Senin, 17 Agustus 2020

WHO Tetapkan COVID-19 Jadi Nama Resmi Virus Corona 'Misterius' dari Wuhan

 Sempat menyandang nama 2019-nCoV alias Novel Coronavirus, penyakit misterous mirip pneumonia akibat virus corona yang mewabah di Wuhan itu kini punya nama resmi: COVID-19.
Apa artinya COVID-19? 'COVI' berasal dari singkatan coronanirus atau virus corona, sedangkan 'D' berarti Disease. Angka 19 mewakili 2019, karena virus ini pertama kali teridentifikasi pada Desember 2019.

Juru bicara organisasi kesehatan dunia WHO, dikutip dari npr.org, menjelaskan nama ini akan digunakan untuk seluruh spektrum kasus. Mulai dari yang ringan, sedang, hingga yang berat.

Pada Januari, penyakit 'misterius' mirip pneumonia yang mewabah di Wuhan sempat diberi nama sementara 2019-nCoV atau novel coronavirus. Novel berarti baru, dan tidak bisa dipakai sebagai nama resmi karena di masa yang akan datang akan ada virus yang lebih baru lagi.

Selama belum punya nama resmi, virus corona baru dari Wuhan punya berbagai macam sebutan. Mulai dari flu Wuhan, virus Wuhan, hingga 'virus corona' saja.

Sebutan yang terakhir kerap menyesatkan karena virus corona atau coronavirus merupakan keluarga virus. Di dalamnya tercakup SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome), MERS (Middle East Respiratory Syndrome), hingga virus flu yang dikenal dalam kehidupan sehari-hari.

Mengenal Antibiotik dan Golongannya, Jangan Sampai Keliru!

 Antibiotik adalah kelompok obat yang digunakan untuk menghambat pertumbuhan atau menghancurkan bakteri. Cara kerja antibiotik ini membunuh dan menghentikan tumbuhnya bakteri di dalam tubuh.
Biasanya, Antibiotik bisa didapatkan dengan resep dari dokter. Dokter akan menyesuaikan dosis dengan kondisi pasien, memberitahukan hal-hal yang harus diperhatikan sebelum dan saat menggunakan obat, serta efek samping yang dapat terjadi setelah menggunakan antibiotik.

Namun, ada beberapa antibiotik yang tidak bisa digunakan selama orang tersebut sedang kondisi hamil dan menyusui, sedang dalam pengobatan lain dan memilkim alergi terhadap antibiotik.

Antibiotik memiliki banyak golongan dan berfungsi untuk berbagai kondisi. Berikut golongan-golongan antibiotik dari berbagai sumber:

1. Penisilin

Penisilin digunakan untuk kondisi yang terkena infeksi bakteri, seperti infeksi streptococcus, meningitis, gonore, faringitis, dan untuk pencegahan endocarditis. Antibiotik ini juga baik digunakan untuk penederita gangguan ginjal disertai dengan anjuran dan pengawasan dokter.

Penisilin tersedia dalam berbagai bentuk, seperti kaplet, sirop kering, dan suntikan. Masing-masing bentuk obat dapat digunakan untuk kondisi yang berbeda. Jenis penisilin juga berbeda, seperti Amoxicillin, Ampicillin, Oxacillin, dan Penicillin G.

2. Sefalosforin
Antibitoik jenis ini bisa digunakan untuk pengidap infeksi tulang, otitis media, infeksi kulit, dan infeksi saluran kemih. Sesuai dengan anjuran dan takaran yang dokter berikan.

Sefalosforin memiliki efek samping, seperti sakit kepala, nyeri pada bagian dada bahkan syok. Sefaloaforin memiliki banyak jenis, seperti Cefadroxil, Cefuroxime, Cefixime, Cefotaxim, Cefotiam, Cefepime, dan Ceftarolin.

3. Aminoglikosida
Aminoglikosida adalah golongan antibiotik yang digunakan untuk mengatasi infeksi yang disebabkan bakteri aerob gram-negatif. Antibiotik ini cukup efektif dalam melawan bakteri seperti Mycobacterium Tuberculosis dan Staphylococcus. Pemakaian obat ini dapat dikombinasikan dengan antibiotik lainnya.

Cara kerja antibiotik ini adalah untuk menghambat sintesis protein pada bakteri, sehinga bakteri tidak bisa bertumbuh kembang. Cara mengonsumsi obat ini harus dengan anjuran dan pengawasan dokter, jika tidak akan menimbulkakan efek samping berupa gangguan kesadaran. Jenisnya pun beragam, antara lain Paromomycin, Tobramycin, Gentamicin, Amikacin, Kanamycin, dan Neomycin.
https://nonton08.com/bounty-hunters/

Beda Sikap WHO dan Guru Besar UI Soal Kemampuan RI Deteksi Virus Corona

Organisasi Kesehatan Dunia WHO angkat bicara soal penilaiannya terhadap kemampuan Indonesia mendeteksi virus corona Wuhan 2019-nCoV. Ini terkait dengan tidak adanya kasus hingga saat ini, ketika korban jiwa di seluruh dunia telah tembus angka 1.000.
Faktanya, data terbaru dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan menunjukkan sebanyak 64 uji spesimen yang masuk, 62 di antaranya sudah terkonfirmasi negatif.

Dr Vinod Kumar, yang merupakan salah satu perwakilan WHO baru-baru ikut meninjau laboratorium, tempat menguji spesimen virus corona di Balitbangkes. Bagaimana penilaiannya soal kemampuan untuk mendeteksi novel coronavirus?

"Jadi kan hari ini kalian sudah mendengar apa yang dijelaskan Bu Vivi (Kepala Pusat Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan, Dr dr Vivi Setyawaty, M Biomed), dia sudah menjelaskan proses, dan prosedur uji spesimen seperti apa, dan hari ini kita konfirmasi kalau Indonesia sudah bisa mendeteksi novel coronavirus, labnya juga sudah kompeten," jelas Dr Vinod Kumar, Medical Officer di WHO, saat ditemui di Gedung Pelayanan Publik Balitbangkes, Jakarta Pusat, Selasa (11/2/2020).

Namun Dr Vinod mengimbau Indonesia untuk tetap waspada dalam menangani virus corona 2019-nCoV ini. Meski alat deteksi di Indonesia kini sudah mampu mendeteksi langsung novel coronavirus, persoalan mengapa 2019-nCoV belum masuk Indonesia masih menjadi tanda tanya sebagian orang.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan dr Anung Sugihantono, mengatakan kemungkinan virus corona belum masuk Indonesia bisa jadi karena imunitas. Hal ini didukung oleh kabar terkait 78 WNI yang ada di kapal pesiar Jepang Diamond Princess yang dikonfirmasi negatif 2019-nCoV.

"Ini mungkin ya, karena ilmiahnya masih harus dibuktikan. Mungkin memang kita mempunyai kekebalan tertentu pada penyakit tertentu. Imunitas kita berbeda pada penyakit tertentu," katanya.

"Jadi maksud saya mari kita berpikir secara rasional. Ini ada di dalam satu kapal loh. Kalau WNI kita yang ada di Wuhan itu masih satu provinsi luas banget. Tapi di dalam satu kapal, seminggu di situ, sudah ada yang sakit di situ, kalau ngomong (penularan melalui) airbone kira-kira sakit semua gak? Kalau ngomong droplet ini ada yang office boy, ada waitress, mestinya melayani ke kamar (tertular). Masih banyak yang harus kita pelajari, mesti bijak lah," tegasnya.

Sementara itu Guru besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKMUI), Prof dr Ascobat Gani, MPH, DrPH, mengatakan bahwa Indonesia sebenarnya siap dalam menangani wabah virus corona. Namun ia memberi catatan soal surveilans atau pengumpulan data.

"Secara teknologi dan keilmuwan kita mampu. Tapi secara kapasitas barangkali kita perlu lihat ya, apalagi pintu masuknya sangat banyak," kata Prof Ascobat, pada Selasa (11/2/2020).

Menurutnya, kendala yang masih terjadi di Indonesia adalah surveilans atau pengumpulan data kesehatan yang masih kurang memadai. Hal ini disebabkan oleh wilayah Indonesia yang sangat luas.

"SDM-nya harus kita latih dan tidak mudah melatih sekian banyak orang, kemudian uang dan masalah kita banyak, nggak hanya virus corona," pungkasnya.
https://nonton08.com/batman-vs-teenage-mutant-ninja-turtles/