Kamis, 11 Juni 2020

Selain Corona, Ini Ragam Penyakit Mematikan yang Berawal dari Hewan

Bakteri dan virus yang mematikan pada satu jenis hewan dapat berevolusi dengan cepat untuk menginfeksi spesies lain. Saat ini diketahui bahwa virus corona Covid-19 masuk ke dalam jenis penyakit menular dan mematikan yang berasal dari hewan.
Penyakit yang berasal dari hewan kerap dianggap berbahaya sebab mikroba di dua varietas dapat berkumpul dan berevolusi dan inangnya menjadi sangat berbahaya.

Sebenarnya selain corona Covid-19, ada banyak penyakit menular yang berasal dari hewan. Berikut di antaranya dikutip dari Live Science.

1. Covid-19 kemungkinan ditularkan kelelawar
Novel coronavirus yang menyebabkan penyakit Covid-19 awalnya diidentifikasi pada akhir Desember 2019 lalu di Wuhan, China. Pejabat kesehatan mencurigai sumber penularan awal terkait dengan pasar makanan laut di sana. Analisis genetik virus menunjukkan bahwa coronavirus berasal dari kelelawar.

Namun karena tidak ada kelelawar yang dijual di pasar laut yang dianggap episentrum pertama, para ilmuwan berpikir bahwa ada hewan yang belum teridentifikasi yang bertindak sebagai transmisi virus corona ke manusia.

2. HIV-AIDS yang ditularkan simpanse
HIV, virus yang menyebabkan AIDS, telah ditelusuri dibawa oleh salah satu jenis simpanse di Afrika Tengah. Versi simpanse penyakit ini disebut dengan SIV atau simian immunodeficiency virus.

Kemunkinan ditularkan ke manusia saat diburu untuk diambil dagingnya dan terkena darah mereka yang terinfeksi. Begitu terpapar, virus bermutasi menjadi HIV. Studi oleh CDC menunjukkan virus tersebut telah 'melompat' ke manusia sejak 1800-an.

3. Toksoplasma yang ditularkan kucing
Parasit Toxoplasma gondii disebut menginfeksi sekitar 2 miliar orang di seluruh dunia. Beberapa penelitian telah menghubungkan parasit tersebut dengan skizofrenia. Inang utama toksoplasma adalah kucing rumahan, mikrobanya bereproduksi di dalam usus kucing.

Telur parasit bisa terbawa di kotoran kucing dan manusia terkadang terinfeksi saat membersihkannya. Saat parasit T. gondii masuk ke tubuh manusia, ia akan bersembunyi di area tubuh yang kurang kekebalan termasuk otak, jantung dan jaringan otot rangka. Jika menulari manusia, infeksi toksoplasma akan menyebabkan kehilangan penglihatan dan kerusakan otak permanen.

4. Rabies dari gigitan anjing
Rabies adalah penyakit menular yang hampir selalu berakibat fatal setelah timbul gejala klinis. Di 99 persen kasus, anjing menjadi host yang menularkan virus rabies ke manusia dan menular melalui air liur yang didapatkan saat tergigit.

Saat menulari manusia, rabies akan menyebabkan peradangan otak. Gejala awal berupa demam dan kesemutan di area yang tergigit dan dikuti perasaan yang tak bisa dikendalikan, kebingungan dan kehilangan kesadaran. Setelah gejala muncul, sebagian besar yang terinfeksi rabies meninggal dunia.

5. Ebola yang ditularkan kelelawar
Penyakit Ebola menurut CDC menyebar ke manusia dari kelelawar yang terinfeksi dari simpanse dan gorila di Afrika Tengah. Penyakit ini pertama kali diidentifikasi pada tahun 1976 di dekat Sungai Ebola yang sekarang telah menjadi Republik Demokratik Kongo.

Orang dapat tertular virus ini melalui kontak darah dengan hewan yang terinfeksi atau dari cairan tubuh hewan yang membawa virus. Orang yang sakt dapat menyebarkan virus melalui kontak dekat. Tingkat kematian rata-rata untuk virus ini adalah 50% meskipun bervariasi dari 25% hingga 90% dalam situasi yang berbeda.

Gejala virus Ebola meliputi demam mendadak, nyeri otot, sakit kepala dan sakit tenggorokan, sering diikuti dengan muntah, diare, ruam, gangguan fungsi ginjal dan hati, dan dalam beberapa kasus, perdarahan internal dan eksternal.
https://nonton08.com/black-clover-episode-31-subtitle-indonesia/

Bagaimana Gejala Ringan Corona Dapat dengan Cepat Berakibat Fatal?

Para ahli sebelumnya mengingatkan bahwa gejala ringan virus Corona bisa dengan cepat meningkat menjadi gejala serius hingga berakibat fatal. Mengapa bisa begitu?
Mengutip Healthline, dokter mengatakan mereka dengan gejala ringan harus tetap waspada terhadap gejala Corona yang bisa memburuk bahkan menjadi gejala yang serius.

"Penyakit ini dapat menyebabkan gejala ringan pada seseorang, dan kemudian sembuh dalam beberapa hari atau seminggu dan membaik setelahnya," jelas Dr Dana Hawkinson, direktur medis pencegahan dan pengendalian infeksi di The University of Kansas Health System, mengatakan kepada Healthline.

"Sebaliknya, mereka bisa sakit di beberapa hari sebelum atau setelah diagnosis positif Corona. Tidak sedikit yang sembuh kemudian menjadi sakit parah 7 sampai 10 hari kemudian dalam apa yang kita pikir kemungkinan terkait dengan disregulasi kekebalan tubuh atau badai sitokin yang kita semua ketahui sekarang," lanjut Hawkinson.

Badai sitokin mengacu pada reaksi berlebihan dari sistem kekebalan tubuh. Mereka adalah komplikasi umum pada penyakit pernapasan seperti virus Corona COVID-19 dan sindrom pernapasan akut (SARS).

Ketika virus yang menyebabkan COVID-19 memasuki paru-paru, itu membuat sistem kekebalan tubuh merespons dan membawa sel-sel kekebalan ke paru-paru untuk menyerang virus dan menyebabkan peradangan. Pada beberapa orang, sistem kekebalan tubuh bereaksi berlebihan dan menghasilkan aktivasi lebih banyak sel kekebalan tubuh, menyebabkan hiper-peradangan dan bisa berakibat fatal.

"Biasanya ketika orang mendapatkannya, itu dimulai dari pilek atau tanpa gejala. Kemudian, itu dapat berkembang dan menyebabkan pneumonia, hal utama yang menyebabkan orang sakit. Itu biasanya terjadi sekitar hari ke-6 atau ke-7 saat orang mengidap virus Corona COVID-19 tersebut," jelas Dr Dean A Blumberg, kepala penyakit menular anak di Rumah Sakit Anak-Anak Universitas California, kepada Healthline.

"Beberapa di antaranya adalah karena efek langsung (dari virus Corona) pada paru-paru itu sendiri, tetapi sebagian besar juga disebabkan oleh inang respons kekebalan pasien terhadap virus yang dapat menyebabkan sindrom gangguan pernapasan," katanya.

Ada juga laporan sekarang dari beberapa orang dengan COVID-19 yang mengembangkan apa yang dokter gambarkan sebagai 'silent hypoxia'. Di situlah tingkat saturasi oksigen darah menjadi rendah tetapi seseorang tidak mengalami sesak napas.

Berikut gejala-gejala Corona mulai dari ringan hingga parah menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC).

Gejala-gejala virus Corona meliputi:

- Demam
- Batuk
- Panas dingin
- Nyeri otot
- Sakit kepala
- Gangguan indra penciuman dan perasa
- Sakit tenggorokan
- Sesak napas atau kesulitan bernapas

Saat ini, para ahli mengatakan tidak ada cara untuk memprediksi jika gejala seseorang akan berkembang dari ringan ke parah, meskipun ada faktor risiko yang dapat membuat ini lebih mungkin terjadi.

"Virus ini dan infeksi yang ditimbulkannya tampaknya sangat tidak terduga. Kita tahu tentang gejala umum demam, batuk, sesak napas tetapi kita melihat semakin banyak presentasi atipikal lainnya. Selain itu, kita melihat eskalasi gejala dari penyakit ringan ke parah," kata Hawkinson.

"Ada faktor-faktor risiko umum seperti usia, diabetes, hipertensi, penyakit paru-paru, dan penekanan kekebalan, tetapi sayangnya, proses penyakit ini dan penyakit parah dapat mempengaruhi siapa pun, dan kami telah melihat itu terjadi," tambah Hawkinson.
https://nonton08.com/black-clover-episode-28-subtitle-indonesia/