Rabu, 19 Agustus 2020

Cek SIMAK UI dan Lolos FKM UI, Sudah Lulus Jadi Apa?

Selama pandemi virus Corona ini tentu tak asing dengan sosok Ketua Tim Satgas COVID-19 Prof Wiku Bakti Bawono Adisasmito atau kerap disapa Prof Wiku. Dia adalah guru besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), salah satu jurusan pendidikan pilihan pada SIMAK UI 2020.
Bagi sudah cek SIMAK UI 2020 dan lolos FKM UI, tentu bisa menjadi ahli kebijakan kesehatan seperti Prof Wiku. Pilihan lainnya adalah berkarir di institusi kesehatan profit atau non profit, atau di perusahaan yang menerapkan Kesehatan dan Keselamatan Kerja dan Keselamatan Lingkungan (K3KL).

Dikutip dari situs SIMAK UI, kompetisi masuk FKM UI mencapai 1,33 persen. FKM UI menerima 75 dari 4.218 peserta yang mendaftar lewat SIMAK UI 2019. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia masuk dalam kelompok ujian IPA. Lokasi kampus FKM UI berada di Depok, Jawa Barat, tidak jauh dari stasiun Pondok Cina.

Syarat masuk FKM UI tentunya harus lulus ujian masuk universitas, salah satunya SIMAK UI 2020. Setelah lulus, peserta wajib melakukan registrasi sesuai syarat, jadwal, dan ketentuan lain yang bisa dilihat di situs UI, Instagram dan Twitter di @univ_indonesia. Peserta juga harus membayar sesuai ketentuan yang berlaku.

Biaya kuliah di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia tercantum dalam Keputusan Rektor Universitas Indonesia nomor 513/SK/R/UI/2020. Biaya kuliah untuk S1 reguler ditetapkan dalam Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang punya dua pilihan. Pilihan tarif UKT berdasarkan BOP Berkeadilan (BOP-B) dan BOP Pilihan (BOP-P). Kepanjangan BOP adalah Biaya Operasional Pendidikan.

Kisaran BOP-B Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia adalah Rp 100 ribu hingga Rp 7,5 juta. Sejak 2013, program S1 reguler tidak menerapkan uang pangkal karena telah disubsidi lewat Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN). Dengan sistem UKT, biaya satuan pendidikan ditetapkan per program studi dan bukan lagi per SKS.

Lulusan FKM UI diharapkan mampu berkomunikasi, merencanakan dan mengelola sumber dana, serta menentukan pengaruh sosial budaya. Kemampuan lain adalah melakukan pemberdayaan masyarakat, memimpin, dan berpikir dengan sistem.

Alasan Orang Usia 20-40 Tahun Disebut Jadi Pendorong Pandemi Corona

 Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada hari Selasa (18/8/2020), menyebut ada kekhawatiran pandemi virus Corona COVID-19 semakin parah karena didorong oleh orang-orang di kelompok usia 20-40 tahun. WHO menyebut ini karena sebagian besar orang tidak sadar dirinya terinfeksi.
Direktur Regional WHO untuk wilayah Pasifik Barat, Takeshi Kasai, menyebut ada peningkatan kasus infeksi pada kelompok orang berusia 20-40 tahun secara global. Dampaknya kasus-kasus yang parah hingga kematian juga ikut meningkat, khususnya pada kelompok rentan, seperti lansia dan orang dengan penyakit penyerta.

"Ada perubahan epidemi," kata Takeshi seperti dikutip dari Reuters, Rabu (19/8/2020).

"Orang-orang berusia 20-an, 30-an, dan 40-an semakin mendorong penyebaran virus. Kebanyakan tidak sadar mereka terinfeksi," lanjutnya.

Kasus infeksi di kelompok usia 20-40 tahun meningkat kemungkinan karena mereka yang aktif berkegiatan di tengah masyarakat, menempatkan diri pada risiko tertular di perjalanan atau di tempat bekerja. Hanya saja dengan kondisi fisik yang bugar, sebagian besar orang pada kelompok ini bisa tidak memiliki atau minim gejala.

Meski tidak memiliki keluhan, orang-orang yang minim gejala di dalam tubuhnya bisa tetap tersimpan virus penyebab COVID-19. Ketika mereka berinteraksi tanpa protokol yang memadai, maka virus akan menginfeksi orang lain.

"Jadinya ini meningkatkan risiko penularan kasus pada kelompok yang lebih rentan," ungkap Takeshi.
https://nonton08.com/lupin-the-third-alcatraz-connection/

Studi: Ini Beda Gejala Gangguan Indra Pencium dan Perasa pada COVID-19 dan Flu

 Salah satu gejala Corona adalah gangguan pada indra penciuman dan perasa. Namun, hilangnya atau terganggunya indra penciuman dan perasa pada pasien Corona berbeda dengan pasien yang mengalami demam atau flu parah. Peneliti Eropa mempelajari hal tersebut dengan melakukan penelitian pada pengalaman pasien.
Bedanya, pasien COVID-19 mengalami gejala ini secara tiba-tiba dan kondisinya lebih parah. Hidung mereka biasanya tidak tersumbat atau meler seperti pasien yang mengidap flu.

Para ahli menduga hal ini terjadi karena virus Corona COVID-19 menyerang sel saraf yang terlibat langsung dengan sensasi penciuman dan rasa. Dikutip dari BBC, hingga saat ini gejala utama Corona yang sering ditemui adalah seperti berikut:

- Suhu tinggi
- Tiba-tiba batuk terus menerus
- Kehilangan atau gangguan pada indra penciuman atau perasa

Peneliti utama Prof Carl Philpott, dari University of East Anglia, melakukan tes penciuman dan rasa pada 30 relawan. Ada 10 pasien yang mengidap COVID-19, sementara 10 lainnya mengidap flu yang lumayan berat, 10 orang lain dalam kondisi sehat tanpa gejala pilek atau flu.

Hasil penelitian menunjukkan pasien COVID-19 yang mengalami gejala ini kurang bisa mengenali bau, dan mereka sama sekali tidak bisa membedakan rasa pahit atau manis.

"Tampaknya ada ciri-ciri pembeda yang membedakan virus corona dari virus pernapasan lainnya," ujar Prof Philpott.

"Ini sangat menarik karena itu berarti tes bau dan rasa dapat digunakan untuk membedakan antara pasien COVID-19 dan orang dengan pilek atau flu biasa," lanjutnya.

Dia mengatakan, orang bisa melakukan tes bau dan rasa sendiri di rumah menggunakan produk seperti kopi, bawang putih, jeruk, atau lemon dan gula. Namun, dia menekankan bahwa tes swab masih menjadi cara mendeteksi yang paling akurat.

"Indra penciuman dan rasa kembali dalam beberapa minggu pada kebanyakan orang yang pulih dari virus Corona," tambahnya.

Cek SIMAK UI dan Lolos FKM UI, Sudah Lulus Jadi Apa?

Selama pandemi virus Corona ini tentu tak asing dengan sosok Ketua Tim Satgas COVID-19 Prof Wiku Bakti Bawono Adisasmito atau kerap disapa Prof Wiku. Dia adalah guru besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), salah satu jurusan pendidikan pilihan pada SIMAK UI 2020.
Bagi sudah cek SIMAK UI 2020 dan lolos FKM UI, tentu bisa menjadi ahli kebijakan kesehatan seperti Prof Wiku. Pilihan lainnya adalah berkarir di institusi kesehatan profit atau non profit, atau di perusahaan yang menerapkan Kesehatan dan Keselamatan Kerja dan Keselamatan Lingkungan (K3KL).

Dikutip dari situs SIMAK UI, kompetisi masuk FKM UI mencapai 1,33 persen. FKM UI menerima 75 dari 4.218 peserta yang mendaftar lewat SIMAK UI 2019. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia masuk dalam kelompok ujian IPA. Lokasi kampus FKM UI berada di Depok, Jawa Barat, tidak jauh dari stasiun Pondok Cina.

Syarat masuk FKM UI tentunya harus lulus ujian masuk universitas, salah satunya SIMAK UI 2020. Setelah lulus, peserta wajib melakukan registrasi sesuai syarat, jadwal, dan ketentuan lain yang bisa dilihat di situs UI, Instagram dan Twitter di @univ_indonesia. Peserta juga harus membayar sesuai ketentuan yang berlaku.

Biaya kuliah di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia tercantum dalam Keputusan Rektor Universitas Indonesia nomor 513/SK/R/UI/2020. Biaya kuliah untuk S1 reguler ditetapkan dalam Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang punya dua pilihan. Pilihan tarif UKT berdasarkan BOP Berkeadilan (BOP-B) dan BOP Pilihan (BOP-P). Kepanjangan BOP adalah Biaya Operasional Pendidikan.

Kisaran BOP-B Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia adalah Rp 100 ribu hingga Rp 7,5 juta. Sejak 2013, program S1 reguler tidak menerapkan uang pangkal karena telah disubsidi lewat Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN). Dengan sistem UKT, biaya satuan pendidikan ditetapkan per program studi dan bukan lagi per SKS.

Lulusan FKM UI diharapkan mampu berkomunikasi, merencanakan dan mengelola sumber dana, serta menentukan pengaruh sosial budaya. Kemampuan lain adalah melakukan pemberdayaan masyarakat, memimpin, dan berpikir dengan sistem.
https://nonton08.com/lupin-the-third-the-elusive-fog/