Kamis, 09 Juli 2020

Industri Baja RI Sudah 'Masuk UGD' Sebelum Corona

Ketua Dewan Pembina Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA/Asosiasi Industri Besi dan Baja Indonesia) Edy Putra Irawady menjelaskan industri baja nasional sudah tertekan sebelum munculnya pandemi COVID-19. Edy menyebut industri baja nasional sudah 'masuk UGD' alias unit gawat darurat sebelumnya merebaknya virus Corona.
"Nah sebelum COVID, industri baja yang saya katakan sudah di UGD dari dulu sebelum ada ini (Corona)," kata dia dalam diskusi yang tayang di YouTube Hipmi, Kamis (9/7/2020).

Dia menjelaskan sebelum adanya pandemi COVID-19, utilisasi industri baja nasional masih di atas 40% walaupun sudah masuk kategori rendah.

Namun begitu pandemi COVID-19 muncul, tingkat utilisasi industri baja nasional secara rata-rata sudah turun di bawah 40%. Sebab serapan baja menurun di tengah merebaknya virus Corona.

"Sekarang kegiatan infrastruktur ditunda, semua kegiatan konstruksi nyaris berhenti menyebabkan demand turun lebih dari 50% sehingga utilisasi rata-rata sudah di bawah 40%," ujarnya.

OJK Jawab Isu Perbankan Nasional 'Dijajah' Asing

 Sejak Kookmin Bank resmi diberi restu untuk menjadi pemegang mayoritas saham PT Bank Bukopin Tbk, isu perbankan RI dijajah asing kembali santer. Lalu benarkah hal itu?
Direktur Eksekutif Penelitian dan Pengaturan Perbankan OJK, Anung Herlianto menjelaskan saat ini total bank yang ada di Indonesia mencapai 110 bank. Untuk bank domestik sebanyak 70 bank yang terdiri dari 4 bank pemerintah, 27 BPD dan 39 bank swasta.

"Sementara untuk bank asing, definisi bank asing adalah kantor cabang bank asing yang ada di Indonesia dan bank yang dimiliki mayoritas asing, saat ini ada 40 bank," ujarnya dalam acara InfobankTalkNews Media Discussion secara virtual, Kamis (9/7/2020).

Anung menjelaskan dari sisi pangsa pasar aset, bank domestik menguasai 73%. Penguasaan pasar itu terdiri dari bank pemerintah 43,19%, BPD 8,35% dan bank swasta nasional 21,49%.

Sementara untuk bank asing pangsa pasar asetnya menurut catatan OJK hanya 27% saat ini. Terdiri dari kantor cabang bank asing 4,19% dan bank yang dikuasai asing 22,77%.

Menurutnya data itu menunjukkan asing masih jauh dari menguasai pangsa pasar nasional. Malah menurutnya tren penguasaan pangsa pasar aset terus menurun.

"Sebagian besar banyak khawatir asing akan terus masuk dan akan menguasai pangsa pasar kita, itu justru pangsanya hanya 27%, dan ini tidak beranjak banyak sejak 3-4 tahun lalu. Malah asing pernah kuasai hampir 32% dan porsinya terus menurun. Jadi justru bank domestik itu lebih menguasai, meskipun kita perlu invite asing karena kita perlu modal," terangnya.

Lalu dari sisi pangsa pasar kredit secara keseluruhan masih dikuasai oleh bank pemerintah yang mencapai 43%. Lalu bank swasta nasional 24% dan BPD 9%. Sementara untuk kantor cabang bank asing 3% dan bank yang dimiliki asing 21%.

Begitu juga dengan pangsa pasar dana pihak ketiga (DPK), pangsa pasarnya masih dikuasai bank pemerintah sebesar 41%, bank swasta nasional 23% dan BPD 8%. Sedangkan untuk bank yang dimiliki asing menguasai 22% dan kantor cabang bank asing 6%.
https://nonton08.com/national-sexuality-management-committee-2/

Ngebut! 7 Pabrik yang Pindah ke RI Dibangun Bulan Ini

 Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia menyatakan tujuh perusahaan asing yang merelokasi pabriknya ke Indonesia akan melakukan groundbreaking pada bulan ini.
Bahlil menyatakan perusahaan-perusahaan tersebut sudah memenuhi semua persyaratan. Dia memastikan bulan Juli ini akan ada sebagian pabrik yang mulai groundbreaking.

"Saat ini ada 7 perusahaan yang akan berinvestasi dan sudah diumumkan pak Presiden, termasuk juga yang dari China. Beberapa perusahaan ini akan memasuki groundbreaking pada bulan Juli," kata Bahlil dalam konferensi pers virtual berbahasa Inggris, ditayangkan live di YouTube Sekretariat Presiden, Kamis (9/7/2020).

"Perusahaan ini telah memenuhi semua syarat dan juga kami telah memfasilitasi mereka di lokasi investasi, di Juli groundbreaking akan dilakukan," ujarnya.

Hanya saja Bahlil tak menjelaskan pabrik mana yang mau groundbreaking bulan ini. Seperti diketahui ada 7 perusahaan yang mau merelokasi pabriknya dari China, Jepang, dan Korea ke Indonesia. Hal ini diumumkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat berkunjung ke Kawasan Industri Terpadu (KIT) Batang, Jawa Tengah.

Sebanyak 7 pabrik ini akan direlokasi ke beberapa daerah di Indonesia, mulai dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Banten, dan Sumatera Utara. Tiga di antaranya akan direlokasi ke KIT Batang.

"Saya senang hari ini sudah ada yang masuk 7, sudah pasti ini yang 7," kata Presiden Jokowi saat meninjau Kawasan Industri Terpadu di Batang dilihat dari akun YouTube Sekretariat Presiden, Selasa (30/6/2020) lalu.

Kembali ke Bahlil, dia menjelaskan bahwa masih ada 17 perusahaan lainnya yang akan memindahkan pabriknya ke Indonesia. Dia menargetkan di akhir 2020 prosedur perizinan investasi untuk belasan perusahaan ini akan selesai.

"Kami juga memiliki 17 perusahaan lain dan kami jaga komunikasi dengan mereka. Pengembangan investasinya mencapai 80%. Pada akhir tahun 2020, prosedur perizinan para investor akan selesai," ujar Bahlil.

"Kami juga melihat perhatian datang dari banyak negara, salah satunya dari Amerika Serikat," lanjutnya.

Industri Baja RI Sudah 'Masuk UGD' Sebelum Corona

Ketua Dewan Pembina Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA/Asosiasi Industri Besi dan Baja Indonesia) Edy Putra Irawady menjelaskan industri baja nasional sudah tertekan sebelum munculnya pandemi COVID-19. Edy menyebut industri baja nasional sudah 'masuk UGD' alias unit gawat darurat sebelumnya merebaknya virus Corona.
"Nah sebelum COVID, industri baja yang saya katakan sudah di UGD dari dulu sebelum ada ini (Corona)," kata dia dalam diskusi yang tayang di YouTube Hipmi, Kamis (9/7/2020).

Dia menjelaskan sebelum adanya pandemi COVID-19, utilisasi industri baja nasional masih di atas 40% walaupun sudah masuk kategori rendah.

Namun begitu pandemi COVID-19 muncul, tingkat utilisasi industri baja nasional secara rata-rata sudah turun di bawah 40%. Sebab serapan baja menurun di tengah merebaknya virus Corona.

"Sekarang kegiatan infrastruktur ditunda, semua kegiatan konstruksi nyaris berhenti menyebabkan demand turun lebih dari 50% sehingga utilisasi rata-rata sudah di bawah 40%," ujarnya.
https://nonton08.com/fifty-shades-of-black/