Senin, 11 Mei 2020

Eric Schmidt Tidak Lagi Jadi Penasihat di Google

Mantan CEO Google Eric Schmidt tidak lagi menjabat sebagai penasihat di raksasa teknologi tersebut dan perusahaan induknya Alphabet. Saat menjadi pemimpin Google, Schmidt merupakan sosok yang mengubah Google dari startup Silicon Valley menjadi raksasa global.
Mundurnya Schmidt dari Google pertama kali dilaporkan oleh Cnet. Dikutip detikINET, Minggu (10/5/2020) Schmidt mundur dari jabatannya sebagai penasihat pada Februari 2020.

Pria berusia 65 tahun ini pertama kali bergabung sebagai CEO Google pada 2001. Ia dibawa sebagai 'orang dewasa' yang mengawasi kerja co-founder Sergey Page dan Larry Brin yang dianggap masih sangat muda.

Saat dipimpin Schmidt, Google melebarkan sayapnya dari sekedar menawarkan mesin pencari ke teknologi lainnya, termasuk smartphone dan video online. Schmidt juga bertanggung jawab membawa Google menuju IPO pada 2004.

Pada tahun 2011, Page menggantikan Schmidt sebagai CEO Google, tapi ia tetap menjadi executive chairman dewan direksi. Pada tahun 2015, Google melakukan restrukturisasi dan menciptakan perusahaan induk bernama Alphabet.

Scmhidt kemudian menjadi executive chairman untuk entitas baru tersebut. Pada tahun 2017, ia mundur dari jabatan di Google dan Alphabet lalu menjabat sebagai penasihat yang fokus dalam isu sains dan teknologi.

Sejak perannya di Google semakin mengecil, Schmidt banyak bekerja dengan sektor militer. Sejak tahun 2016 ia menjadi chairman U.S. Defense Innovation Board, kelompok penasihat yang bertugas menghadirkan teknologi baru untuk Pentagon.

Baru-baru ini, Schmidt ditunjuk Walikota New York Andrew Cuomo untuk mengepalai komisi yang mengurus isu teknologi selama dan sesudah pandemi virus Corona.

Mundurnya Schmidt dari jabatan terakhirnya di Google dan Alphabet menandakan ia tidak lagi mendapatkan gaji, tapi ia masih memegang saham perusahaan sebesar USD 5,3 miliar. Sebagai penasihat, ia mendapatkan gaji sebesar USD 1 setiap tahunnya.

Instagram Bakal Kedatangan Sederet Fitur Baru

 Instagram sepertinya sedang menyiapkan sejumlah fitur baru untuk aplikasi mobile-nya. Bocoran fitur-fitur ini ditemukan oleh developer Alessandro Paluzzi.
Dikutip detikINET dari Phone Arena, Senin (11/5/2020), fitur pertama memudahkan kreator untuk mengakses Insights lewat tombol yang ada di profil. Insights sendiri merupakan tool analitik untuk mengetahui lebih banyak tentang followers agar kreator bisa menyusun kontennya sesuai data yang ditampilkan.

Bulan lalu, Paluzzi juga melaporkan bahwa Instagram sedang menguji fitur yang memungkinkan pengguna untuk meneruskan pesan langsung (DM). Kemungkinan fitur ini akan dibatasi penerimanya, seperti pembatasan yang ada di WhatsApp, untuk mencegah penyebaran hoax.

Saat ingin menghapus pesan yang telah dikirim, Instagram juga akan menampilkan peringatan yang mengatakan pesan tersebut mungkin telah dilihat atau diteruskan oleh orang lain.

Selain itu, Instagram juga akan meluncurkan fitur 'pre-live titles'. Fitur ini memungkinkan pengguna untuk menambahkan judul dan deskripsi di video Live mereka untuk memberikan gambaran tentang sesi Live tersebut kepada orang lain.

Tampilan kolom Stories juga sepertinya mengalami perubahan. Bocoran dari Paluzzi menunjukkan kolom Stories yang ditampilkan dalam bentuk halaman dan lebih berjarak dibanding tampilan sekarang.

WFH, Setengah dari Karyawan Nonton Konten Dewasa di Perangkat Kerja

 Work from home alias bekerja dari rumah menjadi bagian dari kehidupan dan pekerja saat pandemi. Namun karenanya, hal ini berpotensi mengaburkan garis antara kehidupan pribadi dengan pekerjaan.
Karena itu pula, setengah (51%) dari mereka yang bekerja dari rumah mulai menonton lebih banyak konten dewasa di perangkat yang sama yang mereka pakai untuk bekerja.

Ini merupakan salah satu temuan Kaspersky dalam laporannya yang berjudul 'How COVID- 19 changed the way people work'. Kehidupan 'normal baru' yang dihadapi para karyawan saat ini mulai berdampak pada keseimbangan kehidupan pekerjaan mereka.

Hampir sepertiga (31%) karyawan mengatakan mereka menghabiskan lebih banyak waktu untuk bekerja daripada sebelumnya. Namun, 46% mengatakan mereka menghabiskan jumlah waktu lebih banyak untuk kegiatan pribadi.

Perubahan spesifik seperti ini mungkin terjadi karena para karyawan sekarang tidak harus bolak-balik atau bepergian sebanyak sebelumnya.

Laporan tersebut juga mengungkapkan bahwa semakin sulit bagi para karyawan untuk memisahkan kegiatan pekerjaan dan kehidupan pribadi, terutama dalam urusan IT.

Temuan yang cukup mengkhawatirkan bagi bisnis, 51% karyawan mengakui telah mulai menonton lebih banyak konten dewasa pada perangkat kantor sejak mereka bekerja dari rumah.

Hampir seperlima (18%) karyawan bahkan melakukannya pada perangkat yang disediakan oleh perusahaan, dengan 33% mengaku menonton konten dewasa di perangkat pribadi mereka yang juga digunakan untuk bekerja.

Selain itu, 55% karyawan mengatakan mereka membaca berita lebih banyak dibandingkan saat sebelum memulai bekerja dari rumah.

Meskipun hal ini sangat wajar karena setiap orang tetap ingin mendapatkan informasi terbaru tentang perkembangan virus corona, fokus laporan ini adalah bagaimana 60% dari kegiatan ini dilakukan pada perangkat yang digunakan untuk bekerja.

Pasalnya, hal ini berpotensi menyebabkan infeksi malware, terutama jika karyawan tidak memperhatikan sumber daya dan situs web yang mereka kunjungi.

Para karyawan juga mulai menerapkan kebiasaan menggunakan layanan pribadi mereka untuk tujuan pekerjaan sehingga meningkatkan risiko potensial dari bayang-bayang keamanan IT, termasuk pengungkapan informasi sensitif.

Misalnya, 42% karyawan menggunakan akun email pribadi untuk hal-hal terkait dengan pekerjaan, dan 49% mengakui penggunaannya meningkat ketika bekerja dari rumah.

Sebanyak 38% menggunakan messenger pribadi yang belum disetujui oleh departemen IT kantor mereka, dengan 60% dari mereka melakukannya lebih sering dalam situasi baru seperti saat ini.

"Sebuah organisasi atau perusahaan tidak bisa hanya memenuhi seluruh permintaan pengguna, seperti mengizinkan staf untuk menggunakan layanan apa pun yang mereka inginkan," komentar Andrey Evdokimov, Chief Information Security Officer di Kaspersky dalam keterangan resminya.

Menurutnya, penting untuk menemukan keseimbangan antara kenyamanan pengguna, kebutuhan bisnis, dan keamanannya. Untuk mencapai hal ini,
perusahaan harus menyediakan akses ke layanan berdasarkan pada prinsip hanya menyediakan minimal, hak istimewa yang diperlukan, mengimplementasikan VPN dan menggunakan sistem perusahaan yang aman dan sudah disetujui.

"Jenis perangkat lunak seperti ini mungkin memiliki batasan tertentu yang sedikit mengurangi kegunaan, tetapi menawarkan jaminan lebih besar dalam menyediakan standar keamanan," ujarnya.

Demi memastikan bisnis melakukan seluruh upaya untuk menjaga karyawan dan data perusahaan tetap aman, Kaspersky merekomendasikan pemilik bisnis untuk mengikuti langkah-langkah berikut:

Jadwalkan pelatihan kesadaran keamanan dasar untuk karyawan. Ini dapat dilakukan secara online dan mencakup praktik-praktik penting, seperti manajemen akun dan kata sandi, keamanan email, keamanan endpoint
Pastikan seluruh perangkat, software, aplikasi dan layanan tetap diperbarui dengan patch terbaru
Instal perlindungan software yang telah terbukti, seperti Kaspersky Endpoint Security Cloud di seluruh end point, termasuk perangkat seluler, dan mengaktifkan firewall. Solusi apa pun yang digunakan harus mencakup perlindungan dari ancaman web dan email phishing.


Untuk para karyawan dan pengguna rumahan yang harus bekerja dari perangkat pribadi mereka, Kaspersky menyarankan:

Menggunakan solusi keamanan yang andal, seperti Kaspersky Security Cloud, untuk perlindungan komprehensif dari berbagai ancaman
Hanya mengunduh konten edukasi dan hiburan dari sumber tepercaya.