Kamis, 11 Juni 2020

Bagaimana Gejala Ringan Corona Dapat dengan Cepat Berakibat Fatal?

Para ahli sebelumnya mengingatkan bahwa gejala ringan virus Corona bisa dengan cepat meningkat menjadi gejala serius hingga berakibat fatal. Mengapa bisa begitu?
Mengutip Healthline, dokter mengatakan mereka dengan gejala ringan harus tetap waspada terhadap gejala Corona yang bisa memburuk bahkan menjadi gejala yang serius.

"Penyakit ini dapat menyebabkan gejala ringan pada seseorang, dan kemudian sembuh dalam beberapa hari atau seminggu dan membaik setelahnya," jelas Dr Dana Hawkinson, direktur medis pencegahan dan pengendalian infeksi di The University of Kansas Health System, mengatakan kepada Healthline.

"Sebaliknya, mereka bisa sakit di beberapa hari sebelum atau setelah diagnosis positif Corona. Tidak sedikit yang sembuh kemudian menjadi sakit parah 7 sampai 10 hari kemudian dalam apa yang kita pikir kemungkinan terkait dengan disregulasi kekebalan tubuh atau badai sitokin yang kita semua ketahui sekarang," lanjut Hawkinson.

Badai sitokin mengacu pada reaksi berlebihan dari sistem kekebalan tubuh. Mereka adalah komplikasi umum pada penyakit pernapasan seperti virus Corona COVID-19 dan sindrom pernapasan akut (SARS).

Ketika virus yang menyebabkan COVID-19 memasuki paru-paru, itu membuat sistem kekebalan tubuh merespons dan membawa sel-sel kekebalan ke paru-paru untuk menyerang virus dan menyebabkan peradangan. Pada beberapa orang, sistem kekebalan tubuh bereaksi berlebihan dan menghasilkan aktivasi lebih banyak sel kekebalan tubuh, menyebabkan hiper-peradangan dan bisa berakibat fatal.

"Biasanya ketika orang mendapatkannya, itu dimulai dari pilek atau tanpa gejala. Kemudian, itu dapat berkembang dan menyebabkan pneumonia, hal utama yang menyebabkan orang sakit. Itu biasanya terjadi sekitar hari ke-6 atau ke-7 saat orang mengidap virus Corona COVID-19 tersebut," jelas Dr Dean A Blumberg, kepala penyakit menular anak di Rumah Sakit Anak-Anak Universitas California, kepada Healthline.

"Beberapa di antaranya adalah karena efek langsung (dari virus Corona) pada paru-paru itu sendiri, tetapi sebagian besar juga disebabkan oleh inang respons kekebalan pasien terhadap virus yang dapat menyebabkan sindrom gangguan pernapasan," katanya.

Ada juga laporan sekarang dari beberapa orang dengan COVID-19 yang mengembangkan apa yang dokter gambarkan sebagai 'silent hypoxia'. Di situlah tingkat saturasi oksigen darah menjadi rendah tetapi seseorang tidak mengalami sesak napas.

Berikut gejala-gejala Corona mulai dari ringan hingga parah menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC).

Gejala-gejala virus Corona meliputi:

- Demam
- Batuk
- Panas dingin
- Nyeri otot
- Sakit kepala
- Gangguan indra penciuman dan perasa
- Sakit tenggorokan
- Sesak napas atau kesulitan bernapas

Saat ini, para ahli mengatakan tidak ada cara untuk memprediksi jika gejala seseorang akan berkembang dari ringan ke parah, meskipun ada faktor risiko yang dapat membuat ini lebih mungkin terjadi.

"Virus ini dan infeksi yang ditimbulkannya tampaknya sangat tidak terduga. Kita tahu tentang gejala umum demam, batuk, sesak napas tetapi kita melihat semakin banyak presentasi atipikal lainnya. Selain itu, kita melihat eskalasi gejala dari penyakit ringan ke parah," kata Hawkinson.

"Ada faktor-faktor risiko umum seperti usia, diabetes, hipertensi, penyakit paru-paru, dan penekanan kekebalan, tetapi sayangnya, proses penyakit ini dan penyakit parah dapat mempengaruhi siapa pun, dan kami telah melihat itu terjadi," tambah Hawkinson.
https://nonton08.com/black-clover-episode-28-subtitle-indonesia/

Gowes Sehat Saat Pandemi COVID-19, Ini Tips dari Pakar UGM

Beberapa waktu ini jalanan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dipenuhi dengan warga yang bersepeda. Padahal, kondisi DIY masih belum bebas COVID-19. Lalu bagaimanakah tips aman bersepeda saat pandemi Corona?
Dosen Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) UGM Rustamadji membeberkan berolahraga pada saat pandemi Corona tidak dilarang. Namun, ada protokol kesehatan yang harus dijalankan.

"Karena kita tidak tahu siapa yang membawa COVID-19 sehingga kita tidak bisa mengabaikan ada kemungkinan kita sendiri atau orang lain itu menularkan. Itu kewaspadaannya," kata Rustamadji saat dihubungi detikcom, Kamis (11/6/2020).

Pria yang juga menjabat sebagai Ketua Satgas COVID-19 UGM itu juga menuturkan, warga yang bersepeda harus waspada karena masih ada kemungkinan penularan Corona.

"Meskipun Yogya sudah relatif menurun beberapa waktu lalu sempat tidak ada (pasien positif Corona) tapi ternyata masih ada kejadian COVID-19. Artinya masih ada kemungkinan yang menularkan," jelasnya.

Untuk itu, dia memberikan tips aman bersepeda saat Pandemi COVID-19:

1. Tetap Gunakan Masker saat Bersepeda
Kendati bersepeda menggunakan masker itu mengurangi udara yang masuk ke paru-paru, goweser tetap wajib memakai masker.

"Masker yang dipakai, kain tiga lapis itu idealnya. Tapi itu tidak bisa diterapkan untuk olahraga dengan intensitas berat," jelasnya.

Oleh karena itu, goweser harus mengukur kemampuan tubuh dan jika saat bersepeda sudah terasa berat, intensitasnya harus diturunkan.

"Pada prinsipnya itu akan mengurangi udara yang masuk, sehingga harus kita cek intensitas olahraga dengan udara cukup atau tidak," ungkapnya.

2. Intensitas Bersepeda Jangan Terlalu Berat
Rustamadji menuturkan, bersepeda dengan menggunakan masker tentunya berat. Oleh karena itu, dia menyarankan bersepeda hanya untuk bersenang-senang saja.

"Meskipun berolahraga itu berat menggunakan masker, maka olahraganya jangan ngoyo atau berat. Bersepeda untuk happy," sarannya.

"Bagaimana itu kita tahu tidak ngoyo, yaitu ketika mengayuh sepeda masih bisa berbicara dengan baik," lanjutnya.

Namun, hal ini dikembalikan ke masing-masing individu. Pasalnya, ada orang yang memang sudah terbiasa bersepeda dan ada yang belum terbiasa.

"Kalau kita bersepeda, saat ngomong sudah tidak jelas itu tandanya olahraganya sudah ngoyo atau berat sehingga akan bergantung pada masing-masing individu. Untuk mereka yang sudah terlatih akan berbeda intensitasnya untuk individu yang baru pertama kali bersepeda," jelasnya.

"Artinya saat berbicara itu masih jelas, keseimbangan antara kebutuhan oksigen dan latihan tercapai," tambahnya.

3. Gunakan Helm dan Pakaian Tertutup
Bersepeda juga memiliki risiko jika terjatuh. Oleh karena itu, setiap goweser tetap diminta agar melengkapi diri dengan alat pelindung.

"Pakai pelindung. Itu sebenarnya wajib. Nah apa saja itu yang dipakai, tentunya di antaranya memakai helm dan pakaian tertutup," terangnya.

4. Tetap Terapkan Jaga Jarak Antar Pesepeda
Pembatasan jarak juga berlaku saat bersepeda. Pemberian jarak bukan hanya dengan rombongan, namun juga saat berpapasan.

"Jarak itu bukan hanya dengan rombongan tapi juga jaga jarak kalau berpapasan. Ini yang kurang diperhatikan. Ini yang kita takutkan kalau ada orang lain yang mungkin sedang sakit waktu berpapasan dalam jarak yang pendek justru malah berbahaya," ucapnya.
https://nonton08.com/black-clover-episode-30-subtitle-indonesia/