Singapura mengerahkan robot anjing Spot buatan Boston Dynamic. Robot ini berpatroli dan mengingatkan warga untuk jaga jarak dulu saat pandemi Corona.
National Parks Board di Singapura mengumumkan kalau robot anjing Spot ditugaskan di Taman Bishan - Ang Mo Kio. Spot akan memutar pesan audio berupa imbauan agar warga menjaga jarak.
Dilengkapi kamera dan kemampuan analisa video, robot ini memperkirakan jumlah orang yang ada di taman. Pemerintah menjamin kamera ini tidak merekam individu tertentu.
Dikutip dari Daily Mail, Minggu (10/5/2020), Spot dikendalikan jarak jauh untuk mengurangi jumlah petugas patroli. Langkah ini diambil untuk mengurangi risiko penularan virus Corona.
Spot memang dikenal unggul untuk menjelajah medan di taman kota daripada robot beroda. Selama masa uji coba, robot anjing Spot akan ditemani manusia.
Ini bukan tugas pertama Spot di masa pandemi COVID-19. Sebelumnya, robot anjing ini sudah diterjunkan untuk membantu tenaga medis di Brigham and Women's Hospital milik Harvard University.
Di sana, Spot dilengkapi peralatan catatan sehingga dokter dan tenaga medis bisa berkomunikasi dengan pasien di tenda uji di luar rumah sakit.
WFH, Setengah dari Karyawan Nonton Konten Dewasa di Perangkat Kerja
Work from home alias bekerja dari rumah menjadi bagian dari kehidupan dan pekerja saat pandemi. Namun karenanya, hal ini berpotensi mengaburkan garis antara kehidupan pribadi dengan pekerjaan.
Karena itu pula, setengah (51%) dari mereka yang bekerja dari rumah mulai menonton lebih banyak konten dewasa di perangkat yang sama yang mereka pakai untuk bekerja.
Ini merupakan salah satu temuan Kaspersky dalam laporannya yang berjudul 'How COVID- 19 changed the way people work'. Kehidupan 'normal baru' yang dihadapi para karyawan saat ini mulai berdampak pada keseimbangan kehidupan pekerjaan mereka.
Hampir sepertiga (31%) karyawan mengatakan mereka menghabiskan lebih banyak waktu untuk bekerja daripada sebelumnya. Namun, 46% mengatakan mereka menghabiskan jumlah waktu lebih banyak untuk kegiatan pribadi.
Perubahan spesifik seperti ini mungkin terjadi karena para karyawan sekarang tidak harus bolak-balik atau bepergian sebanyak sebelumnya.
Laporan tersebut juga mengungkapkan bahwa semakin sulit bagi para karyawan untuk memisahkan kegiatan pekerjaan dan kehidupan pribadi, terutama dalam urusan IT.
Temuan yang cukup mengkhawatirkan bagi bisnis, 51% karyawan mengakui telah mulai menonton lebih banyak konten dewasa pada perangkat kantor sejak mereka bekerja dari rumah.
Hampir seperlima (18%) karyawan bahkan melakukannya pada perangkat yang disediakan oleh perusahaan, dengan 33% mengaku menonton konten dewasa di perangkat pribadi mereka yang juga digunakan untuk bekerja.
Selain itu, 55% karyawan mengatakan mereka membaca berita lebih banyak dibandingkan saat sebelum memulai bekerja dari rumah.
Meskipun hal ini sangat wajar karena setiap orang tetap ingin mendapatkan informasi terbaru tentang perkembangan virus corona, fokus laporan ini adalah bagaimana 60% dari kegiatan ini dilakukan pada perangkat yang digunakan untuk bekerja.
Pasalnya, hal ini berpotensi menyebabkan infeksi malware, terutama jika karyawan tidak memperhatikan sumber daya dan situs web yang mereka kunjungi.
Para karyawan juga mulai menerapkan kebiasaan menggunakan layanan pribadi mereka untuk tujuan pekerjaan sehingga meningkatkan risiko potensial dari bayang-bayang keamanan IT, termasuk pengungkapan informasi sensitif.
Misalnya, 42% karyawan menggunakan akun email pribadi untuk hal-hal terkait dengan pekerjaan, dan 49% mengakui penggunaannya meningkat ketika bekerja dari rumah.
Sebanyak 38% menggunakan messenger pribadi yang belum disetujui oleh departemen IT kantor mereka, dengan 60% dari mereka melakukannya lebih sering dalam situasi baru seperti saat ini.
"Sebuah organisasi atau perusahaan tidak bisa hanya memenuhi seluruh permintaan pengguna, seperti mengizinkan staf untuk menggunakan layanan apa pun yang mereka inginkan," komentar Andrey Evdokimov, Chief Information Security Officer di Kaspersky dalam keterangan resminya.
Menurutnya, penting untuk menemukan keseimbangan antara kenyamanan pengguna, kebutuhan bisnis, dan keamanannya. Untuk mencapai hal ini,
perusahaan harus menyediakan akses ke layanan berdasarkan pada prinsip hanya menyediakan minimal, hak istimewa yang diperlukan, mengimplementasikan VPN dan menggunakan sistem perusahaan yang aman dan sudah disetujui.