Jumat, 12 Juni 2020

Ruam Kulit Dicurigai Jadi Gejala Serius Infeksi Virus Corona

Ruam di kulit dicurigai menjadi gejala baru serius karena virus Corona COVID-19. Gejala ini awalnya ditemui pada kondisi anak-anak di AS dikaitkan dengan sindrom penyakit langka yaitu kawasaki.
Beberapa anak yang melaporkan gejala ruam tersebut dinyatakan positif Corona. Dikutip Daily Star, seorang wanita asal Inggris Sarah Churchill mengalami kondisi serupa, adanya ruam pada kulit kala dinyatakan positif Corona.

Kondisi ruam pada tangan dan kakinya ini disebutnya terasa menyakitkan. Pada awalnya dokter mengira ia mungkin mengidap kanker darah atau bahkan HIV karena tes medis tidak menunjukkan hasil yang serius.

Lebih dari 3 bulan mengalami gejala tersebut, wanita berusia 36 tahun ini akhirnya dinyatakan positif virus Corona COVID-19. Salah satu ilmuwan di Inggris, Profesor Tim Spector pun mendesak para dokter untuk menanggapi serius ruam kulit tersebut.

Ahli Inggris ini mengatakan ditemukan satu dari sepuluh dan satu dari lima orang yang melaporkan gejala Corona, memiliki kondisi ruam yang serius.

"Ini biasanya dalam kombinasi (dengan gejala lain) tetapi bisa muncul pada waktu yang berbeda, kadang-kadang muncul setelah gejala lainnya. Itu terlihat seperti prediksi bahwa sebenarnya ia positif Corona tetapi dokter tidak menyadarinya," kata Profesor Spector.

"Ini bisa terjadi dua minggu setelah gejala lain, atau dua minggu sebelumnya itu hanya dilewatkan karena masyarakat tidak menyadarinya dan dokter tidak menyadarinya," jelas Prof Spector menunjukkan bahwa ruam telah disorot dalam kasus awal COVID-19 dari Tiongkok dan Eropa, tetapi sejauh ini belum ada penelitian yang dipublikasikan.

Aturan WHO Tentang Pakai Masker Kain di Masa 'New Normal' Pandemi Corona

 Di tengah masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB) transisi ini, sebagian masyarakat mulai menjalani rutinitas di luar rumah. Misalnya rutinitas biasa seperti bekerja.
Namun, di tengah 'new normal' ini satu barang penting yang tidak boleh lupa dibawa adalah masker, apalagi masker non-medis atau kain. Masker kain pun cukup menjanjikan untuk mencegah terjadinya penularan virus Corona saat berada di luar rumah.

Saat memakai masker, ternyata ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Mulai dari cara memakai yang benar hingga hal-hal yang perlu dihindari saat menggunakan masker.

Dikutip dari akun Twitter resmi WHO Indonesia, berikut ini cara menggunakan masker non-medis yang benar dan aman.

1. Cuci tangan sebelum menyentuh masker.

2. Periksa permukaan masker, pastikan tidak rusak atau kotor.

3. Sesuaikan posisi masker pada wajah, sehingga tidak ada celah di bagian samping.

4. Masker harus menutup mulut, hidung, dan dagu.

5. Hindari menyentuh masker saat dipakai.

6. Bersihkan tangan sebelum melepas masker.

7. Lepaskan masker dengan memegang tali yang ada di belakang telinga atau kepala, dan jauhkan dari wajah.

8. Simpan masker di dalam plastik bersih dan tutup rapat jika tidak kotor atau basah, dan akan digunakan kembali.

9. Pegang tali masker untuk mengeluarkannya dari plastik.

10. Cuci masker dengan sabun atau detergen. Akan lebih baik jika menggunakan air panas, setidaknya 1 kali sehari.

11. Cuci tangan setelah melepas masker.

Adapun hal-hal yang harus dihindari saat menggunakan masker kain adalah sebagai berikut:

1. Jangan gunakan masker yang sudah rusak atau kendur.

2. Hindari menggunakan masker di bawah hidung.

3. Jangan melepas masker di dekat orang lain, yang berada dalam jarak satu meter.

4. Jangan gunakan masker yang membuat susah bernapas.

5. Jangan pakai masker yang basah dan kotor.

6. Jangan pernah meminjam masker dengan orang lain.
https://nonton08.com/evaru-2/

Pedagang Positif Corona, Pasar Bisa Jadi Klaster Penyebaran COVID-19

 Tercatat sebanyak 52 pedagang yang tersebar di lima pasar tradisional DKI Jakarta terpapar virus Corona. Direktur Utama Perumda (PD) Pasar Jaya Arief Nasrudin mengatakan, pihaknya akan menutup pasar yang pedagangnya positif COVID-19.
Sebelumnya, beberapa daerah yang juga melakukan tes masif virus Corona di pasar tradisional menemukan adanya pedagang yang terpapar COVID-19, seperti di Padang dengan 113 kasus yang terjadi di Pasar Raya Padang.

Pasar tradisional memang menjadi tempat yang cukup rawan dalam kaitannya dengan potensi penyebaran virus Corona. Pakar kesehatan sekaligus Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Dr dr Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB, menyebut pasar tradisional bisa menjadi kluster penyebaran COVID-19.

"Benar (bisa jadi kluster) kan sudah terjadi. Saya rasa di beberapa tempat sudah terbukti bahwa pasar bisa jadi kluster karena ditemukan pedagang-pedagang yang positif," kata dr Ari saat dihubungi detikcom, Jumat (12/6/2020).

Berbeda dengan pusat perbelanjaan modern, arus keluar masuk di pasar tradisional tidak bisa dikontrol dan tidak semua pasar telah menerapkan protokol kesehatan bagi pengunjung seperti pengecekan suhu tubuh.

"Pasar tradisional kan situasi dan kondisinya tidak memungkinkan walaupun sebenarnya bisa untuk melaksanakan protokol kesehatan. Agak susah memang kalau dibandingkan dengan mal," jelasnya.

"Ada juga beberapa pasar tradisional yang menerapklan ganjil genap dan berjarak. Masalahnya rapih apa nggak tempat jualannya," sambungnya.

Untuk itu dr Ari berharap agar pemerintah daerah setempat melakukan mitigasi dan pengecekan di pasar tradisional yang dianggap berpotensi menjadi kluster baru penyebaran Corona. Melakukan skrining masal ke pedagang dan memaksimalkan pelaksanaan protokol pencegahan COVID-19.

Diusahakan disediakan tempat cuci tangan dengan sabun dan air mengalir di lokasi pasar.

"Untuk para penjual dan pembeli harus menyiapkan handsanitizer jadi setiap waktu bisa dipakai. Kalau memungkinkan, petugas kebersihan juga harus ditambah untuk mendisinfektan di tempat yang sering terjamah baik oleh pedagang maupun pembeli," pungkas dr Ari.

Ruam Kulit Dicurigai Jadi Gejala Serius Infeksi Virus Corona

Ruam di kulit dicurigai menjadi gejala baru serius karena virus Corona COVID-19. Gejala ini awalnya ditemui pada kondisi anak-anak di AS dikaitkan dengan sindrom penyakit langka yaitu kawasaki.
Beberapa anak yang melaporkan gejala ruam tersebut dinyatakan positif Corona. Dikutip Daily Star, seorang wanita asal Inggris Sarah Churchill mengalami kondisi serupa, adanya ruam pada kulit kala dinyatakan positif Corona.

Kondisi ruam pada tangan dan kakinya ini disebutnya terasa menyakitkan. Pada awalnya dokter mengira ia mungkin mengidap kanker darah atau bahkan HIV karena tes medis tidak menunjukkan hasil yang serius.

Lebih dari 3 bulan mengalami gejala tersebut, wanita berusia 36 tahun ini akhirnya dinyatakan positif virus Corona COVID-19. Salah satu ilmuwan di Inggris, Profesor Tim Spector pun mendesak para dokter untuk menanggapi serius ruam kulit tersebut.

Ahli Inggris ini mengatakan ditemukan satu dari sepuluh dan satu dari lima orang yang melaporkan gejala Corona, memiliki kondisi ruam yang serius.

"Ini biasanya dalam kombinasi (dengan gejala lain) tetapi bisa muncul pada waktu yang berbeda, kadang-kadang muncul setelah gejala lainnya. Itu terlihat seperti prediksi bahwa sebenarnya ia positif Corona tetapi dokter tidak menyadarinya," kata Profesor Spector.

"Ini bisa terjadi dua minggu setelah gejala lain, atau dua minggu sebelumnya itu hanya dilewatkan karena masyarakat tidak menyadarinya dan dokter tidak menyadarinya," jelas Prof Spector menunjukkan bahwa ruam telah disorot dalam kasus awal COVID-19 dari Tiongkok dan Eropa, tetapi sejauh ini belum ada penelitian yang dipublikasikan.
https://nonton08.com/bodyguard/