Rabu, 13 Mei 2020

Hoax Vs Fakta, Benarkah Ada Meteor Jatuh di Surabaya?

 Media sosial kembali diramaikan kabar adanya meteor jatuh di wilayah Surabaya, Jawa Timur. Kabar yang beredar di Facebook ini sebetulnya sudah muncul sejak Jumat (8/5/2020), namun masih dibaca dan menjadi trend di Google.
Kepala Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN) Thomas Djamaluddin menyatakan kabar tersebut tidak benar. Masyarakat tak perlu khawatir atau menganggap serius kabar meteor jatuh yang beredar di Facebook dan Twitter.

"Hoax. Itu sampah antariksa yg jatuh di luar Indonesia," kata Thomas dalam pesan pendek yang diterima detikcom pada Senin (11/5/2020).

Dikutip dari situs LAPAN, sampah antariksa yang dianggap meteor jatuh tersebut punya nama lain yaitu space debris atau space junk. Menurut PBB, sampah antariksa adalah semua benda buatan yang mengorbit bumi namun tidak punya fungsi. Benda buatan tersebut misalnya satelit atau roket yang sudah tidak beroperasi lagi.

Sampah antariksa juga bisa berupa materi yang tidak atau sengaja terlepas di luar angkasa. Materi yang tidak sengaja misal sarung tangan astronot, serpihan cat, dan pelindung permukaan. Sedangkan contoh materi yang sengaja dilepas adalah baut atau tangki bahan bakar saat satelit beroperasi.

Materi lain yang termasuk sampah antariksa adalah benda luar angkasa yang mengalami reentry di atmosfer. Sampah antariksa menjadi telah menjadi agenda khusus di Scientific and Technical Subcommitte (STSC) PBB sejak 1994.

Sampah antariksa, yang dikira meteor jatuh tersebut, menjadi perhatian internasional karena berisiko mengganggu dan merusak satelit. Wahana antariksa lain yang masih beroperasi juga bisa terganggu karena besarnya energi yang dimiliki sampah antariksa.

Situs LAPAN mengatakan, kecepatan sampah antariksa mencapai 7 km/detik atau 25 km/jam. Artinya, sampah dengan berat 5 kilogram bisa memiliki energi sebanding mobil yang bergerak dengan kecepatan 100 km/jam.

PBB telah menyusun pedoman mitigasi untuk mengendalikan sampah antariksa. Mitigasi meliputi komitmen mengendalikan sampah dan desain satelit atau roket yang minim space junk. Cara lain adalah memasukkan sampah antariksa yang berada di orbit rendah ke dalam bumi, sehingga tidak ada lagi yang mengira sampah antariksa sebagai meteor jatuh.

Penyesalan Bill Gates, Gagal Ingatkan Donald Trump Soal Pandemi

 Bill Gates sejak jauh hari sudah memperingatkan bahaya pandemi. Pada Desember 2016, dia mengemukakan hal tersebut pada Presiden AS Donald Trump.
Selama pertemuan yang berlangsung di Trump Tower bersama Trump yang baru terpilih sebagai Presiden AS kala itu, Gates mendiskusikan bahaya penyakit menular dan mendorong Trump memprioritaskan upaya kesiapsiagaan negara untuk menanggulanginya.

Dikutip detikINET dari Business Insider, saran tersebut ternyata juga diberikan Gates secara personal kepada setiap kandidat Presiden AS 2016 lainnya.

Perhatian Gates dalam mengupayakan lebih banyak investasi untuk kesehatan masyarakat bukanlah hal baru saat itu. Saat berbicara di TED Talk 2015 pun Gates sudah pernah mengatakan ancaman virus bisa menimbulkan risiko terbesar bencana global.

"Jika ada yang membunuh lebih dari 10 juta orang selama beberapa dekade ke depan, kemungkinan besar itu adalah virus yang sangat menular. Bukan perang, bukan rudal, tetapi mikroba," kata Gates kala itu.

Dia menambahkan, banyak negara menghabiskan banyak uang untuk menghindari perang nuklir, tetapi hampir tidak ada menyiapkan apapun untuk sebuah sistem yang bisa menghentikan epidemi.

Terlepas dari upayanya mendesak publik dan para pejabat untuk kesiapsiagaan pandemi, Gates merasa upayanya dalam mendorong hal tersebut masih belum maksimal.

"Saya berharap saya bisa berbuat lebih banyak dalam memperhatikan dan mencegah bahaya," ujarnya.

Gates sendiri, melalui Bill and Melinda Gates Foundation telah berkomitmen mengucurkan pendanaan lebih dari USD 300 juta sebagai upaya penanganan virus corona.

Sementara Trump, dihujani kritikan tajam untuk berbagai langkah yang diambilnya, bahkan sebelum pandemi virus corona terjadi.

Sejumlah langkah kontroversial tersebut antara lain pemotongan anggaran untuk badan dan program pemerintah yang bertanggung jawab mendeteksi dan menanggapi epidemi. Dia pun mengabaikan banyak peringatan tentang kemungkinan terjadinya wabah.

China Realisasikan Ancaman Terhadap Australia Pendorong Penyelidikan Corona

 China kini merealisasikan ancamannya terhadap Australia. Kemarin, China resmi menangguhkan impor dari empat pemasok daging sapi utama dari Australia.
Penangguhan itu buntut dari sikap pemerintah Australia yang gencar mendorong penyelidikan global terkait asal-usul virus Corona (COVID-19). Australia menilai perlunya dibentuk komisi untuk menyelidiki tentang bagaimana virus Corona bertransformasi dari epidemi lokal di China menjadi pandemi yang menewaskan lebih dari 286.000 orang di seluruh dunia.

Perdana Menteri (PM) Australia Scott Morrison bahkan mencari dukungan untuk penyelidikan internasional itu dengan menelepon para pemimpin dunia seperti Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Kanselir Jerman Angela Merkel hingga Presiden Prancis Emmanuel Macron.

"Hal ini membutuhkan dukungan banyak pihak dan negara untuk bersama-sama mendorong transparansi dan memastikan bahwa adanya mekanisme penyelidikan yang bisa dipercaya," kata Menteri Luar Negeri Australia, Marise Payne kala itu.

Upaya Australia itu pun menuai ancaman dari China. China yang geram atas sikap pemerintah Australia itu mengancam memboikot sejumlah komoditas dari Australia, seperti anggur hingga daging.

"Terserah orang untuk memutuskan. Mungkin orang-orang biasa akan mengatakan 'Mengapa kita harus minum anggur Australia? Makan daging sapi Australia?'," kata Duta Besar China untuk Australia, Cheng Jingye pada 28 April lalu.

"Jika suasana berubah dari buruk menjadi lebih buruk, orang akan berpikir 'mengapa kita harus pergi ke negara yang tidak begitu bersahabat dengan China?' Para wisatawan mungkin memiliki pemikiran ulang," imbuhnya.

Cheng juga mengancam soal aliran mahasiswa China ke universitas-universitas Australia, yang merupakan sumber pendapatan utama yang sudah terancam karena pembatasan perjalanan karena pandemi Corona.

Kini ancaman itu pun direalisasikan. Pada 12 Mei 2020 kemarin, China menangguhkan impor daging sapi dari Australia.

Untuk diketahui, keempat pemasok di Australia - tiga dari Queensland dan satu dari New South Wales - menjual sekitar AUS $ 1,7 miliar (US $ 1,1 miliar) daging sapi ke China setiap tahunnya. Mereka menghasilkan sekitar 35 persen dari total ekspor daging sapi.

Dilansir dari AFP, Selasa (12/5/2020) Menteri Perdagangan Australia Simon Birmingham mengatakan, pengiriman daging dari empat penjagalan telah ditangguhkan karena pelanggaran "teknis kecil" terkait dengan kesehatan China dan persyaratan pelabelan sertifikat.

"Kami khawatir bahwa penangguhan tersebut tampaknya didasarkan pada masalah yang sangat teknis, yang dalam beberapa kasus mundur lebih dari setahun," kata Simon Birmingham.

"Kami akan bekerja dengan industri dan otoritas di Australia dan China untuk mencari solusi yang memungkinkan bisnis ini untuk melanjutkan operasi normal mereka sesegera mungkin," sambungnya.

Para analis mengatakan langkah itu bisa meningkatkan kekhawatiran soal kemungkinan pertikaian antara Australia dan China sebagai mitra dagang terpentingnya. Termasuk kemungkinan persoalan ini dapat meluas ke sektor-sektor penting lainnya ketika Australia tengah berjuang untuk menavigasi krisis ekonomi yang disebabkan oleh pandemi Corona.