Jumat, 19 Juni 2020

WFH dan Perangkat Jadul Bikin Risiko Keamanan Siber Meningkat

Meningkatnya pegawai yang bekerja dari rumah (work from home - WFH) selama pandemi Corona berdampak pada meningkatnya risiko keamanan jaringan perusahaan.
Risiko keamanan itu akan meningkat jika perusahaan masih mempertahankan perangkat jaringan yang usang atau jadul. Pasalnya lonjakan konsumsi bandwidth dari karyawan yang WFH saja sudah cukup untuk menambah ketegangan pada jaringan.

"Di dalam 'normal baru' ini, akan banyak bisnis perlu, jika tidak dipaksa, untuk meninjau strategi jaringan dan keamanan arsitektur, operasional dan dukungan model untuk mengelola risiko operasional dengan lebih baik. Kami berharap untuk melihat perubahan strategi dalam menciptakan prioritas pada kelangsungan bisnis dan persiapan untuk masa depan jika sistem 'lockdown' mulai mereda," ujar Rob Lopez, Executive VP Intelligent Infrastructure NTT dalam keterangan yang diterima detikINET.

"Infrastruktur jaringan perlu dirancang secara tepat dan dikelola untuk menghadapi lonjakan yang tidak direncanakan, di mana hal ini perlu untuk dilihat kembali baik di cloud dan infrastruktur fisik di perusahaan sehingga dapat mengurangi dampak dan frekuensi pemadaman bisnis," lanjutnya.

Perangkat yang usang mempunyai kerentanan setidaknya dua kali lebih besar untuk setiap perangkatnya dibanding perangkat yang lebih baru. Parahnya lagi, risiko akan semakin besar jika perusahaan menunda pembaruan perangkat, atau masih meninjau ulang pembaruan saat perangkat tersebut sudah habis masa pakainya.

Pasalnya untuk pembaruan perangkat perlu dilakukan secara bertahap. Bahkan seringkali negosiasi dengan pemilik teknologi berdasarkan perjanjian pemeliharaan atau perpanjangan garansi dapat dilakukan.

Kondisi new normal ini juga membuat perusahaan perlu melakukan penataan ulang terhadap cara kerjanya. Seperti penerapan ruang kerja yang cerdas untuk mengakomodasi physical distancing di kantor, dan tetap menerapkan kerja jarak jauh.

Sementara itu, dengan adopsi infrastruktur nirkabel baru yang meningkat - peningkatan 13% dari tahun ke tahun - dan munculnya kantor terbuka dan ruang kerja bersama, maka pendekatan baru untuk semua arsitektur jaringan akan sangat diperlukan.

Bisnis akan membutuhkan peralatan, pengetahuan, dan keahlian untuk dapat merancang ulang jaringan untuk evolusi 'normal baru' dalam jangka pendek, menengah dan panjang, di mana orang-orang bekerja dari jarak jauh, dan dengan perangkat apa pun - tidak saja dalam mendukung ruang korporasi tetapi juga area-area publik dan ritel di mana social distancing biasanya sulit untuk dilakukan.

Evolusi jaringan harus berjalan seiring dengan transformasi digital
Sebagai bagian dari strategi transformasi digital, organisasi-organisasi terkemuka sudah menggunakan jaringan untuk memungkinkan model bisnis baru (sebagai contoh Internet of Things) atau mengoptimalkan model operasional yang ada (sebagai contoh pelacakan aset).

Sebagai alternative lainnya, bisnis dapat berinvestasi dalam teknologi seperti halnya robotic process automation (RPA), sebagai bagian dari inisiatif transformasi digital mereka untuk menghemat biaya dan meningkatkan layanan dengan cara yang gesit.

Apa pun alasannya; transformasi digital membantu meningkatkan pengalaman pelanggan dan karyawan, didukung oleh jaringan. Inisiatif ini hanya akan dipercepat dengan dukungan infrastruktur yang relevan dan aman di 'normal baru' terutama yang berkaitan dengan inisiatif-inisiatif bisnis baik di area teknologi, operasional dan keuangan.

"Jaringan adalah platform untuk melakukan transformasi digital bisnis. Untuk itu, keberadaannya dimanapun, fleksibel, kuat dan aman untuk beradaptasi dengan mudah terhadap perubahan bisnis, sambil meningkatkan kematangan lingkungan pada dukungan operasionalnya. Bisnis yang menggunakan otomatisasi dan kecerdasan jaringan tingkat tinggi untuk mengoptimalkan operasionalnya akan memperoleh keunggulan kompetitif yang signifikan dan merealisasikan manfaat ekonomi cloud, dengan aman," tutup Lopez.
https://nonton08.com/cast/jason-clarke/

Tanpa HTC, Android Mungkin Tak Akan Seperti Sekarang

Pekan ini, HTC berupaya mencuri perhatian pasar smartphone dengan mengumumkan HTC Desire 20 Pro dan HTC U20 5G. Kebanyakan orang mungkin akan bertanya, "HTC masih ada ya?"
Wajar jika banyak yang lupa dengan HTC dan mempertanyakan apakah brand ini masih memproduksi ponsel atau tidak. Selain perangkat virtual reality (VR), perusahaan asal Taiwan ini memang cukup lama tenggelam di pasar smartphone dalam beberapa tahun terakhir.

Sangat disayangkan, karena HTC adalah salah satu brand besar dan pernah berjaya di dunia smartphone seperti Nokia atau BlackBerry zaman dulu. Dan faktanya, HTC banyak terkait dengan masa awal kesuksesan Android loh.

Memang benar bahwa HTC tidak berbuat banyak hal di ranah smartphone beberapa tahun terakhir. Selain ponsel blockchain Exodus yang pasarnya terbatas, smartphone untuk konsumen terakhir yang dibuat HTC adalah Desire 12s yang dirilis akhir 2018.

Ada beberapa perangkat lainnya yang diluncurkan setelah itu di bawah brand HTC. Namun ponsel-ponsel itu hanya menggunakan merek HTC, bukan benar-benar dibuat HTC.

Bahkan untuk smartphone yang baru diumumkan pekan ini, seperti dikutip dari XDA Developer, merupakan ponsel kategori mid-range yang cukup basic.

Meski HTC berharap bisa kembali mencuri perhatian dengan melompat ke teknologi 5G lewat ponsel HTC 5G U20 yang juga baru diumumkan, sayangnya sebagian besar konsumen sepertinya tidak peduli dengan perangkat ini.

Awal Kemunculan Android

Kalau kalian fans Android garis keras, kalian mungkin tahu perjalanan awal Android bareng HTC. Pada 2008, HTC merilis ponsel Android komersial pertama HTC Dream atau T-Mobile G1.

Selama beberapa lama, HTC menjadi ponsel Android terbaik di pasaran. Sejumlah ponsel besutannya seperti Hero, DROID Incredible, EVO 4G, dan Desire, boleh dibilang turut mendongkrak popularitas sistem operasi Android sebagai pesaing yang layak untuk iOS di iPhone besutan Apple.

Sebagai bukti begitu bersaingnya ponsel HTC kala itu, pada pertengahan 2010 viral sebuah video yang mengadu HTC dengan iPhone berjudul 'iPhone 4 vs HTC Evo'.

Ya, HTC memiliki hubungan yang erat dengan Google dan dikenal karena menciptakan smartphone dan software berkualitas tinggi. HTC pula yang digandeng Google saat mereka membuat perangkat Nexus pertama, Nexus One.

Sepertinya, software yang keren adalah hal yang membuat HTC benar-benar berbeda. Ketika user interface (UI) Android masih sangat jelek waktu itu, HTC dipuji dengan Sense UI mereka yang oleh kalangan developer dipuji sebagai peningkatan besar.

Apalagi di masa-masa awalnya, skin Android sangat penting karena stok dari Android sangat kurang fitur maupun desain. Android baru mulai terlihat benar-benar menarik pada 2011 ketika merilis Android 4.0 Ice Cream Sandwich.

Ini bukan masalah Google saja. Ponsel Android awal Samsung dengan TouchWiz-nya atau Motorola dengan Motoblur-nya juga mengalami kesulitan serupa.

Sesuai tagline-nya: 'Quietly Brilliant', HTC saat itu secara brilian memperlihatkan bahwa perusahaannya tak hanya bisa membuat perangkat yang bagus, tetapi juga kompeten dalam membuat software yang merupakan kontribusi terbesarnya untuk Android.

Perlahan Meredup

Namun kemudian, HTC terjebak terlalu lama. Benar adanya pepatah yang bilang, kita akan mati jika berhenti berinovasi: innovate or die.

Google perlahan meningkatkan desain Android-nya sedangkan Sense UI mulai ketinggalan zaman. Desain skeuomorphic mulai terlihat jadul dan tidak menarik karena skin lain mulai terlihat lebih modern.

Sementara itu, dari sisi perangkat keras, Samsung menendangnya dan sukses mengambil alih pasar smartphone Android. Kalangan developer penggemar HTC tidak yakin apa yang bisa dilakukan HTC agar bisa bangkit atau setidaknya tetap relevan dengan zaman.

HTC dulunya adalah mitra penting bagi Google di awal kelahiran Android. Ada banyak orang yang menjajal pengalaman Android pertama mereka menggunakan ponsel HTC.

Perusahaan ini menunjukkan kepada dunia bahwa Apple bukan satu-satunya perusahaan yang bisa bikin ponsel yang indah. Lebih dari itu, ada andil Sense UI milik HTC yang mendorong Google melakukan perbaikan visual di Android hingga menjadi seperti yang kalian lihat dan rasakan sekarang.
https://nonton08.com/cast/savannah-steyn/