Kamis, 16 April 2020

Ada Pasien Tak Punya Kekebalan Setelah Sembuh Corona, Ini Kemungkinannya

Pejabat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan tidak semua orang yang pulih dari virus Corona COVID-19 bisa mengembangkan antibodi untuk melawan infeksi kedua. Sehingga tak ada bukti semua pasien yang sembuh dari penyakit ini akan menjadi kebal.
"Sehubungan dengan pemulihan dan kemungkinan reinfeksi, saya yakin kami tidak memiliki jawaban untuk itu. Masih tidak diketahui," kata Direktur Eksekutif Program Kedaruratan WHO, Dr Mike Ryan, di konferensi pers Jenewa, dikutip dari CNBC.

Menanggapi hal ini, Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman (LBME), Prof Amin Soebandrio mengatakan beberapa orang memang bisa memiliki gangguan atau kelainan yang membuat sistem imunnya tidak bisa membentuk kekebalan tubuh dengan baik.

"Beberapa pasien memiliki gangguan dalam sistem imunnya baik namanya kekebalan humoral atau kekebalan seluler," kata Prof Amin kepada detikcom dan ditulis Kamis (16/4/2020).

"Kalau dia punya kelainan seperti itu berarti sistem imunnya tidak mampu untuk membentuk kekebalan yang memadai. Mungkin ada tapi jumlah dan kualitasnya tidak bagus," lanjutnya.

Menurutnya hal ini bisa sebabkan oleh beberapa faktor mulai dari karena genetik atau ada riwayat dari keluarga hingga efek mengonsumsi obat tertentu.

"Iya ada obat yang menyebabkan imun defisiensi (sistem imun tidak normal). Misalnya steroid, kan itu bisa menekan kemampuan tubuh untuk merespon suatu infeksi atau selama terapi dia diberikan steroid maka sistem imunnya di suppress (ditekan)," jelasnya.

Prof Amin menjelaskan dalam kondisi tertentu memang steroid diperlukan untuk menekan respon sistem imun, tetapi jika terlalu berlebihan justru bisa merusak kekebalan tubuh tersebut.

RS Khusus Corona di Wuhan Ditutup Setelah Pasien Terakhir Dinyatakan Sembuh

Rumah Sakit Leishenshan yang khusus menangani pasien terinfeksi virus Corona COVID-19 di Wuhan ditutup pada Rabu (15/4/2020) setelah empat pasien terakhir dipindahkan ke Rumah Sakit Zhongnan Universitas Wuhan.
Wang Xinghuan, presiden rumah sakit, mengatakan rumah sakit tidak akan dibongkar dan akan tetap siaga setelah desinfeksi menyeluruh.

"Ini adalah titik balik penting dari pertempuran Wuhan melawan COVID-19 sehingga jumlah pasien di rumah sakit kami turun menjadi nol dan rumah sakit ini berkinerja baik bahkan dalam skala global," ujar Wang dikutip dari China Daily.

Menurut Wang, RS Leishenshan menerima total 2.011 pasien virus Corona dengan jumlah kasus serius mencapai 45 persen. Tingkat kematian keseluruhan rumah sakit adalah sekitar 2,3 persen.

Yuan Yufeng, wakil presiden rumah sakit, mengatakan satu dari empat pasien yang pindah pada hari Selasa berusia 80 tahun dan dua orang berusia 70-an.

"Keempatnya dites negatif untuk virus corona baru, tetapi masih perlu perawatan lebih lanjut untuk penyakit dasar mereka," kata Yuan.

Beberapa waktu lalu, sebagai episentrum pertama wabah virus Corona, Wuhan memutuskan membangun rumah sakit pada 25 Januari. Rumah sakit dengan kapasitas 1.600 tempat tidur selesai dibangun dalam waktu kurang dari dua minggu.

Studi Baru Tegaskan Gangguan Mencium dan Merasakan Sebagai Gejala Virus Corona

Baru-baru ini hilangnya indera penciuman dan perasa disebut menjadi gejala pasien Corona. Sebuah studi baru pun mendukung anggapan tersebut sebagai tanda awal dari terinfeksinya virus Corona COVID-19.
Mengutip Live Science, sebuah studi yang diterbitkan 12 April ini menemukan bahwa adanya gangguan indera perasa dan pencium nampaknya menjadi gejala awal yang umum terjadi pada pasien Corona gejala ringan. Studi yang diterbitkan secara online dalam jurnal International Forum of Allergy & Rhinology tersebut mengatakan kehilangan kemampuan mencium seringkali dirasa berbeda di setiap pasien.

Beberapa orang ditemukan kehilangan kemampuan merasakan asin atau rasa manis tetapi tidak dapat mengidentifikasi rasa tertentu, demikian laporan situs referensi medis Merck Manual. Oleh karena itu orang-orang yang kehilangan kemampuan mencium bau sering melaporkan kehilangan indera perasa mereka pula.

"Berdasarkan penelitian kami, jika Anda memiliki bau dan kehilangan rasa, Anda lebih dari 10 kali lebih mungkin memiliki infeksi COVID-19 daripada penyebab infeksi lainnya," jelas Dr Carol Yan, seorang ahli THT dan ahli bedah kepala dan leher di Universitas California, San Diego Health dalam sebuah pernyataan.

Sementara itu, demam masih merupakan gejala pertama yang paling umum dari virus Corona COVID-19. "Penelitian ini mendukung perlunya menyadari bau dan kehilangan rasa sebagai tanda-tanda awal COVID-19," kata Yan.

Dari pasien positif virus Corona COVID-19 dalam penelitian ini, sekitar 68 persen mengatakan mereka mengalami kehilangan kemampuan mencium sesuatu dan 71 persen melaporkan kehilangan kemampuan merasa, masing-masing dibandingkan dengan 16 persen dan 17 persen dari pasien negatif.

Meski begitu tidak ada peserta dalam penelitian ini yang memerlukan rawat inap atau dukungan pernapasan invasif seperti intubasi. Namun jika mereka yang mengalami gejala ini tidak melakukan langkah 'social distancing' kemungkinan berpotensi menyebarkan infeksi kepada orang lain di komunitas mereka meskipun tidak mengalami gejala yang intens.

Menurut Yan, hilangnya indera penciuman dan perasa harus dicatat sebagai tanda terinfeksi virus Corona COVID-19 pada orang yang merasa sehat mengingat mereka yang memiliki gejala ringan berkontribusi besar terhadap penyebaran virus Corona.

"Ini adalah harapan kami bahwa dengan temuan-temuan ini lembaga-lembaga lain akan mengikuti dan tidak hanya mencantumkan bau dan rasa sebagai gejala virus Corona COVID-19 tetapi menggunakannya sebagai langkah skrining untuk virus di seluruh dunia," katanya.

Ada Pasien Tak Punya Kekebalan Setelah Sembuh Corona, Ini Kemungkinannya

Pejabat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan tidak semua orang yang pulih dari virus Corona COVID-19 bisa mengembangkan antibodi untuk melawan infeksi kedua. Sehingga tak ada bukti semua pasien yang sembuh dari penyakit ini akan menjadi kebal.
"Sehubungan dengan pemulihan dan kemungkinan reinfeksi, saya yakin kami tidak memiliki jawaban untuk itu. Masih tidak diketahui," kata Direktur Eksekutif Program Kedaruratan WHO, Dr Mike Ryan, di konferensi pers Jenewa, dikutip dari CNBC.

Menanggapi hal ini, Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman (LBME), Prof Amin Soebandrio mengatakan beberapa orang memang bisa memiliki gangguan atau kelainan yang membuat sistem imunnya tidak bisa membentuk kekebalan tubuh dengan baik.

"Beberapa pasien memiliki gangguan dalam sistem imunnya baik namanya kekebalan humoral atau kekebalan seluler," kata Prof Amin kepada detikcom dan ditulis Kamis (16/4/2020).

"Kalau dia punya kelainan seperti itu berarti sistem imunnya tidak mampu untuk membentuk kekebalan yang memadai. Mungkin ada tapi jumlah dan kualitasnya tidak bagus," lanjutnya.

Menurutnya hal ini bisa sebabkan oleh beberapa faktor mulai dari karena genetik atau ada riwayat dari keluarga hingga efek mengonsumsi obat tertentu.

"Iya ada obat yang menyebabkan imun defisiensi (sistem imun tidak normal). Misalnya steroid, kan itu bisa menekan kemampuan tubuh untuk merespon suatu infeksi atau selama terapi dia diberikan steroid maka sistem imunnya di suppress (ditekan)," jelasnya.

Prof Amin menjelaskan dalam kondisi tertentu memang steroid diperlukan untuk menekan respon sistem imun, tetapi jika terlalu berlebihan justru bisa merusak kekebalan tubuh tersebut.