Jumat, 05 Juni 2020

Disinggung Menkes Terawan, Ini Arti 'Self Limiting Disease'

Pemerintah mengumumkan tiga pasien virus corona COVID-19 sembuh dan bisa dipulangkan. Mengingat penyakit ini belum ada vaksin atau obatnya, Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menyebut hal ini dikarenakan sifat bawaan virus itu sendiri.
"Dan saya merasa sangat berbahagia. Bahwa teorinya benar bahwa memang ini adalah self limiting disease yang akan sembuh sendiri. Penyakit yang akan sembuh sendiri," kata Terawan saat jumpa pers di RSUP Persahabatan, Jakarta Timur, Kamis (12/3/2020).

Dalam dunia kedokteran, mengutip salah satu jurnal di Pediatric Critical Care Medicine, istilah self-limiting disease mengisyaratkan suatu kondisi akan berjalan dengan sendirinya meski tanpa perawatan medis atau gejala bisa sembuh sendiri. Walau ada fakta kondisi bisa sembuh sendiri, tidak berarti bahwa perawatan medis tak berpengaruh pada kesembuhan pasien yang lebih cepat.

Misalnya pada kasus virus corona yang belum ada obatnya, meski sifat virus disebut bisa mati dengan sendirinya, pasien tetap diberikan obat untuk mengurangi gejalanya meski bukan untuk membunuh virus.

Sebelumnya, di China, saat kasusnya mulai merangkak naik, ada sekitar 50 pasien yang dinyatakan sembuh oleh otoritas kesehatan. Mengingat virus corona belum ada obatnya, para ahli menyebut sifat virus yang self limiting disease bisa juga dikaitkan dengan sistem imun seseorang.

"Virusnya memang self limiting disease mati setelah lima sampai tujuh hari," kata dr Frans Abednego Barus, SpP, spesialis paru dari OMNI Hospital Pulomas, beberapa waktu lalu.

Tangkal Corona, Mahasiswa UMI Makassar Bikin Hand Sanitizer Antiiritasi

Fakultas Teknologi Industri (FTI) Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar menciptakan hand sanitizer atau pencuci tangan alami. Hand sanitizer ini dipercaya mampu menangkal bakteri termasuk virus corona.
"Ini sebagai pengganti cuci tangan yang mengandung antiseptik karena menggunakan alkohol 70 persen dan aloevera atau lidah buaya sebagai perawatan kulit yang melembutkan kulit sehingga tak terjadi iritasi dan ditambahkan dengan essential oil untuk digunakan sebagai pewangi," kata Kepala Laboratorium FTI UMI Makassar, Dr Rismawati Rasyid, ditemui, Kamis (12/3/2020).

Rismawati menjelaskan untuk membuat hand sanitizer sangat mudah, mahasiswa hanya membeli alkohol 70 persen yang dicampurkan oleh lidah buaya dan ekra kulit jeruk. Campuran ini kemudian dianggap sebagai pembunuh kuman, bakteri hingga virus corona, bahkan bahan yang digunakan dijamin alami kecuali alkohol 70 persen.

"Bahan yang digunakan yaitu alkohol 70 persen kemudian lidah buaya gel dalam bentuk selnya, kemudian ekstrak kulit jeruk menurut literatur alkohol 70 persen itu bermanfaat untuk membunuh kuman termasuk virus Corona, semua bahan yang alami kecuali alkohol dibeli di toko bahan kimia alkohol 70 persen lidah buaya bisa digunakan di yang ada di sekitar," jelasnya.

Karena menggunakan bahan alami, diklaim tidak memicu iritasi kulit.Karena menggunakan bahan alami, diklaim tidak memicu iritasi kulit. Foto: Ibnu Munsir/detikHealth
Pencuci tangan anti corona ini akan digunakan oleh seluruh mahasiswa di FTI Universitas Muslim Indonesia Makassar dan dibagikan secara gratis bagi para mahasiswa. Hal ini agar lingkungan kampus tetap terjaga dan mengantisipasi penyebaran virus corona.

"Kita ini, kita akan gunakan untuk dibagikan di sekitar kampus karena sekarang stoknya sudah tidak ada hampir habis di toko-toko, makanya kami dari laboratorium mengadakan hand sanitizer ini untuk dibagikan secara gratis," terangnya.
https://kamumovie28.com/goals-of-the-boarding-house-mistress/

Sumbang 15 Persen Kematian di Indonesia, Kenali Gejala Stroke

Menurut riset kesehatan dasar (RISKESDAS), yang diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan RI pada tahun 2013, di Indonesia terdapat lebih dari 2 juta penduduk, atau 12 dari 1000 penduduk mengalami stroke, dengan persentase terbesar berasal dari provinsi Sulawesi Selatan.
Selain itu, stroke juga merupakan pembunuh nomor 1 di Indonesia, lebih dari 15 persen kematian di Indonesia disebabkan oleh stroke. Menurut Dr dr Al Rasyid, SpS(K), Dept. Neurology Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/RS Cipto Mangunkusumo mengatakan, gejalanya seperti kelumpuhan mendadak pada tubuh dan tidak bisa berbicara dengan normal.

"Gejalanya seperti lumpuh mendadak, tiba-tiba lumpuh separuh, mulut mencong, dan bicara cadel. atau ga bisa ngomong mendadak dan vokal yang disebutkan tidak jelas," kata dr Rasyid, kepada DetikHealth, Kamis (12/3/2020).

dr Rasyid juga menganjurkan untuk melihat tips mudah untuk mengenali tanda-tanda stroke dari Kementrian Kesehatan Indonesia dengan slogan SEGERA Ke RS.

SEGERA Ke RS adalah singkatan dari:

SEnyum tidak simetris (mencong ke satu sisi), sulit menelan air minum secara tiba-tiba.

GErak separuh anggota tubuh melemah tiba-tiba.

bicaRA pelo/tiba-tiba tidak dapat bicara/tidak mengerti kata-kata.

KEbas atau kesemutan separuh tubuh.

Rabun, padangan satu kabur terjadi tiba-tiba.

Sakit kepala hebat yang muncul tiba-tiba dan tidak pernah dirasakan sebelumnya, gangguan fungsi kesimbangan.

Disinggung Menkes Terawan, Ini Arti 'Self Limiting Disease'

Pemerintah mengumumkan tiga pasien virus corona COVID-19 sembuh dan bisa dipulangkan. Mengingat penyakit ini belum ada vaksin atau obatnya, Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menyebut hal ini dikarenakan sifat bawaan virus itu sendiri.
"Dan saya merasa sangat berbahagia. Bahwa teorinya benar bahwa memang ini adalah self limiting disease yang akan sembuh sendiri. Penyakit yang akan sembuh sendiri," kata Terawan saat jumpa pers di RSUP Persahabatan, Jakarta Timur, Kamis (12/3/2020).

Dalam dunia kedokteran, mengutip salah satu jurnal di Pediatric Critical Care Medicine, istilah self-limiting disease mengisyaratkan suatu kondisi akan berjalan dengan sendirinya meski tanpa perawatan medis atau gejala bisa sembuh sendiri. Walau ada fakta kondisi bisa sembuh sendiri, tidak berarti bahwa perawatan medis tak berpengaruh pada kesembuhan pasien yang lebih cepat.

Misalnya pada kasus virus corona yang belum ada obatnya, meski sifat virus disebut bisa mati dengan sendirinya, pasien tetap diberikan obat untuk mengurangi gejalanya meski bukan untuk membunuh virus.

Sebelumnya, di China, saat kasusnya mulai merangkak naik, ada sekitar 50 pasien yang dinyatakan sembuh oleh otoritas kesehatan. Mengingat virus corona belum ada obatnya, para ahli menyebut sifat virus yang self limiting disease bisa juga dikaitkan dengan sistem imun seseorang.

"Virusnya memang self limiting disease mati setelah lima sampai tujuh hari," kata dr Frans Abednego Barus, SpP, spesialis paru dari OMNI Hospital Pulomas, beberapa waktu lalu.
http://kamumovie28.com/erotic-moves-directors-cut/