Sebelum dipastikan menjadi pasien positif COVID-19, para suspek yang menunjukkan berbagai gejala diisolasi dan menjalani tes atau uji lab. Hal ini untuk memastikan ada atau tidaknya virus corona di dalam tubuh.
Dikutip dari BBC, ada beberapa negara yang pasiennya sudah menjalani tes sebanyak 6 kali dan dinyatakan positif. Tapi, setelahnya malah didiagnosa mengidap COVID-19.
Dalam menguji sampel dari suspek, pihak pusat endemi di Provinsi Hubei, China, menggunakan tes Reverse Transcriptase-Polymerase Chain Reaction (RT-PCR). Ini adalah tes standar yang digunakan untuk mendeteksi penyakit akibat virus, seperti HIV dan influenza.
Baca juga: Virus Corona Ternyata Mampu Bertahan 9 Hari di Permukaan
"Mereka (suspek) dites akurat secara umum dengan RT-PCR, yang tingkat false-positive rendah dan false-negative rendah," kata dr Nathalie MacDermott dari King's College London.
Namun, sebuah studi dalam jurnal Radiology menunjukkan 5 dari 167 pasien yang negatif dengan kondisi paru-paru yang sakit, malah dinyatakan positif saat dites kembali. Bahkan dengan adanya penemuan ini, dr Nancy Messonnier dari Centers for Disease and Prevention mengatakan hasil tes uji tersebut tidak meyakinkan.
"Gejala COVID-19 ini mirip dengan penyakit pernapasan lainnya. Mungkin saat pertama diuji, mereka tidak terinfeksi, tapi seiring berjalan waktu mungkin mereka terinfeksi, dites kemudian positif. Itu kemungkinan," kata dr MacDermott.
"Pada kasus Ebola, kami selalu menunggu sampai 72 jam setelah hasil negatif keluar. Ini untuk memastikan virus tersebut benar-benar tidak ada di dalam tubuh manusia," imbuhnya.
dr MacDermott juga memperkirakan bisa saja dokter yang mengujinya mengambil sampel yang salah dan hasilnya negatif. Agar lebih akurat, ia menyarankan untuk mendapatkan kode genetik virus yang tepat dulu sebelum menjalani tes.
"Selain itu, para petugas medis juga harus terus menguji atau tes lagi para pasien, selama mereka masih memiliki gejala untuk memastikan secara akurat," harapnya.
Karantina di Rumah, Pria China Latihan Lari 50 Km Kelilingi Meja Kursi
Banyak warga China yang sedang menjalani karantina di rumah selama wabah virus corona COVID-19. Beberapa punya cara kreatif untuk menghilangkan bosan, salah satunya dengan lari marathon indoor di dalam rumah.
Seorang pelari marathon amatir China yang juga tengah menjalani karantina rumahan tetap ikut marathon, bedanya kali ini dia melakukannya di dalam rumah. Tak tanggung-tanggung dengan berlari keliling rumahnya sendiri, dia berhasil 'berlari' sejauh 50 km!
Adalah Pan Shancu, seorang terapis kesehatan pengobatan China dari Hangzhou berhasil menyelesaikan 6.250 putaran di dalam apartemennya dalam waktu kurang dari lima jam!
Kegiatannya ini ia bagikan di platform sosial media Weibo yang menjadi viral. Ia juga menunjukkan video saat ia berlari.
"Saya sudah tidak di luar selama beberapa hari. Sekarang saya bosan duduk terus. Mari kita lakukan putaran di sekitar meja dan kamar," tulisnya dikutip dari South China Morning Post.
Pan juga membagikan hasil tangkapan layar dari aplikasi larinya. "Satu putaran sekitar 8 meter dan saya berlari 50 km. berkeringat semuanya, terasa luar biasa!"
Postingannya dengan cepat menjadi viral. Bahkan ada sekitar 26 ribu komentar di dalamnya.
"Saya pikir hanya saya yang menjalankan lari dengan gila di dalam ruangan ini," tulis salah satu komentar.
https://kamumovie28.com/why-cant-i-fuck-with-my-sister-2/