Jumat, 19 Juni 2020

Sebaran Pasien Virus Corona di Indonesia: 17.349 Sembuh, 2.373 Meninggal

Pemerintah mengumumkan jumlah kasus positif virus Corona COVID-19 di Indonesia pada Jumat (19/6/2020) telah mencapai 43.803 kasus. Terdapat penambahan kasus positif baru Corona sebanyak 1.041. Sebanyak 17.349 pasien dinyatakan sembuh sementara 2.373 pasien lainnya meninggal dunia.
"Untuk hari ini kasus positif sebanyak 1.041 orang, sehingga akumulasinya menjadi 43.803 orang," kata juru bicara pemerintah untuk penanganan virus Corona COVID-19, Achmad Yurianto, Jumat (19/6/2020).

Berikut sebaran pasien yang sembuh dan meninggal hingga saat ini.

SEMBUH
Aceh 20

Bali 566

Banten 538

Bangka Belitung 101

Bengkulu 68

DI Yogyakarta 226

DKI Jakarta 4.699

Jambi 46

Jawa Barat 1.261

Jawa Tengah 900

Jawa Timur 2.562

Kalimantan Barat 186

Kalimantan Timur 313

Kalimantan Tengah 282

Kalimantan Selatan 360

Kalimantan Utara 149

Kepulauan Riau 170

Nusa Tenggara Barat 693

Sumatera Selatan 739

Sumatera Barat 493

Sulawesi Utara 137

Sumatera Utara 250

Sulawesi Tenggara 204

Sulawesi Selatan 1.169

Sulawesi Tengah 130

Lampung 121

Riau 114

Maluku Utara 51

Maluku 136

Papua Barat 126

Papua 297

Sulawesi Barat 77

Nusa Tenggara Timur 40

Gorontalo 125


MENINGGAL
Aceh 2

Bali 6

Banten 79

Bangka Belitung 2

Bengkulu 8

DI Yogyakarta 8

DKI Jakarta 578

Jawa Barat 171

Jawa Tengah 143

Jawa Timur 678

Kalimantan Barat 4

Kalimantan Timur 4

Kalimantan Tengah 44

Kalimantan Selatan 152

Kalimantan Utara 2

Kepulauan Riau 16

Nusa Tenggara Barat 43

Sumatera Selatan 66

Sumatera Barat 30

Sulawesi Utara 63

Sumatera Utara 66

Sulawesi Tenggara 5

Sulawesi Selatan 123

Sulawesi Tengah 4

Lampung 12

Riau 8

Maluku Utara 22

Maluku 13

Papua Barat 3

Papua 7

Sulawesi Barat 2

Nusa Tenggara Timur 1

Gorontalo 8

20.717 Spesimen Corona Diperiksa, Kembali Lampaui Target Jokowi

Pemerintah pada Jumat (19/6/2020), telah melakukan pemeriksaan pada 20.717 spesimen virus Corona Covid-19. Dari hasil ini didapatkan 1.041 konfirmasi kasus positif.
"Kami telah melaksanakan pemeriksaan spesimen pada hari ini sebanyak 20.717 ," kata juru bicara pemerintah untuk penanganan virus Corona COVID-19, Achmad Yurianto, Jumat (19/6/2020).

Total pemeriksaan spesimen hingga hari ini mencapai 601.239. Jumlah ini didapat berdasarkan dua pemeriksaan, yaitu real time polymerase chain reaction (RT PCR) dan tes cepat molekuler (TCM).

Jumlah spesimen yang berhasil diperiksa hari ini menjadi rekor pemeriksaan spesimen tertinggi dalam satu hari. Bahkan kembali melebihi target dari Presiden Joko Widodo (Jokowi), yaitu 20.000 pemeriksaan dalam sehari.

Berikut ini detail perkembangan kasus virus Corona di Indonesia pada Jumat (19/6/2020):

1. Jumlah kasus positif bertambah 1.041 menjadi 43.803
2. Jumlah pasien sembuh bertambah 551 menjadi 17.349.
3. Jumlah pasien meninggal dunia bertambah 34 menjadi 2.373.

Data tersebut merupakan akumulasi yang tercatat hingga pukul 12.00 WIB hari ini.

Sebelumnya pada Kamis (18/6/2020), jumlah akumulatif kasus positif berada di angka 42.762 dengan 16.798 di antaranya sembuh dan 2.339 meninggal.

Dari hasil ini, Indonesia masih menjadi negara dengan kasus positif tertinggi di ASEAN.

WFH dan Perangkat Jadul Bikin Risiko Keamanan Siber Meningkat

Meningkatnya pegawai yang bekerja dari rumah (work from home - WFH) selama pandemi Corona berdampak pada meningkatnya risiko keamanan jaringan perusahaan.
Risiko keamanan itu akan meningkat jika perusahaan masih mempertahankan perangkat jaringan yang usang atau jadul. Pasalnya lonjakan konsumsi bandwidth dari karyawan yang WFH saja sudah cukup untuk menambah ketegangan pada jaringan.

"Di dalam 'normal baru' ini, akan banyak bisnis perlu, jika tidak dipaksa, untuk meninjau strategi jaringan dan keamanan arsitektur, operasional dan dukungan model untuk mengelola risiko operasional dengan lebih baik. Kami berharap untuk melihat perubahan strategi dalam menciptakan prioritas pada kelangsungan bisnis dan persiapan untuk masa depan jika sistem 'lockdown' mulai mereda," ujar Rob Lopez, Executive VP Intelligent Infrastructure NTT dalam keterangan yang diterima detikINET.

"Infrastruktur jaringan perlu dirancang secara tepat dan dikelola untuk menghadapi lonjakan yang tidak direncanakan, di mana hal ini perlu untuk dilihat kembali baik di cloud dan infrastruktur fisik di perusahaan sehingga dapat mengurangi dampak dan frekuensi pemadaman bisnis," lanjutnya.

Perangkat yang usang mempunyai kerentanan setidaknya dua kali lebih besar untuk setiap perangkatnya dibanding perangkat yang lebih baru. Parahnya lagi, risiko akan semakin besar jika perusahaan menunda pembaruan perangkat, atau masih meninjau ulang pembaruan saat perangkat tersebut sudah habis masa pakainya.

Pasalnya untuk pembaruan perangkat perlu dilakukan secara bertahap. Bahkan seringkali negosiasi dengan pemilik teknologi berdasarkan perjanjian pemeliharaan atau perpanjangan garansi dapat dilakukan.

Kondisi new normal ini juga membuat perusahaan perlu melakukan penataan ulang terhadap cara kerjanya. Seperti penerapan ruang kerja yang cerdas untuk mengakomodasi physical distancing di kantor, dan tetap menerapkan kerja jarak jauh.

Sementara itu, dengan adopsi infrastruktur nirkabel baru yang meningkat - peningkatan 13% dari tahun ke tahun - dan munculnya kantor terbuka dan ruang kerja bersama, maka pendekatan baru untuk semua arsitektur jaringan akan sangat diperlukan.

Bisnis akan membutuhkan peralatan, pengetahuan, dan keahlian untuk dapat merancang ulang jaringan untuk evolusi 'normal baru' dalam jangka pendek, menengah dan panjang, di mana orang-orang bekerja dari jarak jauh, dan dengan perangkat apa pun - tidak saja dalam mendukung ruang korporasi tetapi juga area-area publik dan ritel di mana social distancing biasanya sulit untuk dilakukan.

Evolusi jaringan harus berjalan seiring dengan transformasi digital
Sebagai bagian dari strategi transformasi digital, organisasi-organisasi terkemuka sudah menggunakan jaringan untuk memungkinkan model bisnis baru (sebagai contoh Internet of Things) atau mengoptimalkan model operasional yang ada (sebagai contoh pelacakan aset).

Sebagai alternative lainnya, bisnis dapat berinvestasi dalam teknologi seperti halnya robotic process automation (RPA), sebagai bagian dari inisiatif transformasi digital mereka untuk menghemat biaya dan meningkatkan layanan dengan cara yang gesit.

Apa pun alasannya; transformasi digital membantu meningkatkan pengalaman pelanggan dan karyawan, didukung oleh jaringan. Inisiatif ini hanya akan dipercepat dengan dukungan infrastruktur yang relevan dan aman di 'normal baru' terutama yang berkaitan dengan inisiatif-inisiatif bisnis baik di area teknologi, operasional dan keuangan.

"Jaringan adalah platform untuk melakukan transformasi digital bisnis. Untuk itu, keberadaannya dimanapun, fleksibel, kuat dan aman untuk beradaptasi dengan mudah terhadap perubahan bisnis, sambil meningkatkan kematangan lingkungan pada dukungan operasionalnya. Bisnis yang menggunakan otomatisasi dan kecerdasan jaringan tingkat tinggi untuk mengoptimalkan operasionalnya akan memperoleh keunggulan kompetitif yang signifikan dan merealisasikan manfaat ekonomi cloud, dengan aman," tutup Lopez.
https://nonton08.com/cast/jason-clarke/