Standar kecantikan perempuan di setiap negara bisa berbeda-beda. Tubuh langsing bak model mungkin menjadi barometer di banyak negara, tapi tidak demikian di Tonga.
Tonga merupakan negara kepulauan dengan sistem pemerintahan monarki yang berada di Pasifik Selatan. Di sebelah barat, sekitar 630 km, negara yang terdiri dari 176 pulau kecil ini berbatasan dengan Fiji.
Tonga terkenal dengan pantai-pantainya yang eksotis, berikut gunung-gunung vulkanis yang masih aktif. Kultur khas Polynesia juga menjadi daya tarik tersendiri dari negara yang memiliki populasi sekitar 103 ribu jiwa ini.
Keunikan lain dari Tonga adalah bagaimana warga lokal memaknai sebuah kecantikan. Di Tonga, perempuan bertubuh gemuk justru paling dielu-elukan.
"Semakin besar badanmu, itu baru yang namanya cantik," ungkap Drew Havea, ketua sebuah organisasi masyarakat bernama Forum of Tonga, kepada BBC pada 2016 lalu.
Maka jangan heran bila kontestan kecantikan Tonga didominasi oleh perempuan bertubuh besar. Seperti yang terlihat di Miss Heilala, ajang pemilihan ratu kecantikan tingkat nasional di Tonga.
Dilihat di akun Facebook Miss Heilala, pemilihan terakhir kali digelar tahun lalu. Pemenangnya adalah Yehenara Soukop yang memiliki postur tubuh berbeda dari juara kontes kecantikan pada umumnya.
Di negara anggota Persemakmuran Inggris ini, berat badan ternyata juga menentukan status sosial seseorang. Punya badan kurus akan dianggap berada di kasta terendah.
Anggapan tersebut semakin dikuatkan dengan tubuh Raja Tupou IV dari Tonga. Memiliki bobot 200 kg, Raja Tupou IV yang wafat pada 2006 memegang rekor Guinness sebagai pemimpin monarki terberat yang pernah ada.
Di sisi lain, standar kesempurnaan yang ada di Tonga ini turut menjadi penyebab masalah obesitas.
Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) 2014 menunjukkan, perempuan Tonga memiliki nilai rata-rata indeks massa tubuh 33,5 kg/m2. Jauh dari batas normal yang dianjurkan, yakni 21 - 23 kg/m2.
Tonga lantas berada di urutan kedua negara yang memiliki populasi perempuan obesitas terbesar di dunia.
Pria Ini Viral karena Berikan Nafas Buatan ke Neneknya yang Sakit Corona
Rasa cinta bisa mendorong seseorang untuk melakukan apapun, bahkan terkadang tanpa memikirkan risiko yang akan didapatkannya. Pernyataan tersebut mungkin pas untuk sebuah foto viral yang memperlihatkan pengorbanan seorang pria demi menyelamatkan neneknya.
Seperti dikutip dari World of Buzz, foto seorang pria yang berusaha menyelamatkan neneknya dengan memberi napas buatan dari mulut ke mulut itu telah berhasil membuat netizen merasa terharu. Pasalnya, sang nenek kabarnya telah terinfeksi virus Corona.
Insiden memilukan tersebut terjadi di parkiran General Hospital di Meksiko. Saat itu sang pria sedang berusaha mengurus agar neneknya dapat diterima di rumah sakit setelah sang nenek mulai menunjukkan gejala COVID-19. Oleh karena itu dia meninggalkan sang nenek di mobil untuk sementara waktu.
Setelah kembali ke mobil, ternyata sang nenek sudah tidak sadarkan diri. Pria yang tidak disebutkan namanya itu lantas kaget dan segera memberi neneknya napas buatan tanpa ragu atau memikirkan risiko infeksi yang bisa didapatkannya. Namun sayang takdir berkata lain. Walau sang cucu telah berusaha menyadarkannya kembali, neneknya itu tetap tidak bereaksi.
Saat dokter tiba di lokasi kejadian, ternyata hal itu sudah terlambat karena sang nenek kemudian dinyatakan meninggal akibat COVID-19. Dalam foto terlihat betapa sedihnya sang pria yang harus menerima kenyataan pahit bahwa nenek yang amat dicintainya itu harus meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya.
Foto-foto memilukan pria dengan neneknya itu diambil oleh Moisés Pablo, seorang kontributor dari lembaga jurnalis foto Meksiko dan majalah Cuartoscuro. Tidak jelas apakah kemudian cucunya tersebut ikut terinfeksi atau tidak.
Kejadian ini kembali mengingatkan kita semua akan bahaya serius dari COVID-19. Jadi teruslah mengikuti aturan pencegahan COVID-19 agar kita dan orang-orang yang kita sayangi bisa terhindar dari infeksi virus mematikan tersebut.
https://nonton08.com/oligosaccharide-the-movie-2/