Senin, 13 April 2020

Viral Joging Harus Bikin Formasi Sebaris Agar Tak Kena Corona, Benarkah?

Sebuah informasi viral menyebut joging dengan formasi depan-belakang membuat physical distancing tidak efektif mencegah penularan virus Corona COVID-19. Sebaris atau membentuk formasi diagonal lebih dianjurkan untuk menghindari 'slipstream' yang membuat droplet terbang lebih jauh.
Anjuran menjaga jarak aman 1-2 meter untuk mencegah penularan virus Corona melalui percikan dahak atau droplet, menurut sebuah riset hanya berlaku dalam kondisi diam. Misalnya saat ngobrol atau bercakap-cakap.

Saat bergerak, misalnya saat joging atau berjalan, pengaruh 'slipstream' atau pergerakan udara saat seseorang melintas membuat droplet terbang lebih jauh. Bisa mencapai 4-5 meter saat berjalan, bahkan 10 meter saat berlari dan 20 meter saat bersepeda.

Ketika dua orang berlari atau bersepeda dengan formasi depan-belakang, maka orang yang di belakang masih berisiko terkena droplet meski sudah mengikuti anjuran jaga jarak aman 1-2 meter. Virus Corona COVID-19 menular melalui droplet yang terkontaminasi virus.

Untuk menghindari droplet dari orang di depannya, riset yang konon dilakukan para ilmuwan di KU Leuven (Belgium) dan TU Eindhoven (Netherlands) tersebut menganjurkan formasi bersebelahan atau sebaris. Formasi depan-belakang membentuk diagonal juga bisa dilakukan untuk menghindari slipstream.

Secara teori ada benarnya
Informasi ini belakangan viral di media sosial dan memperuncing perdebatan tentang olahraga di luar rumah. Di tengah anjuran untuk 'stay at home', apakah hal itu aman dilakukan?

Praktisi kesehatan olahraga, dr Michael Triangto, SpKO, mengatakan teori dan simulasi droplet dalam riset yang viral itu ada benarnya. Tetapi tidak serta merta bisa diartikan bahwa olahraga di luar rumah aman dilakukan hanya dengan saling menjaga jarak.

"Masih ada yang terlupakan, yakni harus tetap pakai masker," kata dr Michael.

Dengan formasi sebaris atau diagonal, droplet mungkin saja tidak saling menyebar di antara satu kelompok. Namun menurut dr Michael, harus juga dipertimbangkan bahwa di tempat umum juga ada orang lain di luar formasi tersebut, yang tetap bisa terkena droplet.

Droplet yang menyebar juga bisa menempel di berbagai permukaan. Apabila ada orang lain yang menyentuh permukaan tersebut, maka risiko penularan virus tetap bisa terjadi.

Olahraga pakai masker, memangnya bisa napas?
Masker, dan bahkan goggle, menurut dr Michael adalah kelengkapan wajib bagi yang ingin tetap berolahraga di luar ruangan. Tentu saja tidak nyaman, tetapi itulah yang harus dilakukan untuk memastikan agar virus tidak menyebar ke mana-mana saat seseorang berolahraga di luar ruangan.

"Tetap ada manfaatnya kok, pakai masker saat olahraga bisa sambil melatih VO2max," kata dr Michael.

Catatan lain menurut dr Michael adalah segera membersihkan diri setelah selesai olahraga. Langsung mandi dan berganti pakaian sebelum masuk rumah harus dilakukan untuk memastikan tidak ada partikel droplet dan virus yang menempel di badan.

Dalam kondisi apa olahraga di luar benar-benar 'diharamkan'?
Menurut dr Michael, ada 2 hal yang harus dipertimbangkan saat hendak olahraga di luar rumah agar tidak menularkan penyakit apapun, termasuk virus Corona COVID-19. Pertama, kondisi kesehatan harus benar-benar bugar.

"Kalau nggak sehat, jangan keluar," tegas dr Michael.

Pertimbangan berikutnya adalah kondisi lingkungan. Jika seseorang berada di zona merah penularan virus Corona, maka olahraga di luar ruangan bukan pilihan yang bijak.

Minggu, 12 April 2020

Positif Corona dan Pakai Ventilator, Wanita Ini Berhasil Lahirkan Seorang Anak

Seorang wanita berusia 26 tahun asal Israel berhasil melahirkan anak laki-laki bertubuh sehat saat menjalani perawatan akibat infeksi virus Corona COVID-19. Ia menjalani proses persalinan melalui operasi caesar darurat dan sambil mengenakan ventilator karena kesulitan bernapas.
Dikutip dari New York Post, wanita muda itu sebelumnya tidak menyadari bahwa ia terinfeksi virus Corona, terlebih sebentar lagi ia akan melahirkan seorang anak. Namun sayangnya ketika ia mengalami gejala seperti mual dan muntah, wanita itu dinyatakan positif terkena COVID-19.

"Persalinan dimulai di ruang bersalin khusus untuk pasien virus Corona, tetapi ketika sang ibu mengalami kesulitan pernapasan, ia dipindahkan dengan cepat ke ruang operasi yang telah dipersiapkan khusus," kata juru bicara rumah sakit, Jodie Singer.

"Sementara ibu diintubasi dan dihubungkan ke ventilator untuk menyelamatkan nyawanya. Dokter melakukan operasi caesar darurat dan ibu itu berhasil melahirkan bayi laki-laki yang sehat," lanjutnya.

Setelah dilakukan serangkaian pemeriksaan, bayi itu pun dinyatakan negatif virus Corona. Namun sayangnya wanita itu belum bisa menemui sang bayi, karena harus melewati berbagai perawatan medis terlebih dahulu agar bisa sembuh dari COVID-19.

Lockdown Dicabut, Masyarakat Wuhan Bergegas Melangsungkan Pernikahan

Masyarakat Kota Wuhan, China kini kembali bebas keluar rumah setelah pemerintah mencabut penguncian wilayah lockdown akibat virus Corona COVID-19.
Bagi banyak pasangan di Wuhan, pencabutan lockdown membuat mereka bergegas melangsungkan rencana pernikahan yang sebelumnya tertunda. Apalagi setelah mereka dikarantina di rumah selama lebih dari 2 bulan.

Meski demikian, proses pernikahan di Wuhan saat ini masih menghadapi beberapa pantangan. Karyawan dari Kantor Pendaftaran Perkawinan Distrik Wuhan mengatakan, bahwa pengantin baru tidak boleh melakukan ritual tradisional, seperti acara mengambil sumpah.

Namun, hal ini tidak menjadi masalah bagi Xu Lin, seorang warga Wuhan yang menikah pada hari Rabu (8/4/2020) kemarin, pasca lockdown.

"Tidak masalah, karena hari ini adalah hari istimewa, awal baru bagi saya dan bagi Wuhan," kata Xu, dilansir dari Global Times.

Akan tetapi, terdapat juga beberapa diantara masyarakat yang terkurung di Wuhan berusaha untuk meninggalkan kota tersebut. Seperti Cao Lin, seorang warga Guizhou yang terjebak di Wuhan sejak Januari, membulatkan tekadnya untuk menjauhkan diri dari kota tersebut selamanya.

"Selama 80 hari terakhir, saya berjanji pada diri sendiri bahwa saya tidak akan pernah kembali ke Wuhan lagi," ujar Cao.

Cao mengatakan dirinya tidak kuasa menahan haru saat melihat siaran langsung yang menyatakan pencabutan lockdown oleh pemerintah. Ia berharap kota Wuhan dapat pulih dan kembali normal secepatnya.

"Hati saya akan selalu ada di sana dengan kota yang kuat, berani dan heroik ini," ungkapnya.

Sebaran Pasien Virus Corona di Indonesia, 286 Sembuh, 327 Meninggal

Pemerintah mengumumkan jumlah kasus positif virus Corona COVID-19 di Indonesia pada Sabtu (11/4/2020) telah mencapai 3.842 kasus. Sebanyak 286 pasien dinyatakan sembuh, 327 pasien meninggal.
"Lawan COVID-19 dengan meningkatkan imunitas sendiri, hati selalu gembira, olahraga yang teratur, tidak panik, jaga jarak, pakai masker, jangan menyentuh mata, mulut sebelum cuci tangan," kata juru bicara pemerintah untuk penanganan virus Corona COVID-19, Achmad Yurianto, Sabtu (11/4/2020).

Berikut sebaran pasien yang sembuh dan meninggal hingga saat ini.

SEMBUH
Aceh 1
Bali 19
Banten 7
DI Yogyakarta 6
DKI Jakarta 82
Jawa Barat 19
Jawa Tengah 18
Jawa Timur 64
Kalimantan Barat 3
Kalimantan Timur 6
Kalimantan Tengah 7
Kepulauan Riau 2
Nusa Tenggara Barat 2
Sumatera Selatan 1
Sumatera Barat 7
Sumatera Utara 8
Sulawesi Utara 1
Sulawesi Tenggara 1
Sulawesi Selatan 25
Lampung 1
Riau 1
Maluku 1
Papua 3