Jumat, 03 April 2020

Anak-anak yang Tak Lagi (Bisa) Jadi ' Anak-anak'

Seharusnya anak-anak bisa bermain dengan bebas dan bersekolah dengan ceria. Tapi di Meksiko, anak-anak harus memegang senjata.

Begitulah fakta yang menggemparkan dunia. Anak-anak usia sekolah dilatih memegang senjata di desa mereka.
Alih-alih sekolah, mereka harus berhenti bermain dan justru memegang senjata. Itu semata-mata untuk membela diri.

Seperti yang diberitakan Reuters, desa-desa di negara bagian Guerrero barat daya hidup di bawah tekanan dan tak memiliki pilihan. Mau tidak mau, kepala keluarga harus menyerahkan anak-anak untuk ikut militer.

David Sanchez Luna, wanita berumur 56 tahun, memiliki pengalaman pahit karena tak sanggup membela keluarganya. Dia tak bisa memegang bedil.

Ketidakmampuan itu arus dibayar mahal. Dia cuma bisa pasrah ketika ibu mertuanya disiksa dan dibunuh oleh kartel narkoba saat memutuskan untuk meninggalkan gerombolan itu.

Kini, dia dengan sukarela menyerahkan dua putrinya, tujuh tahun dan 12 tahun, untukmengikuti pelatihan senjata.

"Mereka harus melakukan ini untuk mempersiapkan diri membela keluarga, saudara mereka, dan membela desa," ujar Sanchez Luna.

Langkah penduduk desa untuk menyerahkan anak-anak mereka membetot perhatian dunia. Media-media lokal memamerkan bagaimana anak-anak usia sekolah memegang senjata dan menampilkan manuver militer.

Tetua di sana pun mengatakan bahwa mereka tidak akan menggunakan anak-anak untuk memerangi ataupun menembak para kartel narkoba. Mereka mengambil langkah berjaga seperti ini setelah putus asa mendapatkan bantuan dari petinggi yang jauh di Meksiko City.

Bulan lalu, ditemukan 10 orang tewas dengan tubuh terbakar. Mereka disergap dan dibunuh oleh kartel Los Ardillos setelah keluar dari wilayah pengamanan yang dijaga oleh sesama mereka atau yang mereka sebut CRAC-PF.

Itu bukanlah serangan pertama. Beberapa tahun terakhir serangkaian pembunuhan termasuk pemenggalan tubuh yang mengguncang 6.500 penduduk tanah nan subur tersebut. Kekerasan kepada penduduk pun tidak terbendung lagi

Pelopor! Shenzhen Larang Warga Makan Anjing dan Kucing

Salah satu kota di China, Shenzhen, menjadi pelopor yang melarang warganya mengonsumsi kucing dan anjing. Keputusan itu diambil setelah berkaca kepada wabah virus Corona.
Virus Corona diduga ditularkan ke manusia dari hewan. Pasien awal Covid-19 itu disebut-sebut merupakan orang-orang yang terpapar di pasar satwa liar di pusat kota Wuhan. Pasar itu menyediakan kelelawar, ular, musang dan hewan lainnya.

Penyakit tersebut telah menginfeksi lebih dari 935.000 orang di seluruh dunia dan membunuh sekitar 47.000 di antaranya. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan wabah tersebut sebagai pandemi.

Berkaca situasi itu, pemerintah China pun bakal melarang konsumsi daging kucing dan anjing. Kebijakan itu berlaku mulai 1 Mei 2020.

"Anjing dan kucing, sebagai hewan peliharaan, memiliki hubungan lebih erat dengan manusia ketimbang semua hewan lain. Larangan mengonsumsi anjing dan kucing serta hewan peliharaan lainnya merupakan praktik lumrah di negara-negara maju dan di Hong Kong dan Taiwan," kata pemerintah kota itu dalam pesan yang diunggah pada hari Rabu (1/4/2020) dan dikutip Reuters sehari kemudian.

"Larangan ini juga menanggapi permintaan dan semangat peradaban manusia," pengumuman itu menambahkan.

Badan legislatif China lebih dulu menyatakan larangan perdagangan dan konsumsi hewan liar. Itu dikemukakan pada Februari 2020.

Jepang Larang Masuk Turis-turis dari Negara Ini

Jepang kian membatasi turis asing setelah kasus virus Corona meningkat. Negeri Sakura itu makin selektif.

Jepang mengonfirmasi memiliki 2.384 kasus virus Corona. Kalau tadinya hanya turis China dan Korea Selatan yang dilarang masuk, mereka menambah panjang daftar negara yang yang tak bisa memasuki Jepang.
Berdasarkan informasi dari KBRI Tokyo beberapa waktu lalu, Indonesia masuk dalam daftar negara yang dilarang oleh Jepang itu. Kebijakan ini berlaku sampai akhir April.

Selain itu, beberapa negara di Asia yang juga dilarang masuk ke Jepang. Termasuk sejumlah negara Eropa.

Penutupan jalur wisatawan akan diberlakukan mulai 3 April. Tak cuma turis, warga negara Jepang yang baru saja pulang dari negara-negara yang masuk daftar ini juga akan dikarantina selama 14 hari.

Berikut daftar warga negara asing yang dilarang masuk Jepang:

1. Indonesia
2. Brunei
3. Hong Kong
4. Makau
5. Malaysia
6. Filipina
7. China
8. Korea Selatan
9. Singapura
10. Taiwan
11. Thailand
12. Vietnam
13. Australia
14. Selandia Baru
15. Kanada
16. Amerika Serikat
17. Bolivia
18. Brasil
19. Chili
20. Dominika
21. Ekuador
22. Panama
23. Eropa
24. Bahrain
25. Iran
26. Israel
27. Turki
28. Qatar
29. Pantai Gading
30. Kongo
31. Mesir
32. Mauritius
33. Maroko

Anak-anak yang Tak Lagi (Bisa) Jadi ' Anak-anak'

Seharusnya anak-anak bisa bermain dengan bebas dan bersekolah dengan ceria. Tapi di Meksiko, anak-anak harus memegang senjata.

Begitulah fakta yang menggemparkan dunia. Anak-anak usia sekolah dilatih memegang senjata di desa mereka.
Alih-alih sekolah, mereka harus berhenti bermain dan justru memegang senjata. Itu semata-mata untuk membela diri.

Seperti yang diberitakan Reuters, desa-desa di negara bagian Guerrero barat daya hidup di bawah tekanan dan tak memiliki pilihan. Mau tidak mau, kepala keluarga harus menyerahkan anak-anak untuk ikut militer.

David Sanchez Luna, wanita berumur 56 tahun, memiliki pengalaman pahit karena tak sanggup membela keluarganya. Dia tak bisa memegang bedil.

Ketidakmampuan itu arus dibayar mahal. Dia cuma bisa pasrah ketika ibu mertuanya disiksa dan dibunuh oleh kartel narkoba saat memutuskan untuk meninggalkan gerombolan itu.

Kini, dia dengan sukarela menyerahkan dua putrinya, tujuh tahun dan 12 tahun, untukmengikuti pelatihan senjata.

"Mereka harus melakukan ini untuk mempersiapkan diri membela keluarga, saudara mereka, dan membela desa," ujar Sanchez Luna.

Langkah penduduk desa untuk menyerahkan anak-anak mereka membetot perhatian dunia. Media-media lokal memamerkan bagaimana anak-anak usia sekolah memegang senjata dan menampilkan manuver militer.

Tetua di sana pun mengatakan bahwa mereka tidak akan menggunakan anak-anak untuk memerangi ataupun menembak para kartel narkoba. Mereka mengambil langkah berjaga seperti ini setelah putus asa mendapatkan bantuan dari petinggi yang jauh di Meksiko City.

Bulan lalu, ditemukan 10 orang tewas dengan tubuh terbakar. Mereka disergap dan dibunuh oleh kartel Los Ardillos setelah keluar dari wilayah pengamanan yang dijaga oleh sesama mereka atau yang mereka sebut CRAC-PF.

Itu bukanlah serangan pertama. Beberapa tahun terakhir serangkaian pembunuhan termasuk pemenggalan tubuh yang mengguncang 6.500 penduduk tanah nan subur tersebut. Kekerasan kepada penduduk pun tidak terbendung lagi