Sabtu, 15 Agustus 2020

Dalam 10 Tahun, Jumlah Perokok Pemula di Indonesia Naik 240 Persen!

 Hingga saat ini rokok masih menjadi permasalahan di Indonesia. Alih-alih berkurang, justru jumlah perokok pemula terus meningkat setiap tahunnya.
Ketua badan khusus pengendalian tembakau Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat (IAKMI), dr Widyastuti Soerojo, MSC, mengatakan bahwa dalam satu dekade terakhir, jumlah perokok pemula meningkat hingga 240 persen.

"Dalam satu dekade terakhir peningkatannya 240 persen, dari 9,6 persen tahun 2007 menjadi 23,1 persen tahun 2018. Jadi dalam 11 tahun itu peningkatannya 240 persen pada usia SD, SMP 10-14 tahun. Usia yang lebih tua 15-19 naiknya 140 persen," kata dr Widyastuti, pada Rabu (12/2/2020).

Selain perokok pemula, perokok usia anak juga diyakini mengalami peningkatan. Pada perokok usia anak, penyebabnya berbagai macam, salah satunya adalah kebiasaan anak yang suka meniru perilaku orang terdekatnya. Tentu hal ini bisa terjadi di mana saja, seperti di rumah, angkutan umum, bahkan di sekolah.

"Anak adalah peniru terbaik. Dengan melihat orang dewasa merokok, tertanam dalam benaknya bahwa merokok seolah-olah kegiatan yang biasa dalam kehidupan sehari-hari," ucap Lisda Sundari, ketua Yayasan Lentera Anak, dalam kesempatan yang sama.

"Sehingga bila orang dewasa bisa melakukan itu, ia pun ingin juga melakukannya," pungkasnya.

Catatan: Artikel ini mengalami pemutakhiran data sesuai penjelasan ulang oleh narasumber.

Cek Kadar Kolesterol di Usia 20-an Bisa Cegah Risiko Jantung

 Penyakit jantung adalah salah satu penyakit mematikan yang bisa saja menyerang seseorang secara mendadak. Salah satu cara untuk mencegah penyakit mematikan tersebut adalah dengan memeriksa kadar kolesterol secara rutin.
Dilansir dari medicalnewstoday, sebuah penelitian menemukan adanya hubungan antara kadar kolesterol ketika seseorang memasuki masa dewasa muda atau jenjang umur 20 hingga 35 dengan risiko kardiovaskular di kemudian hari. Hasilnya pun cukup mengejutkan, lebih dari 12% orang dewasa di AS yang berusia 20 tahun ke atas memiliki kadar kolesterol total di atas 240 miligram per desiliter (mg/dl).

Head of Medical Kalbe Nutritionals dr Muliaman Mansyur mengatakan kolesterol memang masih dibutuhkan terutama pada saat anak. Hal ini diperlukan untuk pembentukan vitamin D, tulang, otak dan pembentukan hormon. Namun, pada saat dewasa apabila diberikan dengan berlebihan akan sangat berbahaya karena bisa tertimbun di sepanjang dinding pembuluh darah arteri sebagai plak, sehingga mempersempit dan menghambat aliran darah.

"Akibatnya, banyak bagian tubuh yang kekurangan pasokan darah sehingga berisiko menimbulkan masalah kesehatan serius, seperti serangan jantung atau stroke. Tentunya ini bukan kejadian sesaat setelah makan, kolesterol tinggi perlu proses ada yang terjadi lebih awal saat muda dan sering juga terjadi saat dewasa," ujar dr Muliaman baru-baru ini kepada pihak detikHealth.

Dirinya juga mengatakan bahwa tingkat kolesterol yang aman itu berada di tingkat 200 mg. Memeriksakan kadar kolesterol ada baiknya untuk dilakukan sedari muda untuk menghindari potensi penyakit jantung.

"Kita boleh saja mengecek kadar kolesterol saat muda terutama pada kondisi remaja yang obesitas dan pola makan yang tidak sehat, dengan rutin mengecek kadar kolesterol sedari muda tentu kita bisa cegah salah satu pencetus serangan jantung. Cek juga kadar kolesterol secara rutin kalau sudah di atas 40 tahun boleh 1-2 kali dalam setahun, kalau memang kolesterolnya di atas 200 mg," imbuh dr Muliaman.

Lebih lanjut, dr Muliaman memberikan tips untuk menurunkan kadar kolesterol, selain melakukan pemeriksaan secara rutin 1 sekali setahun atau 2 sampai 3 kali setahun bagi yang mempunyai riwayat kolesterol tinggi. Caranya dengan menjaga pola hidup sehat dan menghindari makan penyebab kolesterol.
https://cinemamovie28.com/bite/

Gara-gara 'Prank' Virus Corona, Blogger Rusia Ini Terancam 5 Tahun Penjara

 Aksi prank virus corona atau COVID-19 yang sempat dilakukan seorang blogger Rusia membuat ia terancam terkena hukuman 5 tahun penjara. Aksi pranknya ini membuat panik banyak penumpang kereta bawah tanah di Moscow.
Awalnya, ada seorang pria muda dengan pakaian olahraga hitam mengenakan masker wajah. Pria yang belakangan diketahui salah satu teman blogger ini berjalan di sepanjang kereta bawah tanah sebelum tiba-tiba ia jatuh dan kejang-kejang seperti sedang kesakitan.

Melihat kejadian tersebut, beberapa penumpang kereta bergegas untuk membantu, namun kemudian tiba-tiba ia melarikan diri sambil berteriak "Coronavirus! Coronavirus!"

Teriakannya membuat penumpang lain panik dan bergegas keluar dari kereta bawah tanah begitu berhenti di salah satu stasiun. Aksi pranknya ini direkam dan disebarkan oleh blogger Karomat Dzharaborov, dan teman-temannya.

Rekaman video prank yang diunggah secara online seminggu lalu ini diketahui oleh banyak orang, termasuk polisi. Setelah ditindak lebih lanjut melalui jalur hukum, aksinya ini dikenakan ancaman hukuman maksimal 5 tahun penjara.

Meski begitu, pengacara blogger mengatakan kliennya tidak mengira jika rekaman aksi pranknya berakhir seperti ini, karena aksinya tersebut sebenarnya bukan hanya semata-mata 'lelucon' saja.

"Tujuannya adalah untuk menarik perhatian publik tentang kurangnya masker wajah untuk masalah virus corona, dan perlunya orang untuk melindungi diri mereka sendiri dengan topeng," jelasnya, dikutip dari Russian Today.

Tetapi rupanya penjelasan tersebut tak menghentikan penangkapan pada blogger yang melakukan prank virus corona. Sampai saat ini blogger tersebut sudah ditahan selama 30 hari, sambil menunggu penyelidikan lebih lanjut.

Dalam 10 Tahun, Jumlah Perokok Pemula di Indonesia Naik 240 Persen!

 Hingga saat ini rokok masih menjadi permasalahan di Indonesia. Alih-alih berkurang, justru jumlah perokok pemula terus meningkat setiap tahunnya.
Ketua badan khusus pengendalian tembakau Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat (IAKMI), dr Widyastuti Soerojo, MSC, mengatakan bahwa dalam satu dekade terakhir, jumlah perokok pemula meningkat hingga 240 persen.

"Dalam satu dekade terakhir peningkatannya 240 persen, dari 9,6 persen tahun 2007 menjadi 23,1 persen tahun 2018. Jadi dalam 11 tahun itu peningkatannya 240 persen pada usia SD, SMP 10-14 tahun. Usia yang lebih tua 15-19 naiknya 140 persen," kata dr Widyastuti, pada Rabu (12/2/2020).

Selain perokok pemula, perokok usia anak juga diyakini mengalami peningkatan. Pada perokok usia anak, penyebabnya berbagai macam, salah satunya adalah kebiasaan anak yang suka meniru perilaku orang terdekatnya. Tentu hal ini bisa terjadi di mana saja, seperti di rumah, angkutan umum, bahkan di sekolah.

"Anak adalah peniru terbaik. Dengan melihat orang dewasa merokok, tertanam dalam benaknya bahwa merokok seolah-olah kegiatan yang biasa dalam kehidupan sehari-hari," ucap Lisda Sundari, ketua Yayasan Lentera Anak, dalam kesempatan yang sama.

"Sehingga bila orang dewasa bisa melakukan itu, ia pun ingin juga melakukannya," pungkasnya.

Catatan: Artikel ini mengalami pemutakhiran data sesuai penjelasan ulang oleh narasumber.
https://cinemamovie28.com/my-bosss-wife-2/