Kamis, 09 Juli 2020

Peneliti Sebut Lesi Kulit Tidak Terkait dengan Virus Corona

- Sampai hari ini, pandemi virus Corona masih melanda beberapa negara di dunia, termasuk Indonesia. Meningkatnya jumlah kasus baru tiap harinya membuat masyarakat harus semakin waspada terhadap gejala-gejala COVID-19 yang bisa saja terjadi.
Adapun berbagai gejala yang telah banyak dideteksi para pakar dunia, seperti demam, batuk, pilek, hingga lesi atau chilblains . Tapi, dari sebuah penelitian mengungkap lesi tidak terkait dengan gejala COVID-19.

Hal ini pertama kali ditemukan Ferderasi Podiatris International pada anak laki-laki berusia 13 tahun yang terinfeksi Corona. Meski awalnya dianggap karena laba-laba, tapi pasien tersebut mulai menunjukkan gejala lain dari virus Corona.

"Mereka adalah lesi ungu (sangat mirip dengan cacar air, campak, atau chilblains) yang biasanya muncul di jari kaki dan biasanya sembuh tanpa meninggalkan bekas," kata dewan dalam sebuah pernyataan yang dikutip dari Medical Daily.

Anne Herman, MD dan rekannya dari Universite Catholique de Louvain di Brussels akhirnya meneliti chilblains yang dikaitkan sebagai gejala COVID-19. Mereka memeriksa 31 pasien dengan chilblains dan hasilnya mereka dalam keadaan sehat tanpa adanya infeksi virus Corona, yang mayoritas dialami oleh remaja atau dewasa muda.

Chilblains atau lesi ini dikonfirmasi dalam analisis histopatologis spesimen biopsi kulit dan fenomena limfositik atau mikrotothotik. Pada tujuh pasien yang diteliti, menunjukkan adanya peradangan pembuluh darah yang berdiameter kecil.

Saat para pasien diuji COVID-19 dengan PCR ataupun tes swab, tidak ditemukannya adanya virus SARS-CoV-2 yang menjadi penyebab virus Corona COVID-19. Bahkan pada sampel lesi pun tidak ditemukan hal yang mengarah ke infeksi virus tersebut.

Bahkan saat dites melalui antibodinya pun, para pasien dengan lesi ini dinyatakan negatif SARS-CoV-2. Tidak ada kelainan yang signifikan dari hasil tes darah pasien yang mengindikasi adanya penyakit sistemik dalam tubuhnya.

"Kami melaporkan beberapa kasus chilblains yang terjadi, terutama pada orang muda di tengah pandemi COVID-19," tulis para peneliti dikutip dari MedicalXpress, Kamis (9/7/2020).

"Kami berhipotesis, bahwa lesi kulit ini mungkin karena perubahan gaya hidup saat pemberlakuan lockdown di beberapa negara. Hal ini perlu diamati lebih hati-hati lagi," lanjutnya.

Tinggalkan Intel, Apple Bisa Ngirit Miliaran Dollar

 Keputusan Apple meninggalkan Intel sebagai penyuplai prosesor untuk perangkat Mac dinilai membuat mereka bisa mengirit pengeluaran mereka, mencapai miliaran dollar.
Pada ajang WWDC 2020 lalu, Apple mengeluarkan keputusan bahwa mereka tak lagi menggunakan prosesor Intel untuk perangkat Mac. Mereka akan mulai menggunakan chip berbasis ARM untuk perangkat Mac generasi selanjutnya.

Menurut analis di Trefis, keputusan ini bisa membuat Apple bisa mengirit USD 2,2 miliar. Angka ini didasarkan dari harga rata-rata prosesor Intel di pasaran dibandingkan dengan harga system on a chip (SoC) yang ada di iPhone, tentunya dengan sejumlah penyesuaian.

Menurut analisis ini, secara teoritis, Apple bisa mengirit sekitar USD 110 untuk setiap chipnya. Jika angka tersebut dikalikan dengan jumlah perangkat Mac yang dikapalkan oleh Apple, maka muncul angka USD 2,2 miliar setiap tahunnya.

Tentunya analisis ini didasarkan jika Apple menggunakan SoC yang sama dengan iPhone. Tentunya (atau seharusnya) Apple mendesain chip anyar yang disesuaikan dengan kebutuhan perangkat Mac, agar performanya bisa setara atau malah lebih kencang ketimbang prosesor x86/x64 buatan Intel.

Namun keuntungan peralihan dari chip Intel ke Apple Silicon (nama chip ARM untuk Mac) tak cuma dari segi biaya, melainkan juga menghilangkan ketergantungan Apple terhadap chip Intel, kaitannya tentu dengan performa chip tersebut dan juga integrasi yang lebih bagus antara hardware dan software, demikian dikutip detikINET dari Ubergizmo, Kamis (9/7/2020).
https://cinemamovie28.com/cast/noe-hernandez/

Riset Ini Ingatkan Adanya Kerusakan Otak Akibat COVID-19

Para ilmuwan memperingatkan kemungkinan adanya gelombang kerusakan otak yang disebabkan oleh virus Corona COVID-19. Hal ini diungkapkan lewat hasil riset dari University College London (UCL).
Penyakit akibat virus SARS-CoV-2 ini disebut bisa menyebabkan komplikasi neurologis yang parah, termasuk peradangan, psikosis (gangguan realita), serta delirium (gangguan mental yang menyebabkan kebingungan). UCL menunjukkan 43 kasus pasien COVID mengalami disfungsi otak sementara, stroke, sampai kerusakan saraf dan dampak serius pada otak lainnya.

Hal ini memperkuat pernyataan sejumlah ahli saraf dan dokter spesialis sebelumnya, bahwa ada bukti dampak COVID-19 pada otak. Tetapi, dampak terbesar karena pademi Corona ini masih terkait pada gangguan pernapasan.

"Kekhawatiran saya. saat ini kita punya jutaan orang yang terinfeksi COVID-19. Jika dalam satu tahun ada 10 juta orang yang sembuh, orang-orang itu akan memiliki defisit kognitif," jelas ahli saraf di Western University di Kanada, Adrian Owen, yang dikutip dari Reuters, Kamis (9/7/2020).

"Itu akan mempengaruhi kemampuan mereka dalam bekerja dan melakukan aktivitas sehari-hari," lanjutnya.

Meski begitu, salah satu pemimpin penelitian ini, Michael Zandi, dari UCL's Institute Neurologi mengatakan masih perlu pembuktian lebih lanjut terkait hal ini.

"Apakah kita akan benar-benar melihat adanya kerusakan dalam skala besar pada otak? Ini masih harus diteliti lagi," katanya.

Peneliti Sebut Lesi Kulit Tidak Terkait dengan Virus Corona

- Sampai hari ini, pandemi virus Corona masih melanda beberapa negara di dunia, termasuk Indonesia. Meningkatnya jumlah kasus baru tiap harinya membuat masyarakat harus semakin waspada terhadap gejala-gejala COVID-19 yang bisa saja terjadi.
Adapun berbagai gejala yang telah banyak dideteksi para pakar dunia, seperti demam, batuk, pilek, hingga lesi atau chilblains . Tapi, dari sebuah penelitian mengungkap lesi tidak terkait dengan gejala COVID-19.

Hal ini pertama kali ditemukan Ferderasi Podiatris International pada anak laki-laki berusia 13 tahun yang terinfeksi Corona. Meski awalnya dianggap karena laba-laba, tapi pasien tersebut mulai menunjukkan gejala lain dari virus Corona.

"Mereka adalah lesi ungu (sangat mirip dengan cacar air, campak, atau chilblains) yang biasanya muncul di jari kaki dan biasanya sembuh tanpa meninggalkan bekas," kata dewan dalam sebuah pernyataan yang dikutip dari Medical Daily.

Anne Herman, MD dan rekannya dari Universite Catholique de Louvain di Brussels akhirnya meneliti chilblains yang dikaitkan sebagai gejala COVID-19. Mereka memeriksa 31 pasien dengan chilblains dan hasilnya mereka dalam keadaan sehat tanpa adanya infeksi virus Corona, yang mayoritas dialami oleh remaja atau dewasa muda.

Chilblains atau lesi ini dikonfirmasi dalam analisis histopatologis spesimen biopsi kulit dan fenomena limfositik atau mikrotothotik. Pada tujuh pasien yang diteliti, menunjukkan adanya peradangan pembuluh darah yang berdiameter kecil.

Saat para pasien diuji COVID-19 dengan PCR ataupun tes swab, tidak ditemukannya adanya virus SARS-CoV-2 yang menjadi penyebab virus Corona COVID-19. Bahkan pada sampel lesi pun tidak ditemukan hal yang mengarah ke infeksi virus tersebut.

Bahkan saat dites melalui antibodinya pun, para pasien dengan lesi ini dinyatakan negatif SARS-CoV-2. Tidak ada kelainan yang signifikan dari hasil tes darah pasien yang mengindikasi adanya penyakit sistemik dalam tubuhnya.

"Kami melaporkan beberapa kasus chilblains yang terjadi, terutama pada orang muda di tengah pandemi COVID-19," tulis para peneliti dikutip dari MedicalXpress, Kamis (9/7/2020).

"Kami berhipotesis, bahwa lesi kulit ini mungkin karena perubahan gaya hidup saat pemberlakuan lockdown di beberapa negara. Hal ini perlu diamati lebih hati-hati lagi," lanjutnya.
https://cinemamovie28.com/cast/daniel-henney/