Selasa, 07 April 2020

Penanganan Corona Terbaik Jatuh pada Taiwan

 Saat ini seluruh negara tengah berlomba memerangi virus Corona. Namun ada satu negara yang sudah siaga lebih awal dan dianggap sukses menangani Corona. Ia adalah Taiwan.
Mari kita mundur sejenak ke 25 Januari 2020. Kala itu masyarakat dunia masih sibuk menonton mengenai penyebaran virus yang ada di dataran China.

Namun tidak dengan Taiwan dan Australia. Kedua negara ini sudah mendeteksi masuknya Corona di negara mereka.

Taiwan dan Australia adalah negara yang sama-sama memiliki jumlah populasi manusia sebanyak 24 juta jiwa. Keduanya juga merupakan negara kepulauan yang segera menerapkan kontrol ketat di perbatasan bahkan tak gentar membatasi transportasi yang terkoneksi dengan China.

Akan tetapi dalam perjalanannya, sekitar 10 minggu sejak 25 Januari, sebanyak hampir 5.000 orang terjangkit Corona. Sementara Taiwan kurang dari 400. Pertanyaannya, bagaimana Taiwan dapat mengendalikan penyebaran Corona?

Taiwan jadi salah satu negara yang melakukan respon terbaik dalammenangani penyebaran COVID-19. Beragam langkah responsif Taiwan itu pun mendapat pujian dunia.Taiwan jadi salah satu negara yang melakukan respon terbaik dalammenangani penyebaran COVID-19. Beragam langkah responsif Taiwan itu pun mendapat pujian dunia. (Foto: Getty Images/Paula Bronstein)
Dilansir dari CNN, Selasa (7/4/2020), Taiwan telah belajar menghadapi pandemi dari kasus SARS pada 2003. Kala itu, negara ini bersama dengan Hong Kong dan China bagian tenggara, menjadi lokasi yang paling terdampak SARS.

Saat itu, lebih dari 150 ribu orang dikarantina di pulau yang letaknya 180 kilometer dari pantai tenggara China. Sebanyak 180 orang meninggal akibat SARS kala itu.

Berkaca dari SARS, beberapa negara di Asia memang menjadi lebih siap dalam menghadapi COVID-19. Pemerintah dan masyarakat lebih tahu apa yang harus mereka lakukan seperti memperketat aturan di perbatasan dan mewajibkan penggunaan masker.

Kembali ke Taiwan, negara ini memiliki sistem kesehatan kelas dunia dengan cakupan universal. Ketika kabar mengenai virus Corona mulai muncul di Wuhan menjelang Tahun Baru Imlek, para pejabat di Pusat Komando Kesehatan Nasional (NHCC) Taiwan, bergerak cepat menanggapi potensi ancaman. Fakta ini diungkap dalam Journal of the America Medical Association (JAMA).

"Taiwan dengan cepat menghasilkan dan menerapkan daftar sekitar 124 item tindakan dalam lima minggu terakhir untuk melindungi kesehatan masyarakat," kata rekan penulis, Jason Wang.

"Kebijakan dan tindakan melampaui kontrol perbatasan karena mereka mengakui bahwa itu tidak cukup," kata Wang yang merupakan seorang dokter Taiwan dan profesor pediatri di Stanford Medicine.

Taiwan kemudian mengambil langkah dengan melarang perjalanan dari berbagai daerah di China. Mereka juga menghentikan kapal pesiar yang akan berlabuh dan memberikan hukuman untuk siapapun yang melanggar aturan karantina.

Selain itu, pejabat Taiwan juga bergerak untuk meningkatkan produksi masker wajah dalam negeri untuk memastikan pasokan lokal cukup. Mereka juga melakukan pengujian Corona di seluruh negeri, termasuk melakukan pengujian ulang pada orang yang sebelumnya memiliki riwayat pneumonia yang belum jelas penyebabnya. Siapapun yang menyebarkan disinformasi tentang virus juga dikenakan hukuman.

Tak hanya itu, pejabat kesehatan di Taiwan juga punya respon cepat dan transparan akan penanganan kasus ini yang diinformasikan kepada masyarakat setiap hari. Langkah ini seolah menunjukkan bahwa negara demokratis seperti Taiwan juga dapat mengendalikan epidemi.

Sebelumnya, beberapa orang mengklaim kesuksesan penanganan Corona ini hanya akan terjadi di negara yang otokratis seperti China. Perlu diingat juga bahwa Taiwan tidak melakukan lockdown seperti yang dilakukan China namun mereka sukses mengendalikan penyebaran virus.

Berbicara tentang masker yang merupakan salah satu perlengkapan untuk meminimalisir penularan Corona, Taiwan dengan tegas bahkan melarang ekspor masker dalam beberapa minggu. Hal ini untuk memastikan bahwa stok dalam negeri terjaga.

Namun saat ini ketika mereka sudah bisa mengendalikan kondisi dalam negeri, pemerintah mengatakan pihaknya akan mendonasikan 10 juta masker ke Amerika Serikat (AS), Spanyol, dan 9 negara Eropa lainnya, serta negara kecil yang punya hubungan diplomatik dengan negara itu.

Minggu, 05 April 2020

Taj Mahal Ditutup dan Gambaran Imbas Corona di India

 Pemerintah India akan menutup Taj Mahal dari kunjungan wisatawan. Sebagai langkah pencegahan penyebaran virus Corona, penerapannya dimulai hari ini.
Ya, Taj Mahal dilaporkan penutupannya oleh Kementerian Pariwisata India mulai Selasa (17/3/2020). Sebagian besar sekolah dan fasilitas hiburan, termasuk bioskop, telah ditutup di India.

Negara ini memiliki kepadatan penduduk terbanyak kedua di dunia dengan jumlah 1,3 miliar orang. India telah melaporkan 114 kasus positif virus Corona dan dua di antaranya meninggal dunia.

"Semua tiket monumen dan semua museum telah ditutup hingga 31 Maret," kata Menteri Pariwisata India, Prahlad Patel.

India saat ini telah menangguhkan kedatangan semua turis. Otoritas setempat juga akan melarang penerbangan berpenumpang dari Uni Eropa, Asosiasi Perdagangan Bebas Eropa, Turki, dan Inggris mulai hari Rabu.

Wisatawan yang datang atau transit melalui Uni Emirat Arab, Qatar, Oman, dan Kuwait diharuskan menjalani karantina 14 hari ketika mereka tiba di India. Penumuman itu ditetapkan pemerintah pada Senin malam.

Turis dari Cina, Italia, Iran, Korea Selatan, Prancis, Spanyol dan Jerman sudah dikenakan pembatasan serupa. Sementara sebagian besar titik perbatasan dengan negara tetangga, seperti Bangladesh dan Myanmar juga telah ditutup.

Penutupan Taj Mahal adalah imbas dari pertemuan darurat bank sentral di hari Senin. Pemerintah akan meningkatkan suntikan uang tunai ke pasar keuangan sebesar satu triliun rupee untuk mengatasi dampak ekonomi dari virus Corona.

Reserve Bank of India juga menyuntikkan USD 2 miliar ke pasar untuk menstabilkan rupee. Mata uang negara India ini sempat jatuh ke rekor terendah di minggu lalu.

Ryanair Grounded Semua Pesawatnya Bulan April Gegara Corona

Maskapai penerbangan berbiaya murah (low cost carrier) di Eropa, Ryanair dalam waktu 7-10 hari ke depan akan meng-grounded beberapa pesawat yang terbang di Eropa. Hal ini sebagai imbas dari larangan terbang gara-gara virus Corona.
"Untuk bulan April dan Mei, Ryanair akan mengurangi kapasitas kursi sampai 80 persen dan semua pesawatnya bisa saja akan di-grounded. Ryanair mengambil berbagai langkah untuk mengurangi biaya operasi dan memperbaiki cash flow" tulis pernyataan Ryanair seperti dikutip dari Independent.

Negara-negara di Eropa seperti Malta, Hungaria, Republik Ceko, Slovakia, Austria, Yunani, Maroko, Spanyol, Portugal, Denmark, Polandia, Norwegia dan Siprus merupakan beberapa negara yang sudah menerapkan larangan terbang. Negara-negara ini merupakan rute yang diambil Ryanair.

Selain larangan terbang, imbauan agar masyarakat menghindari atau mengurangi kontak sosial pun berimbas pada bisnis penerbangan. "Dengan adanya imbauan mengurangi kontak sosial, maka terbang pun jadi tidak praktis atau malah jadi tidak mungkin," tulis Ryanair.

Maskapai pun menawarkan cuti sukarela kepada karyawannya dan menghentikan sementara kontrak karyawan baru. Ini berarti bisa saja ada pemutusan hubungan kerja. Meski begitu, kondisi perusahaan disebut dalam kondisi baik. Likuiditas Ryanair disebut baik dengan uang tunai mencapai lebih dari 4 miliar euro per 12 Maret.

"Di Ryanair Group Airlines, kami melakukan segala yang kami bisa untuk memenuhi tantangan yang ditimbulkan oleh wabah COVID-19, yang selama seminggu terakhir telah menyebabkan pembatasan perjalanan yang luar biasa dan belum pernah diberlakukan sebelumnya oleh berbagai negara yang dalam banyak kasus tanpa pemberitahuan sebelumnya," ujar CEO Ryanair, Michael O'Leary.

"Kami berkomunikasi dengan semua penumpang yang terkena dampak melalui email dan SMS, dan kami mengatur penerbangan untuk memulangkan pelanggan, bahkan di negara-negara di mana larangan perjalanan telah diberlakukan," ujarnya.