masyarakat soal bagaimana mencegah penyebaran virus ini dengan cara mengubah perilaku. Yakni dengan membiasakan mencuci tangan, memakai masker serta menjauhi keramaian.

"Jadi untuk pembukaan bioskop ini ada prakondisi, kajian dan tinjauan pakar. Koordinasi pusat dan daerah juga kita jaga, biar tak saling menyalahkan," tutup Doni.

Nah, sekarang cobalah untuk jujur dan tanyakan ke diri Anda, dengan kondisi sekarang ini masihkah berani nonton ke bioskop?

Dahak Berwarna Seperti Ini, Bisa Jadi Indikasi Terinfeksi Corona

Lendir atau dahak adalah cairan yang diproduksi paru-paru seseorang yang rusak atau sedang sakit. Berbeda dengan air liur, dahak ini jauh lebih kental.
Lendir ini diproduksi tubuh untuk membantu menjaga kelembaban jaringan yang ada pada saluran pernapasan. Ini bisa menangkap partikel kecil atau benda asing lain yang bisa mengancam kesehatan untuk dibuang keluar.

Namun, berbeda dengan orang yang sedang batuk biasa, dahak atau lendir dari orang yang terinfeksi virus Corona ternyata memiliki warna yang berbeda. Hal ini bisa membantu untuk membedakan mana penyakit infeksi akibat COVID-19 atau bukan.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dari banyaknya gejala virus Corona yang ada, salah satu yang harus diperhatikan adalah produksi dahak. Produksi dahak sering menjadi berlebihan saat paru-paru mengalami infeksi yang berfungsi untuk membuat partikel asing penyebab infeksi keluar dari tubuh.

Dikutip dari Express.co.uk, jika dahak yang dikeluarkan warnanya akan berbeda, lebih kental dan baunya tak sedap, itu bisa jadi salah satu indikasi kamu terinfeksi virus Corona.

Dari warnanya dahak itu tidak bening, melainkan bisa berwarna hijau, kental, dan berbau. Jika warnanya berubah semakin gelap, bisa saja itu menjadi pertanda bahwa infeksi virus sudah semakin parah.

Warnanya juga akan kembali berubah semakin bening, secara bertahap bersamaan dengan infeksi yang semakin membaik.

Selain berkaitan dengan gejala COVID-19, produksi lendir yang berlebih juga bisa terjadi karena faktor-faktor tertentu, seperti pada perokok, penderita asma, dan mereka yang mengalami fibrosis kistik.
https://cinemamovie28.com/millae-good-brother-2/