Kamis, 09 Juli 2020

Studi Teliti Keampuhan Herd Immunity Terkait Corona, Ini Hasilnya

 Herd immunity atau kekebalan kelompok sempat digadang bisa membantu manusia untuk mengatasi pandemi virus Corona COVID-19 yang merebak sejak Desember 2019 lalu. Studi di Spanyol melakukan penelitian terkait herd immunity dan hasilnya diterbitkan di jurnal The Lancet.
Studi mengungkap bahwa dari populasi pasien Corona di Spanyol, hanya 5 persen yang terbukti bisa mengembangkan sistem kekebalan tubuh. Hasil ini dinilai kuat untuk membuktikan bahwa herd immunity tidak ampuh untuk melawan virus Corona COVID-19.

"Temuan menunjukkan 95 persen populasi Spanyol tetap rentan terhadap virus Corona," tulis studi tersebut dikutip dari CNN International, Rabu (8/7/2020).

Studi itu juga menjelaskan bahwa herd immunity bisa dicapai jika sudah ada cukup banyak populasi yang terinfeksi virus, bakteri, atau telah mendapat vaksin, sehingga bisa menghentikan penularan virus.

Pusat Pengendalian Penyakit di Eropa mengatakan studi di Spanyol melibatkan 61.000 partisipan. Tidak hanya itu, penelitian ini disebut yang paling besar di antara studi serologis tentang virus Corona di berbagai negara, seperti di Swiss, China, dan Amerika Serikat.

"Dalam temuan ini, setiap pendekatan yang diusulkan untuk mencapai herd immunity melalui infeksi alami tidak etis dan sulit untuk didapatkan," kata para peneliti.

Jumlahnya masih belum cukup
Dokter masih tidak yakin jika dengan memiliki antibodi terhadap virus Corona, orang-orang bisa terhindar dari infeksi virus Corona lagi. Masih belum ditemukan bukti yang jelas juga terkait lama waktu dan seberapa baik antibodi bisa melindungi diri dari virus.

Dalam laporan studi tersebut, terungkap bahwa seroprevalensi atau tingkat antibodi terhadap patogen dalam darah juga masih rendah. Hal ini membuat herd immunity masih sulit untuk dicapai. Bahkan, lebih membebani sistem kesehatan negara.

"Beberapa ahli menghitung, bahwa sekitar 60 persen dari seroprevalensi mungkin berarti herd immunity. Tetapi, kami masih sangat jauh untuk mencapai pada angka itu," jelas penulis utama studi Spanyol tersebut sekaligus direktur Pusat Nasional Epidemiologi Spanyol, Profesor Marina Pollan.

Sembuh dari Corona, Empat Calon Perwira Polisi DIY Donorkan Plasma

Sebanyak empat personel Polisi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) melakukan donor plasma darah di RSUP Dr Sardjito. Mereka merupakan siswa Sekolah Inspektur Polisi (SIP) di Setukpa Lemdiklat Polri yang sebelumnya positif terinfeksi virus Corona COVID-19 dan dinyatakan sembuh.
Keempat bintara itu diambil plasma darahnya untuk antibodi metode terapi plasma konvalesen kepada pasien COVID-19 yang masih dirawat.

"Hari ini pengambilan plasma empat anggota Polda DIY dengan metode plasmapheresis yang mana dalam donor ini diambil murni plasma dan tidak mengambil trombosit atau sel darah," kata Kepala Unit Pelayanan Transfusi Darah RSUP Dr Sardjito Teguh Triyobo saat ditemui di RSUP Dr Sardjito, Rabu (8/7/2020).

Teguh menjelaskan, sebelum melakukan donor ada perlakuan khusus. Dipastikan pendonor dalam kurun 14 hari di tidak menunjukkan gejala terjangkit virus Corona dan dilakukan swab.

"Sebelum donor, harus dinyatakan sembuh dan 14 hari tidak menunjukkan gejala. Nanti kami juga lakukan swab ulang baru bisa ada keputusan bisa jadi pendonor atau tidak," terangnya.

Dia menjelaskan, satu orang mantan pasien COVID -19 bisa mendonorkan sebanyak 400 ml plasma yang bisa disimpan hingga bertahun-tahun. Terapi plasma ini, lanjutnya, diberikan pada pasien dengan kondisi sedang hingga kritis.

"Satu orang bisa donor 400 ml dan dalam kurun 14 hari bisa diulang lagi. Nah untuk plasma ini bisa disimpan hinga tahunan dan nanti kalau dibutuhkan untuk pasien dengan kondisi sedang hingga kritis bisa diambil dan dicairkan," bebernya.

Diwawancarai di tempat yang sama, Wakapolda DIY Brigjen R Slamet Santoso menjelaskan bahwa donor plasma ini merupakan bagian dari tugas kemanusiaan Polri.

"Yang mendorong anggota untuk donor ini karena rasa kemanusiaan. Jadi ini ada empat anggota yang merupakan mantan penderita COVID-19 yang diambil plasmanya dan kami berharap ini dapat bermanfaat dalam penyembuhan pasien," kata Slamet.
https://cinemamovie28.com/cast/lashana-lynch/

3 Mitos Soal Miss V, Benarkah Aman Dibersihkan Pakai Sabun Mandi?

 Banyak mitos yang berkembang terkait kesehatan vagina. Mitos vagina yang beredar mulai dari tentang penggunaan celana hingga cara membersihkan vagina.
Apa saja sih mitos-mitos seputar vagina? Catat 3 faktanya, dikutip dari Health.

1. Membersihkan vagina dengan sabun mandi
Membersihkan vagina memang dianjurkan untuk menghilangkan kuman. Namun, cukup menggunakan air putih bersih dan hindari menggunakan sabun mandi atau sabun biasa. Peneliti di Universitas Stanford mengatakan mencuci area vagina menggunakan sabun dapat mengganggu keseimbangan pH dan malah membantu kuman berkembang biak.

2. Melahirkan bikin vagina 'longgar' permanen
Lamanya persalinan dan ukuran bayi membuat bentuk vagina menjadi kendur, hal ini dikarenakan bentuk vagina yang elastis dan mudah berubah. Namun, kelonggaran tersebut tentu tidak berlangsung secara permanen.

"Seiring waktu, bentuk vagina akan kembali seperti semula secara alami," kata Leena Nathan, MD, ob-gyn di Ronald Reagan Medical Center UCLA.

3. Celana olahraga bisa menyebabkan infeksi
Sehabis olahraga area vagina memang bisa menjadi lembap akibat berkeringat. Hal ini dapat menimbulkan bakteri berkembang dan berjamur.

Namun kondisi ini terjadi tidak hanya saat menggunakan celana olahraga saja. Celana dari bahan jeans dan kain dapat menimbulkan hal serupa sehingga ahli menyarankan jangan memakai celana yang ketat dalam waktu lama. Disarankan memakai celana yang agak longgar agar vagina dapat 'bernapas' dan tidak lembap.

Studi Teliti Keampuhan Herd Immunity Terkait Corona, Ini Hasilnya

 Herd immunity atau kekebalan kelompok sempat digadang bisa membantu manusia untuk mengatasi pandemi virus Corona COVID-19 yang merebak sejak Desember 2019 lalu. Studi di Spanyol melakukan penelitian terkait herd immunity dan hasilnya diterbitkan di jurnal The Lancet.
Studi mengungkap bahwa dari populasi pasien Corona di Spanyol, hanya 5 persen yang terbukti bisa mengembangkan sistem kekebalan tubuh. Hasil ini dinilai kuat untuk membuktikan bahwa herd immunity tidak ampuh untuk melawan virus Corona COVID-19.

"Temuan menunjukkan 95 persen populasi Spanyol tetap rentan terhadap virus Corona," tulis studi tersebut dikutip dari CNN International, Rabu (8/7/2020).

Studi itu juga menjelaskan bahwa herd immunity bisa dicapai jika sudah ada cukup banyak populasi yang terinfeksi virus, bakteri, atau telah mendapat vaksin, sehingga bisa menghentikan penularan virus.

Pusat Pengendalian Penyakit di Eropa mengatakan studi di Spanyol melibatkan 61.000 partisipan. Tidak hanya itu, penelitian ini disebut yang paling besar di antara studi serologis tentang virus Corona di berbagai negara, seperti di Swiss, China, dan Amerika Serikat.

"Dalam temuan ini, setiap pendekatan yang diusulkan untuk mencapai herd immunity melalui infeksi alami tidak etis dan sulit untuk didapatkan," kata para peneliti.

Jumlahnya masih belum cukup
Dokter masih tidak yakin jika dengan memiliki antibodi terhadap virus Corona, orang-orang bisa terhindar dari infeksi virus Corona lagi. Masih belum ditemukan bukti yang jelas juga terkait lama waktu dan seberapa baik antibodi bisa melindungi diri dari virus.

Dalam laporan studi tersebut, terungkap bahwa seroprevalensi atau tingkat antibodi terhadap patogen dalam darah juga masih rendah. Hal ini membuat herd immunity masih sulit untuk dicapai. Bahkan, lebih membebani sistem kesehatan negara.

"Beberapa ahli menghitung, bahwa sekitar 60 persen dari seroprevalensi mungkin berarti herd immunity. Tetapi, kami masih sangat jauh untuk mencapai pada angka itu," jelas penulis utama studi Spanyol tersebut sekaligus direktur Pusat Nasional Epidemiologi Spanyol, Profesor Marina Pollan.
https://cinemamovie28.com/cast/jung-woo-sung/