Selain membuat kalung eucalyptus, Kementerian Pertanian (Kementan) membuat roll on dan inhaler yang kandungannya sama seperti versi kalung yakni eucalyptus. Kedua produk ini sudah terdaftar di Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) sebagai jamu.
Hal ini dijelaskan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Fadjry Djufry. Kementan angkat bicara usai produk-produknya ramai diperbincangkan karena muncul klaim terkait 'antivirus' Corona.
Ditegaskan Fadjry, kedua produk seperti roll on dan inhaler sudah mendapat izin edar BPOM dan tidak melanggar aturan yang diterapkan di Indonesia. Adapun manfaat yang didapat dari kedua produk ini disebut hanya mengatasi gejala saja seperti meredakan pernapasan.
"Jamu biasanya cuman membutuhkan hasil lab dan uji klinis, kita sudah teregistrasi di BPOM itu jamu, tentunya kan sudah melalui proses, tidak melanggar aturan di Indonesia," lanjutnya.
"Jadi melegakan pernapasan, tidak ada klaim antivirus di situ," kata Fadjry.
Produk roll on dan inhaler yang dilihat detikcom, tidak terdapat label 'antivirus Corona' seperti yang tertera pada kalung eucalyptus. Sementara kalung eucalyptus memiliki label 'antivirus Corona' karena prototype atau penyemangat teman-teman penelitian untuk benar-benar bisa membuat produk 'antivirus Corona'.
Eucalyptus dan Kayu Putih Sama Nggak Sih? Ini Penjelasan Kementan
Kementerian Pertanian akhirnya buka suara soal status kalung eucalyptus yang disebut-sebut sebagai kalung 'antivirus' Corona. Dalam konferensi pers, ditegaskan bahwa kalung eucalyptus adalah aksesoris kesehatan, sedangkan dua produk sejenis yakni inhaler dan roll onterdaftar sebagai jamu.
Ngomong-ngomong, masyarakat masih banyak yang penasaran bedanya eucalyptus dengan kayu putih. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Fadjry Djufry pun menjelaskan silsilahnya.
"Jadi, memang di masyarakat menyamakan kayu putih dengan eucalyptus. Kayu putih ini adalah salah satu spesies atau bagian dari spesies eucalyptus yang ada 900 jenis di dunia," jelas Fadjry, saat melakukan konferensi pers melalui kanal Youtube, Senin (6/7/2020).
"Ini spesies dari Australia, tapi sudah berkembang banyak di Indonesia," lanjutnya.
Fadjry mengatakan, setelah mendapat material atau bahan aktif dari eucalyptus, kemudian diproses hingga menghasilkan ekstrak dan diuji di Balitbangtan sebagai bahan untuk produk kesehatan yang sudah cukup lama diteliti.
Soal Kemungkinan Corona Menular Lewat Udara, WHO Disebut Abaikan Saran Pakar
Meski masih banyak yang masih perlu dipelajari terkait virus Corona, ada beberapa hal yang masih menjadi perdebatan para ahli. Salah satunya adalah terkait penyebaran virus Corona.
Dikutip dari laman News.com.au, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan virus Corona telah menginfeksi sekitar 11,3 juta orang melalui salah satu dari dua cara: dengan menghirup percikan yang keluar saat batuk dari orang yang terinfeksi Corona, dan seseorang yang menyentuh permukaan di mana sudah terkontaminasi dengan virus Corona, lalu secara tidak sadar tangan tersebut menyentuh mata, hidung, atau mulut.
WHO mengatakan potensi virus Corona COVID-19 untuk menyebar melalui transmisi udara karena virus Corona disebut memiliki partikel lebih kecil tidak meyakinkan. Begitu juga dugaan bertahan di udara untuk jangka waktu yang lama dan bisa menyebar lebih dari satu meter.
"Terutama dalam beberapa bulan terakhir, kami telah menyatakan beberapa kali bahwa kami menganggap penularan melalui udara sebagai hal yang mungkin terjadi tetapi tentu saja tidak didukung oleh bukti yang kuat atau jelas," kata pimpinan teknis WHO tentang pengendalian infeksi, Dr Benedetta Allegranzi.
Namun, dalam sebuah surat terbuka yang akan diterbitkan dalam jurnal ilmiah minggu ini, 239 ilmuwan dari 32 negara menuduh WHO meremehkan risiko penularan melalui udara, terutama di kamar yang berventilasi buruk atau ruang terbatas seperti transportasi umum.
https://nonton08.com/cast/emilio-rivera/