Sabtu, 09 Mei 2020

Respons LIPI soal ABK Minum Hasil Filtrasi Air Laut

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) merespons sejumlah ABK asal Indonesia yang mengkonsumsi air laut hasil filtrasi (penyaringan) saat bekerja di Kapal Tuna milik China.

Menurut Peneliti Bidang Kimia LIPI Joddy Arya Laksmono seiring berkembangnya teknologi, air laut memang sudah banyak dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air tawar atau minum khususnya di daerah Timur Tengah ataupun di kapal laut.

Salah satu teknologi yang banyak dimanfaatkan ialah Reverse Osmosis (RO). "Dengan ketersediannya sebesar 70 persen di Bumi, maka air laut menjadi sumber bahan baku yang sangat potensial untuk dapat diolah menjadi air layak pakai," kata Joddy kepada CNNIndonesia.com, Sabtu (9/5).

"Beberapa teknologi telah dikembangkan untuk memperoleh air layak pakai bahkan standar air minum seperti desalinasi, Reverse Osmosis (RO), elektrodialisis dan lain sebagainya. Saat ini, teknologi yang banyak digunakan adalah RO walaupun masih memiliki kelemahan mengenai jumlah air bersih yang dihasilkan konversinya masih kecil," lanjutnya.

Kendati demikian, teknologi untuk mengubah air laut menjadi air tawar bersih mesti memenuhi kriteria-kriteria yang telah ditentukan. Di Indonesia sendiri, kriteria air bersih dan air minum telah ditetapkan pada Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 492/Menkes/Per/IV/2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum.

Selain itu ada juga Standar Nasional Indonesia (SNI) 3553:2015 dan peraturan standar internasional yang dikeluarkan oleh Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat terkait bahan makanan termasuk di dalamnya minuman yang layak dikonsumsi oleh manusia.

"Ketiga peraturan tersebut menjadi acuan bagi seluruh manusia termasuk tenaga kerja yang mana sesuai dengan UU Ketenagakerjaan No. 13 Tahun 2013 terutama pasal 86 dan 87, yang menyebutkan bahwa setiap tenaga kerja memiliki hak untuk mendapatkan kesehatan dan keselamatan kerja," tutur Joddy.

Adapun aspek-aspek yang mesti diperhatikan berkaca pada kasus yang menimpa ABK Indonesia ialah terkait aspek teknis maupun legal.

Menurut Joddy, aspek teknis tentunya perlu dilakukan evaluasi dan monitoring dengan cara terjun langsung ke lapangan untuk melihat standar kesehatan dan keselamatan ABK khususnya dalam hal akses terhadap air bersih dan air layak minum.

"Yang kedua adalah perlu dilakukannya crosscheck di lapangan apakah terjadi pelanggaran terhadap sistem ketenagakerjaan pada kapal tersebut, tentunya sesuai dengan pedoman UU Ketenagakerjaan dan konvensi ILO (International Labor Organization)," jelasnya.

"Kedua hal tersebut menjadi sangat penting untuk mengetahui kondisi riil para ABK Indonesia yang bekerja pada kapal tersebut. Di sini lah negara perlu hadir untuk melindungi warga negara dan bangsanya sendiri," pungkas Joddy.

Sebelumnya, laporan terkait belasan WNI yang diperlakukan tidak manusiawi itu pertama kali diungkap oleh stasiun televisi Korea Selatan, MBC pada 6 Mei lalu.

Selain mengkonsumsi air laut yang telah melalui proses penyaringan, WNI ABK mesti bekerja hingga 18 sampai 30 jam, dengan istirahat yang minim.

Bahkan menurut pengakuan dua ABK WNI yang dirahasiakan identitasnya, seorang rekan mereka yang bernama Ari (24), meninggal karena sakit saat kapal tengah berlayar. Jasadnya dibuang begitu saja di tengah laut dengan upacara seadanya.

9 Poin Saat Mobil Parkir Lama di Rumah

Masyarakat diimbau berdiam di rumah saat pandemi corona (Covid-19) di Indonesia meluas. Hal ini menyebabkan kendaraan pribadi terparkir lama karena tidak bisa digunakan.

Aftersales Division Head Auto2000 Ricky Martawijaya mengatakan ada beberapa hal yang harus dipahami jika mobil parkir dalam waktu lama. Jangan anggap enteng karena dampaknya membuat mobil rusak bahkan menjadi sarang hewan seperti laba-laba dan semut.

Berikut ini tips aman mobil parkir lama di rumah.

Paling aman parkir di dalam garasi yang memiliki atap. Dengan begitu, mobil dapat terhindar dari paparan panas matahari secara langsung yang bisa membuat cat mobil memudar.

Ketiadaan atap juga membuat mobil terkena hujan. Lambat laun akan timbul water spot atau kerap disebut jamur kaca atau jamur bodi akibat noda bekas air hujan yang mengering karena tidak dibersihkan dan menyebabkan mobil tidak sedap dipandang.

Air hujan juga bisa menyelinap di sela-sela bodi mobil seperti dudukan pelat nomor, gril, handle pintu dan tutup tangki bensin, dan celah antara pintu dan bodi mobil. Selain kotor, air yang masuk lewat celah pintu bisa meninggalkan bau tidak sedap jika tak dibersihkan.

Cuci Bodi dan Interior Mobil

Meski tidak digunakan, mobil tetap bisa kotor oleh debu atau air hujan. Solusinya cuci mobil minimal seminggu sekali. Tidak hanya luar, bagian dalam juga harus dibersihkan. Manfaatkan vacuum cleaner untuk membersihkan debu, terutama bagian kolong kabin. Keluarkan karpet dan cuci hingga bersih.

Waspada Binatang Liar

Mobil yang didiamkan dalam jangka waktu lama menjadi lembab, dan itu menjadi lokasi yang pas untuk tempat tinggal binatang liar di sekitar rumah seperti tikus, kecoa, dan semut.

Binatang pengerat seperti tikus sanggup menggigit kabel dan merusak sistem kelistrikan, sementara kecoa dan semut mengakibatkan kabin kotor dan rusak karena mampu menyelinap masuk ke dalam dan berkembang biak di sana.

Upaya pencegahan yang paling mudah yakni dengan meletakkan bahan pengusir binatang itu di luar mobil.

Keluarkan Barang Pribadi dari Kabin

Sembari mencuci mobil, lakukan inspeksi ke dalam kabin mobil. Keluarkan makanan dan minuman yang tertinggal karena akan menimbulkan bau tidak sedap dan mengundang binatang liar datang.

Keluarkan pula barang pribadi seperti kartu E-Toll, kacamata, pemantik api, dan barang berharga lain untuk menghindari risiko tidak terduga seperti kemalingan atau kebakaran.

Tekanan Ban Sesuai Standar

Tekanan angin ban mobil yang berdiam di rumah akan berkurang lebih cepat ketimbang ban yang dipakai setiap hari. Maka kita harus rajin mengecek dan mengisinya sesuai standar yang ditetapkan.

Sebagai contoh kendaraan LCGC Calya, dengan ukuran ban dan pelek standar 175/65R14, tekanan bannya yakni 36 Psi untuk roda depan dan belakang. Supaya tidak repot, kita juga dapat memanfaatkan pengisi angin ban portabel yang banyak dijual online.

Hindari Penggunaan Rem Parkir

Ada kasus kampas rem menempel kuat ke bagian dalam teromol dan sulit lepas karena mobil diparkir terlalu lama. Oleh sebab itu, lepaskan rem parkir atau rem tangan dan ganjal ban dengan balok kayu.

Kalau mau lebih aman, bisa menggunakan wheel chock yang diperuntukkan sebagai pengganjal ban mobil. Ini sangat bermanfaat jika ternyata lokasi parkir mobil miring.

Isi Penuh BBM

Bahan bakar di dalam mobil yang ditinggal dalam jangka waktu lama tidak bisa dibiarkan kosong karena akan mengakibatkan terjadinya oksidasi dan membuat karat timbul di dalam tangki bensin. Sebaiknya isi penuh bahan bakar untuk mengurangi risiko karat.

Jangan Melepas Kabel Baterai

Mobil tetap butuh pasokan listrik meski tidak dipakai dalam jangka waktu lama, seperti untuk mengaktifkan alarm, sehingga kita tidak perlu melepas kabel ke terminal aki.

Selain itu, mesin mobil tetap harus dipanaskan setidaknya seminggu sekali selama sekitar 15 menit untuk mengisi daya baterai supaya tidak soak dan cara ini juga memberikan kesempatan pada oli mesin untuk bersirkulasi.

Kita juga perlu berkeliling lingkungan rumah dengan mobil agar ban berputar dan menghindari kerusakan akibat ban hanya bertumpu di satu titik dalam jangka waktu lama. Atau setidaknya maju-mundurkan mobil di garasi untuk memindahkan titik tumpu ban.

Waspada Kebocoran

Lakukan pemeriksaan secara berkala ke seluruh bagian mobil, seperti ruang mesin, kabin, hingga bagian kolong untuk memastikan tidak ada kebocoran. Periksa pula apakah ada lelehan oli mesin atau tabung penyimpan cairan mobil yang berkurang drastis sebagai tanda awal kerusakan.