Rabu, 17 Juni 2020

Studi Temukan Virus Corona Bisa Menyebar Saat di Toilet, Kok Bisa?

Sebuah studi sebelumnya menunjukkan virus Corona terdapat dalam feses manusia. Berkaitan dengan hal ini, studi lain menyarankan untuk berhati-hati saat di toilet.
Dikutip dari CNN, sebuah studi pemodelan komputer baru menunjukkan bagaimana virus Corona dapat menyebar saat seseorang menyiram feses. Disebutkan, menyiram feses usai buang air besar dapat mengirim partikel-partikel kecil mengandung feses yang mungkin membawa virus Corona.

Dokter telah menunjukkan bahwa virus Corona dapat hidup dan bereplikasi dalam sistem pencernaan, dan bukti virus telah ditemukan dalam kotoran manusia. Ini dianggap sebagai rute penularan yang sangat mungkin terjadi.

Saat ini tim di Universitas Yangzhou China telah menggunakan pemodelan komputer untuk menunjukkan bagaimana air dari toilet dapat menyembur ke udara setinggi tiga kaki atau kurang dari 1 meter.

"Seseorang dapat memperkirakan bahwa kecepatannya akan semakin tinggi ketika toilet sering digunakan, seperti misalnya toilet keluarga yang digunakan bersama atau juga toilet umum," jelas Ji-Xiang Wang dari Yangzhou University, yang bekerja pada penelitian ini, mengatakan dalam sebuah pernyataan.

Studi lain juga menemukan penyebab umum muntah dan diare, dapat menyebar melalui toilet flushing atau ketika menyiram feses. Para peneliti menyarankan bahwa sangat mungkin toilet menyebarkan virus Corona.

"Bukti kontaminasi SARS-CoV-2 atau COVID-19 ditunjukkan dari sampel permukaan dan udara di luar ruang isolasi, dan data awal yang menunjukkan bahwa SARS-CoV-2 dapat hidup di aerosol selama 3 jam, harus meningkatkan kekhawatiran tentang mode transmisi ini dan meminta penelitian tambahan segera," kata Carmen McDermott dari Fakultas Kedokteran Universitas Washington dan rekannya menulis pada bulan April di Journal of Hospital Infection.

Para peneliti kemudian mengimbau untuk tetap waspada saat memakai toilet. Perlu memastikan permukaan di toilet selalu bersih.

Diduga Jadi Penyebab Gelombang Kedua China, Ahli Yakini Salmon Aman dari Corona

 Ikan salmon disebut berkaitan dengan gelombang kedua Corona di Beijing, China. Namun Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit China (CDC) mengatakan pada Selasa (16/7/2020) tidak ada bukti ikan salmon menjadi pusat penyebaran virus Corona.
"Tidak ada bukti yang menunjukkan salmon adalah inang atau inang perantara virus," jelas Shi Guoqing, wakil direktur CDC, mengatakan pada konferensi pers, dikutip dari Daily Mail.

Disebutkan bahwa para peneliti tidak menemukan virus Corona baru pada salmon sebelum memasuki lingkungan atau tempat yang terkontaminasi. Kementerian Perikanan Norwegia juga mengatakan bahwa pihak berwenang China belum memberlakukan larangan impor, menurut pernyataan email dari juru bicara Martine Roiseland pada hari Selasa.

Otoritas keamanan pangan Norwegia mengatakan tidak ada kasus infeksi Corona yang diketahui melalui makanan yang terkontaminasi.

"Produk ikan dan makanan laut dari Norwegia aman untuk dimakan," kata pihak berwenang dalam sebuah pernyataan di situs webnya.

Dikutip dari Straits Times, seorang juru bicara dari agensi mengatakan hal yang sama pada Senin malam, menanggapi berita bahwa jejak virus Corona dilaporkan telah terdeteksi pada talenan yang digunakan untuk mengiris salmon di pasar Beijing.

Juru bicara Singapore Food Agency (SFA) mengatakan bahwa berdasarkan pengetahuan saat ini di komunitas ilmiah dan otoritas kesehatan masyarakat di seluruh dunia, diyakini tidak ada bukti bahwa virus yang menyebabkanCOVID-19 akan ditularkan ke manusia melalui makanan atau kemasan makanan dan peralatan.

Level Waspada Corona Naik Usai Beijing Lapor 106 Kasus Baru

Pemerintah Beijing menutup semua sekolah dasar, sekolah menengah atas, hingga kampus-kampus. Pembelajaran mulai kembali diberlakukan secara online usai menghadapi lonjakan lebih dari 106 kasus Corona baru.
Dikutip dari Daily Mail, gelombang kedua di China yang melanda Beijing disebut berawal dari tempat pemotongan ikan salmon, berdasarkan penyelidikan awal. Kompleks perumahan di dekat pusat perdagangan besar telah ditandai sebagai 'risiko tinggi' dan dikunci untuk menghentikan penyebaran infeksi virus Corona COVID-19.

Pihak berwenang telah meningkatkan kewaspadaan darurat Beijing dari 'level tiga' ke 'level dua', menandakan keseriusan wabah. Pemerintah kini mengklasifikasikan peristiwa tersebut sebagai keadaan darurat kesehatan masyarakat yang 'parah' dan langkah ini akan memberlakukan pembatasan lebih lanjut pada perjalanan warga di keseharian.

Mereka yang tinggal di dekat pasar Xinfadi atau telah berada di sana dalam 14 hari terakhir dilarang meninggalkan Beijing. Sisanya, hanya orang-orang dengan hasil tes virus Corona COVID-19 negatif dalam tujuh hari terakhir yang akan diizinkan untuk bepergian ke luar kota.

"Situasi epidemi di ibukota sangat parah," kata juru bicara kota Beijing Xu Hejian pada konferensi pers.

"Saat ini kita harus mengambil langkah-langkah tegas untuk menghentikan penyebaran Covid-19," lanjutnya.

Semua pasar, restoran, kantin, dan kantor telah diinstruksikan untuk melakukan pembersihan dan disinfeksi mendalam. Fasilitas umum lainnya, seperti museum, galeri, dan taman, hanya dapat beroperasi pada 30 persen dari kapasitas maksimumnya. Bos pasar Xinfadi pada hari Sabtu mengatakan kepada wartawan bahwa para peneliti telah menemukan jejak virus Corona baru pada papan memotong yang digunakan untuk memotong salmon impor. Namun belum ada kelanjutan terkait benar atau tidaknya wabah Corona berkaitan dengan salmon.

Studi Temukan Virus Corona Bisa Menyebar Saat di Toilet, Kok Bisa?

Sebuah studi sebelumnya menunjukkan virus Corona terdapat dalam feses manusia. Berkaitan dengan hal ini, studi lain menyarankan untuk berhati-hati saat di toilet.
Dikutip dari CNN, sebuah studi pemodelan komputer baru menunjukkan bagaimana virus Corona dapat menyebar saat seseorang menyiram feses. Disebutkan, menyiram feses usai buang air besar dapat mengirim partikel-partikel kecil mengandung feses yang mungkin membawa virus Corona.

Dokter telah menunjukkan bahwa virus Corona dapat hidup dan bereplikasi dalam sistem pencernaan, dan bukti virus telah ditemukan dalam kotoran manusia. Ini dianggap sebagai rute penularan yang sangat mungkin terjadi.

Saat ini tim di Universitas Yangzhou China telah menggunakan pemodelan komputer untuk menunjukkan bagaimana air dari toilet dapat menyembur ke udara setinggi tiga kaki atau kurang dari 1 meter.

"Seseorang dapat memperkirakan bahwa kecepatannya akan semakin tinggi ketika toilet sering digunakan, seperti misalnya toilet keluarga yang digunakan bersama atau juga toilet umum," jelas Ji-Xiang Wang dari Yangzhou University, yang bekerja pada penelitian ini, mengatakan dalam sebuah pernyataan.

Studi lain juga menemukan penyebab umum muntah dan diare, dapat menyebar melalui toilet flushing atau ketika menyiram feses. Para peneliti menyarankan bahwa sangat mungkin toilet menyebarkan virus Corona.

"Bukti kontaminasi SARS-CoV-2 atau COVID-19 ditunjukkan dari sampel permukaan dan udara di luar ruang isolasi, dan data awal yang menunjukkan bahwa SARS-CoV-2 dapat hidup di aerosol selama 3 jam, harus meningkatkan kekhawatiran tentang mode transmisi ini dan meminta penelitian tambahan segera," kata Carmen McDermott dari Fakultas Kedokteran Universitas Washington dan rekannya menulis pada bulan April di Journal of Hospital Infection.

Para peneliti kemudian mengimbau untuk tetap waspada saat memakai toilet. Perlu memastikan permukaan di toilet selalu bersih.
https://indomovie28.net/love-each-other-2/