Kamis, 13 Agustus 2020

Ini Alasan Masker Buff Disebut Paling Tidak Efektif untuk Cegah Corona

 Untuk membantu mencegah penyebaran COVID-19, tidak sedikit yang memakai pelindung leher atau buff sebagai masker. Hanya saja sebuah penelitian baru-baru ini di Duke University menemukan bahwa masker buff menawarkan sangat sedikit perlindungan pada paparan virus, dalam hal ini COVID-19.
Dalam studi tersebut peneliti membandingkan 14 jenis masker untuk diuji mana yang paling bisa menahan laju droplet. Saat dites, masker buff yang juga sering dipakai para pengendara motor, memperlihatkan hasil yang cukup buruk jika dibandingkan masker biasa.

"Kami menghubungkan ini dengan...tekstil memecah partikel-partikel besar menjadi banyak partikel kecil," kata Dr. Martin Fischer, ahli kimia, fisikawan dan penulis studi, dikutip dari CNBC International.

"Mereka cenderung bertahan lama di udara, bisa terbawa lebih mudah di udara, jadi ini sebenarnya kontraproduktif untuk memakai masker semacam itu," tambahnya.

Bahkan masker buff disebut menghasilkan lebih banyak droplet dibandingkan jika tidak memakai masker sama sekali karena bahan yang digunakan dapat memecah droplet menjadi partikel yang lebih kecil.

Selain buff, jenis masker yang juga menawarkan lebih sedikit perlindungan adalah masker rajutan dan bandana. Adapun masker yang paling efektif dalam penelitian tersebut adalah masker N95 yang biasa digunakan petugas medis.

Happy Hypoxia, Gejala Kurang Oksigen yang Tak Disadari Pasien Corona

Happy hypoxia bisa dialami pasien virus Corona COVID-19. Gejala ini bisa berisiko fatal karena umumnya tidak disadari pasien. Sebenarnya apa itu happy hypoxia?
Ahli paru dari RS Persahabatan, dr Erlang Samoedro, SpP, menjelaskan happy hypoxia adalah kondisi penurunan oksigen dalam darah yang tidak disadari pasien. Kondisi ini disebut dr Erlang dialami pasien Corona karena berkaitan dengan masalah di paru-paru.

"Penurunan oksigen di dalam darah tidak diikuti oleh rangsangannya, tidak sampai ke otak, jadi orangnya tidak sadar bahwa dia kadar oksigennya kurang," jelas dr Erlang saat dihubungi detikcom Kamis (13/8/2020).

Pasien yang mengalami 'happy hypoxia' pada awalnya tidak merasa sesak. Oleh sebab itu, pasien yang mengalami kondisi ini masih bisa beraktivitas seperti biasa tanpa menyadari adanya bahaya.

"Kalau pasien-pasien mengalami gangguan di paru secara luas, itu bisa jadi seperti itu, udara oksigen di dalam darahnya turun, tetapi dia tidak merasa sesak, jadi dia masih bisa melakukan aktivitas seperti biasa," jelas dr Erlang.

Bahayanya, pasien yang mengalami kondisi ini suatu saat bisa merasa sesak napas secara tiba-tiba dan menyebabkan risiko fatal. Kondisi fatal ini juga dialami pasien Corona.

"Iya ada yang sampai fatal. Jadi kurang waspada karena tidak sadar tadi," lanjutnya.

Menurut dr Erlang ada baiknya untuk segera memeriksakan diri usai mengeluhkan gejala Corona pada umumnya seperti batuk dan demam, karena kondisi ini secara tidak sadar bisa dialami setiap pasien.
https://cinemamovie28.com/best-in-sex-2017-avn-awards-2/

3 Kondisi Baru yang Dicurigai Jadi Gejala dan Efek Samping Corona

 Gejala virus Corona COVID-19 yang dirasakan para pasien semakin beragam. Bahkan, pasca sembuh Corona ada beberapa pasien yang masih merasakan gejala dan dicurigai merupakan efek samping dari virus Corona.
Mulai dari rambut rontok yang dialami pasien sembuh Corona, hingga gejala gangguan pendengaran pada pasien. Berikut rangkuman detikcom dari berbagai sumber.

1. Gangguan pendengaran
Para ahli di The University of Manchester meneliti 121 orang dewasa yang dirawat di Rumah Sakit Wythenshawe. Para peneliti menanyakan soal gejala yang masih dialami usai dua bulan pulang dari rumah sakit.

Ditemukan bahwa, delapan di antaranya mengeluh kehilangan pendengaran. Sementara delapan lainnya dilaporkan merasakan bunyi 'denging' di telinga mereka.

"Kita sudah tahu bahwa virus seperti campak, gondong dan meningitis dapat menyebabkan gangguan pendengaran dan virus Corona dapat merusak saraf yang membawa informasi ke dan dari otak," kata Kevin Munro, seorang profesor audiologi di Universitas Manchester.

"Mungkin saja, secara teori, COVID-19 dapat menyebabkan masalah dengan bagian sistem pendengaran termasuk telinga tengah atau koklea. Misalnya, neuropati pendengaran, gangguan pendengaran di mana koklea berfungsi tetapi transmisi di sepanjang saraf pendengaran ke otak bisa menjadi fitur," lanjut Munro, dikutip dari New York Post.

2. Cegukan terus menerus
Seorang pria berusia 62 tahun dicurigai mengalami gejala baru virus Corona COVID-19. Pasalnya, pria tersebut dilaporkan positif Corona usai mengeluh cegukan selama empat hari berturut-turut.

Kasus ini diungkap dalam studi baru yang dimuat di American Journal of Emergency Medicine. Dikutip dari Forbes, dalam laporan kasus tersebut, Garrett Prince, MD, dan Michelle Sergel, MD, para peneliti dari Cook County Health melaporkan pria ini juga mengalami penurunan berat badan hingga belasan kilogram.

Sebelumnya, pria tanpa riwayat penyakit paru-paru ini mencari bantuan medis usai cegukan terus-menerus selama empat hari. Belakangan, para petugas medis setempat menyatakan dirinya terinfeksi COVID-19.

3. Rambut rontok
Beberapa pasien pasca sembuh mengalami keluhan rambut rontok. Terbaru, seorang aktris Alyssa Milano di AS mengatakan dia sekarang mengalami kerontokan rambut akibat virus Corona. Dalam sebuah video yang diposting di Twitter pada hari Minggu, Milano menyisir rambutnya untuk menunjukkan rambut yang rontok, dalam sebuah gumpalan.

"Kupikir aku akan menunjukkan apa yang dilakukan COVID-19 pada rambutmu. Tolong tanggapi ini dengan serius," tulis Milano dalam caption.

Dia membagikan video untuk menyebarkan pesan sederhana. "Pakai masker!" pesannya.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS tidak mencantumkan kerontokan rambut sebagai gejala COVID-19, tetapi beberapa dokter telah memperhatikan kondisi ini di antara pasien mereka.

"Ini cenderung terjadi pada orang-orang yang memiliki kasus yang cukup parah yang telah kita saksikan," sebut Dr Nate Favini, pemimpin medis di Forward, praktik perawatan primer yang mengumpulkan data tentang pasien virus Corona.
https://cinemamovie28.com/my-secret-partner-2/