Sabtu, 09 Mei 2020

Trump Telpon PM Malaysia Bahas Penanganan Corona

PM Malaysia Muhyiddin Yassin mengatakan bahwa dirinya baru saja dihubungi oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melalui sambungan telpon. Dalam pembicaraan tersebut ia dan Trump berdiskusi mengenai penyebaran wabah virus corona.

Diskusi mengerucut pada pendekatan dan cara yang sudah dilakukan 2 negara dalam mengatasi penyebaran virus tersebut. Selain itu, diskusi juga berkaitan dengan pandangan dua negara terhadap penanganan penyebaran virus corona di dunia.

"Kami turut menekankan pentingnya kerja sama komuniti antarbangsa bagi mengurangkan kesan pandemik tersebut ke atas kesejahteraan hidup masyarakat dunia dan ekonomi global," katanya seperti dikutip dari Antara, Sabtu (9/5).


Ia mengatakan kerja sama tersebut juga perlu dilakukan dalam pengembangan vaksin dan obat corona. "Serta akses sama rata kepada vaksin Covid-19 kelak," katanya. 

Selain isu corona, Muhyiddin mengatakan ia dan Trump juga berdiskusi soal kerja sama keamanan antar bangsa. Tapi ia tidak merinci kerja sama yang dibahas tersebut.

Sebagai informasi, pada masa penyebaran virus corona, Trump juga pernah berhubungan melalui telpon dengan Presiden Jokowi. Dalam pembicaraan telpon tersebut, ia menyebut pemerintah Indonesia meminta bantuan ventilator untuk mengatasi penyebaran virus corona.

"Baru saja berbicara dengan seorang teman, Presiden RI Joko Widodo. Ia meminta ventilator yang tentu akan kami berikan. Kerja sama hebat antara kami," tulis Trump di akun Twitternya, Jumat (24/4), sekitar satu jam lalu.

Kasus Corona di Dunia Tembus 4 Juta, 1,3 Juta Pasien Sembuh

Jumlah kasus infeksi virus corona di seluruh dunia hingga Sabtu (9/5) mencapai 4.014.320 orang.

Berdasarkan data statistik Worldometer, pasien yang dinyatakan sembuh sebanyak 1.387.181 dan 276.237 kematian.

AS memiliki 1.322.163 kasus corona, 78.616 kematian, dan 223,749 dinyatakan sembuh.

Spanyol berada di urutan kedua dengan 260.117 kasus, 26.299 kematian dan 168.408 sembuh. Selanjutnya Italia yang mencatat 217.185 kasus, 30.201 kematian, dan 99.023 sembuh.

Inggris memiliki 211.364 kasus, dan 31.241 kematian. Sementara Rusia memiliki 187.859 kasus dan 26,608 pasien sembuh. Tingkat kematian corona di Rusia terbilang rendah yakni 1.723 jiwa.

Di Timur Tengah, Iran menjadi yang tertinggi dengan 104.691 kasus, 6.541 kematian, dan 83.837 sembuh. China yang diduga menjadi tempat pertama kali virus itu merebak mencatatkan 82.887 kasus, 4.633 kematian, dan 78.046 sembuh.

Di Asia Tenggara, Singapura menjadi yang tertinggi dengan 21.707 kasus, 20 kematian, dan 2.040 sembuh.

Kemudian disusul Indonesia dengan 13.112 kasus, 943, dan 2.494 sembuh.

Diduga virus itu berasal dari hewan lalu menular kepada manusia. Virus itu kemudian menyebar ke penjuru negeri dan bahkan lintas negara.

Vaksin sejauh ini dinilai sebagai cara paling efektif untuk menghentikan penyebaran Covid-19.

Virus mematikan itu sulit dihilangkan jika hanya mengandalkan tindakan pengendalian seperti menjaga jarak maupun lockdown.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menjelaskan vaksin sangat diperlukan untuk menghentikan transmisi sepenuhnya.

Sementara Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres menilai vaksin virus corona merupakan satu-satunya cara untuk mengembalikan dunia kembali ke keadaan normal. 

Rusia Tunda Perayaan Momentum Perang Dunia II Akibat Corona

Presiden Rusia Vladimir Putin memutuskan menunda parade di Lapangan Merah untuk merayakan peringatan 75 tahun berakhirnya Perang Dunia Kedua setiap tanggal 9 Mei, akibat pandemi virus corona SARS-Cov-2 (Covid-19).

Nantinya Putin hanya akan memberikan pidato sekitar 20 menit di samping tembok Kremlin yang disiarkan secara langsung. Tembok ini merupakan saksi bisu kejayaan Rusia.

Sebelum pandemi, pemerintah Rusia berencana untuk melangsungkan peringatan meriah di Lapangan Merah, berupa upacara, perayaan, dan parade militer.


Perayaan tersebut akan berlangsung 90 menit dan menampilkan 15 ribu tentara, sejumlah kendaraan mobil tua, dan sistem rudal terbaru di depan para veteran dan pemimpin dunia termasuk Presiden Prancis, Emmanuel Macron.

Acara perayaan ini dimaksudkan untuk menghormati pengorbanan jutaan warga Uni Soviet (kini Rusia) yang gugur dalam perang.

Selain itu, alasan pemerintah Rusia menampilkan alat-alat perang militer untuk menunjukkan kekuatan Rusia kepada dunia di tengah konflik.

"Puncak risiko terkait pandemi (virus corona baru) belum berlalu dan masih sangat tinggi. Maka saya tidak berhak untuk memulai persiapan parade ini," kata Putin seperti dikutip AFP.

Walikota Moskow pun telah menghimbau kepada warganya untuk tinggal di rumah dan menonton pidato Putin yang akan disiarkan pukul 07.00 malam waktu setempat.

Selain itu, akan ada acara mengheningkan cipta selama satu menit demi mendoakan jutaan warga Rusia yang gugur selama PD II.

Sejumlah pemimpin negara memperingati 75 tahun PD II di Eropa yang berakhir pada Mei 1945 silam. Mereka meminta warga negaranya untuk mengambil hikmah dan inspirasi untuk melawan virus corona (Covid-19).

Peringatan di masing-masing negara memang tidak meriah dan tidak melibatkan banyak orang. Namun, para pemimpin negara tetap ingin peringatan itu menjadi momentum di tengah pandemi virus corona. 

Trump Telpon PM Malaysia Bahas Penanganan Corona

PM Malaysia Muhyiddin Yassin mengatakan bahwa dirinya baru saja dihubungi oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melalui sambungan telpon. Dalam pembicaraan tersebut ia dan Trump berdiskusi mengenai penyebaran wabah virus corona.

Diskusi mengerucut pada pendekatan dan cara yang sudah dilakukan 2 negara dalam mengatasi penyebaran virus tersebut. Selain itu, diskusi juga berkaitan dengan pandangan dua negara terhadap penanganan penyebaran virus corona di dunia.

"Kami turut menekankan pentingnya kerja sama komuniti antarbangsa bagi mengurangkan kesan pandemik tersebut ke atas kesejahteraan hidup masyarakat dunia dan ekonomi global," katanya seperti dikutip dari Antara, Sabtu (9/5).


Ia mengatakan kerja sama tersebut juga perlu dilakukan dalam pengembangan vaksin dan obat corona. "Serta akses sama rata kepada vaksin Covid-19 kelak," katanya. 

Selain isu corona, Muhyiddin mengatakan ia dan Trump juga berdiskusi soal kerja sama keamanan antar bangsa. Tapi ia tidak merinci kerja sama yang dibahas tersebut.

Sebagai informasi, pada masa penyebaran virus corona, Trump juga pernah berhubungan melalui telpon dengan Presiden Jokowi. Dalam pembicaraan telpon tersebut, ia menyebut pemerintah Indonesia meminta bantuan ventilator untuk mengatasi penyebaran virus corona.

"Baru saja berbicara dengan seorang teman, Presiden RI Joko Widodo. Ia meminta ventilator yang tentu akan kami berikan. Kerja sama hebat antara kami," tulis Trump di akun Twitternya, Jumat (24/4), sekitar satu jam lalu.