Minggu, 07 Juni 2020

Mantan Menkes Sarankan Anak-anak Tak Cium Tangan untuk Cegah Corona

Cara untuk mencegah penularan virus corona selain selalu menjaga kebersihan yakni diusahakan menghindari kontak langsung dengan orang yang sakit. Selain itu beberapa negara lain sudah mulai untuk tidak melakukan jabat tangan karena perilaku tersebut dinilai mudah menularkan virus.
Mantan Menteri Kesehatan periode 2014-2019, Nila F Moeloek, menyebut mengurangi kontak langsung dengan orang lain bisa menjadi salah satu cara efektif mencegah penularan. Namun ia mengatakan sosialisasinya tidak hanya dilakukan oleh sektor kesehatan saja.

"Kesehatan tidak mungkin berdiri sendiri, bekerja sendiri. Lintas sektor, lintas kementerian diperlukan. Tadi misalnya kritik kalau anak-anak itu tadi sudah diajarkan tidak ada salaman, apalagi kita suka cium tangan, di kebiasaan kita diciumnya ke tangan, itu barangkali kita sudah mulai mengatakan jangan bersentuhan misalnya salamannya aja," sebut Nila saat dijumpai di Gedung Rektorat Universitas Indonesia, Jakarta Pusat, Selasa (11/3/2020).

Menurutnya, Kementerian Pendidikan harus mengambil langkah tegas untuk melindungi anak-anak agar tidak terpajan virus corona mengingat ada potensi penularan melalui kontak langsung. Perlu lintas kementerian yang bekerja bersama-sama dalam menangani virus corona yang semakin meluas.

"Itu memerlukan Kementerian Pendidikan dong, urus sekolah, tidak mengharuskan mereka bersalaman dengan guru atau dengan temannya, untuk sementara waktu. Nanti kalau tidak ada apa-apa mau cium tangan cium dahi, nggak apa-apa," sebutnya.

"Dikbud, menteri perempuan juga, kan dia perlindungan anak dia berhak untuk bicara untuk ini (tidak cium tangan), sudah harus. Jadi harus bicara," pungkasnya.

Di Tengah Heboh Corona, Kematian Akibat DBD hingga Maret Sudah 104 Kasus

Sejak awal 2020, virus corona telah mengambil alih perhatian banyak orang. Kementerian Kesehatan mencatat, kasus kematian akibat Demam Berdarah Dengue (DBD) hingga Maret ini masih tinggi.
dr Siti Nadia Tarmizi, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan zoonotik mengatakan kasus DBD di Indonesia dari Januari hingga Maret mencapai 17.820.

"Total kasus kita sampai saat ini 17.820," kata dr Nadia, di Gedung Kementerian Kesehatan RI, Jakarta Selatan, Rabu (11/3/2020).

Dari total kasus yang ada, angka kematian akibat DBD mencapai 104 orang di 21 Provinsi di Indonesia dengan mayoritas berada di Provinsi NTT mencapai 32 orang.

Kemudian dr Nadia menegaskan harus selalu waspada dengan DBD terlebih sudah mulai memasuki musim penularan dan jangan hanya terlalu fokus dengan virus Corona.

"Jadi jangan fokus Corona, Demam Berdarah Lupa," pungkasnya.

Viral Soal Risiko Kontaminasi Corona di KRL Depok-Bogor-Kota

Penyebaran virus corona sampai saat ini semakin meluas. Hal ini menjadi penyebab semakin bertambahnya pasien suspek maupun yang positif virus tersebut.
Dalam penularannya, virus corona bisa menular dengan droplet atau hanya bisa terjadi saat berada di dekat penderita. Ini sangat mungkin terjadi di sarana transportasi yang tertutup dan padat penumpang. Wilayah KRL 2 yakni rute Bogor-Depok-Jakarta Kota disebut-sebut punya risiko kontaminasi yang tinggi.

Sebuah foto viral menyiratkan hal tersebut. Slide presentasi dalam foto tersebut menyebutkan risiko kontaminasi terbesar terjadi di wilayah KRL-2 atau rute Bogor-Depok-Jakarta Kota. Narasi tersebut tercantum dalam slide berjudul Waspada Risiko COVID-19 via Transportasi Publik.

"Yang pertama di transportasi massal ya, sudah ada," jawab juru bicara pemerintah dalam penanganan virus Corona yang juga Dirjen P2P Kementerian Kesehatan, Achmad Yurianto, di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Rabu (11/3/2020).

Selain di transportasi umum atau massal ini, adapun orang-orang yang sangat rentan terhadap virus corona, salah satunya perokok.

"Merokok itu bisa merusak sel dinding sepanjang saluran napas. Ini akan memudahkan kalau terjadi infeksi," jelasnya.

"Ya kalau mau berhenti merokok ya berhenti saja, nggak usah nunggu COVID," imbuhnya.
https://nonton08.com/cast/alok-chaturvedi/

Demam Berdarah atau DBD: Gejala, Obat, dan Pencegahan

 Selain virus corona, Indonesia kini menghadapi ancaman penyakit musiman demam berdarah atau DBD. Penyakit disebabkan gigitan nyamuk Aedes aegypti yang merupakan vektor virus dengue. Ada empat jenis virus dengue yang bisa mengakibatkan DBD yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4.
Dikutip dari Web MD, diperkirakan ada 400 juta infeksi virus dengue tiap tahunnya. Sekitar 96 juta infeksi menjadi demam berdarah atau DBD, yang umumnya ditemukan di wilayah tropis. Wilayah dengan risiko DBD terbesar adalah anak benua India, Asia Tenggara, China Selatan, Taiwan, Kepulauan Pasifik, Meksiko, Afrika, Amerika Tengah dan Selatan.

Berikut gejala, obat, dan pencegahan penyakit Demam Berdarah atau DBD.
A. Gejala demam berdarah atau DBD
Untuk gejala demam berdarah atau DBD biasanya terjadi 4-6 hari setelah infeksi. Ada 9 kondisi yang menandai gejala demam berdarah atau DBD:

1. Demam tinggi tiba-tiba
2. Pusing yang tidak bisa ditahan
3. Rasa sakit di belakang mata
4. Sakit atau ngilu pada sendi dan otot
5. Lelah
6. Mual
7. Muntah
8. Kulit kemerahan yang terjadi 2-5 hari setelah demam
9. Kadang disertai perdarahan di hidung, gusi, atau bagian tubuh lain yang mudah luka
Dengan gejala tersebut, demam berdarah atau DBD kerap dikira flu atau infeksi virus lainnya. Orang dengan daya imun lemah atau pernah terinfeksi virus dengue berisiko lebih besar mengalami DBD atau demam berdarah.

B. Obat demam berdarah atau DBD
Tidak ada terapi atau obat spesifik untuk mengatasi demam berdarah atau DBD. Biasanya dokter menyarankan pasien untuk istirahat, minum cukup air putih, dan menjalani perawatan lain jika diperlukan.

Jenis obat yang biasa diresepkan adalah acetaminophen untuk meredakan rasa sakit. Untuk aspirin biasanya dihindari karena memperburuk kondisi perdarahan pasien demam berdarah atau DBD.

C. Pencegahan demam berdarah atau DBD
Upaya pencegahan terbaik demam berdarah atau DBD adalah menghindari gigitan nyamuk Aedes aegypti. Terutama jika tinggal atau hendak bepergian ke lokasi dengan iklim tropis. Berikut tindakan preventif yang bisa diterapkan:

1. Menjaga kebersihan lingkungan dan menutup tempat yang bisa menjadi kubangan air
2. Menggunakan antinyamuk meski berada di dalam rumah
3. Memilih baju yang menutup seluruh tubuh
4. Menggunakan skrining pada pintu dan jendela untuk mencegah nyamuk masuk ke dalam rumah
5. Jika mengalami penurunan kondisi tubuh sebaiknya segera ke dokter, terutama jika ada kasus demam berdarah atau DBD di sekitar pasien

D. Diagnosa demam berdarah atau DBD
Dokter biasanya melakukan diagnosa dengan tes darah untuk mengetahui adanya virus atau antibodi. Jika konsultasi, pastikan dokter tahu riwayat perjalanan dan kondisi lingkungan sekitar. Hal ini memudahkan dokter melakukan tes dan menegakkan diagnosa demam berdarah atau DBD.

Mantan Menkes Sarankan Anak-anak Tak Cium Tangan untuk Cegah Corona

Cara untuk mencegah penularan virus corona selain selalu menjaga kebersihan yakni diusahakan menghindari kontak langsung dengan orang yang sakit. Selain itu beberapa negara lain sudah mulai untuk tidak melakukan jabat tangan karena perilaku tersebut dinilai mudah menularkan virus.
Mantan Menteri Kesehatan periode 2014-2019, Nila F Moeloek, menyebut mengurangi kontak langsung dengan orang lain bisa menjadi salah satu cara efektif mencegah penularan. Namun ia mengatakan sosialisasinya tidak hanya dilakukan oleh sektor kesehatan saja.

"Kesehatan tidak mungkin berdiri sendiri, bekerja sendiri. Lintas sektor, lintas kementerian diperlukan. Tadi misalnya kritik kalau anak-anak itu tadi sudah diajarkan tidak ada salaman, apalagi kita suka cium tangan, di kebiasaan kita diciumnya ke tangan, itu barangkali kita sudah mulai mengatakan jangan bersentuhan misalnya salamannya aja," sebut Nila saat dijumpai di Gedung Rektorat Universitas Indonesia, Jakarta Pusat, Selasa (11/3/2020).
https://nonton08.com/cast/akemi-okamura/