Minggu, 15 Maret 2020

Eksotisnya Sunset di Pantai Tanjung Pendam Belitung

Banyak pantai yang menawan di Belitung. Tapi kalau mau melihat indahnya sunset, Pantai Tanjung Pendam bisa menjadi pilihan tepat.

Matahari terbenam atau sunset memang selalu memiliki keindahan tersendiri saat melihatnya di manapun kita berada. Salah satu tempat terbaik untuk melihat matahari terbenam adalah di pantai. Kali ini saya akan menceritakan pengalaman saya saat melihat matahari terbenam di Pantai Tanjung Pendam, Kepulauan Bangka Belitung.

Ini merupakan pertama kalinya saya melakukan perjalanan keluar Pulau Jawa dengan menggunakan pesawat. Selain merasa khawatir bagaimana rasanya naik pesawat untuk pertama kalinya, saya juga merasa antusias karena akan mengunjungi salah satu daerah di Indonesia yang menjadi salah satu pesona di Asia.

Pesawat yang saya tumpangi sempat kembali ke bandara karena cuaca yang semakin buruk. Namun saya tetap sampai di Belitung dengan selamat walaupun harus menunggu cuaca kembali normal. Sesampainya di Belitung, saya dan beberapa teman menuju ke penginapan terlebih dahulu untuk menaruh barang-barang agar tidak banyak yang dibawa untuk mengeksplor Belitung ini.

Dari penginapan, tujuan pertama perjalanan saya adalah melihat matahari terbenam di pantai. Awalnya saya berniat untuk menuju Pantai Tanjung Tinggi yang populer itu. Namun salah seorang teman saya merekomendasikan untuk mengunjungi Pantai Tanjung Pendam terlebih dahulu.

Akhirnya saya memutuskan untuk mengikuti rekomendasi teman saya itu menuju Pantai Tanjung Pendam. Sebenarnya saya tidak yakin akan mendapatkan momen untuk melihat matahari terbenam di pantai ini karena cuacanya mendung.

Sesampainya di pantai yang terletak di pusat Kota Tanjung Pandan ini, saya merasa takjub karena keindahannya. Pantainya yang putih dan bersih semakin membuat saya ingin berlama-lama di sini. Pengunjung yang datang pun tidak terlalu ramai sehingga saya merasa lebih leluasa untuk mengabadikannya dalam bentuk foto.

Semakin sore menjelang, ternyata cuaca semakin cerah dan Yang Maha Kuasa memperlihatkan matahari terbenam yang indah. Saat itu hampir semua pengunjung mengabadikan momen ini. Ada yang berswafoto dan ada pula yang foto bersama-sama dengan keluarga dan kerabatnya.

Akhirnya saya memutuskan untuk melihat matahari hingga benar-benar terbenam sepenuhnya karena saya belum tahu kapan akan kembali lagi ke sini. Setelah langit mulai berubah menjadi gelap, saya dan teman-teman saya tidak lupa mengabadikan foto tulisan Tanjung Pendam yang menjadi ikon pantai ini.

Keindahan Pantai Tanjung Pendam membuat saya semakin antusias untuk mengunjungi pantai-pantai lainnya di Belitung.

Jembatan Berendeng yang Instagramable di Tangerang

 Jembatan Berendeng menjadi salah satu objek wisata di Tangerang. Jembatan ini asyik juga buat foto-foto.

"Kita nantinya akan berkunjung ke jembatan yang menyambungkan dua sisi Sungai Cisadane," kata pemandu wisata kami yang merupakan duta pariwisata kota Tangerang, yaitu alumni dari Kang dan Nong Kota Tangerang (kalau di Jakarta, Abang dan None), menyampaikan kepada kami yang sedang berwisata dalam kota dengan Bus City Tour milik Pemkot Tangerang.

Saya pun berpikir. Berwisata ke jembatan? Ingatan saya melayang sewaktu saya berwisata ke Batam empat tahun lalu. Saya mengunjungi Jembatan Barelang yang menjadi ikon wisata Batam. Sesudah itu, saya pun berpikir, apa yang akan ditawarkan di jembatan yang diberi nama Berendeng ini?

Dari Kampung Bekelir, rombongan City Tour menuju ke Jembatan Berendeng. Perjalanan tidak lama. Kurang lebih 10 menit. Perjalanan ini menyusuri Sungai Cisadane. Kami pun berhenti di tulisan besar Cisadane Walk. Saya pun sempat nyeletuk, wah, ada Ciwalk di sini.

Iya, kalau di Bandung ada Cihampelas Walk, nah di Tangerang ada Cisade Walk. Kalau disingkat Ciwalk juga. Dari Cisadane Walk ini, saya berjalan kaki menyusuri Sungai Cisadane.

Jalur pedestrian ini sangat nyaman. Tapi saya belum melihat adanya guide block untuk penyandang disabilitas. Sepanjang pinggir sungai, ada pagar pengaman. Oleh Pemerintah Kota Tangerang, juga disiapkan spot foto.

Semakin mendekati Jembatan, saya melihat ada taman. Ada semacam gazebo ada ruang publik berukuran kecil yang sementara dibangun. Dari spot ini, Jembatan Berendeng semakin terlihat. Jembatan ini catnya warna-warni. Ngejreng, alias eye catching sekali dari pinggir jalan.

Tak ada salahnya berfoto dengan latar belakang jembatan ini karena penuh warna. Menapaki jembatan ini, cukup menanjak. Sampai di tengah jembatan, ternyata ada panggung atau tempat berfoto dengan alas yang terbuat dari kaca.

Inilah kelebihan dari Jembatan Berendeng ini. Ada spot foto dengan latar belakang Sungai Cisadane yang besar. Untuk berfoto, gratis tidak ada pungutan. Tapi kita harus melepas alas kaki. Wajar, soalnya sepatu atau sandal kita mungkin membawa kotoran dan bisa merusak kaca yang menjadi alas.

Tronjal-tronjol, Ada Kota dan Pulau Dildo di Kanada

Capres parodi Nurhadi-Aldo alias pasangan Dildo, lagi viral di masyarakat. Eh jangan salah lho, ada juga kota dan pulau dengan nama serupa.

Sebelum nama pasangan capres guyonan Nurhadi-Aldo viral di media sosial, nama dildo dikenal sebagai alat bantu seks. Namun, kini nama dildo kerap diasosiasikan dengan Nurhadi-Aldo sebagai bentuk satir di tahun politik.

Disebut memiliki nomor urut 10, pasangan yang diusung oleh koalisi Tronjal-tronjol Maha Asyik ini sejatinya merupakan tukang pijat. Ketimbang tegang mikirin politik, pasangan Dildo hadir menghibur warganet lewat guyonannya.

Tapi ternyata di Kanada, ada kota dan pulau yang memiliki nama dildo seperti singkatan pasangan Nurhadi-Aldo. Dilihat detikTravel dari situs resminya, Kamis (10/1/2019), dildo merupakan nama suatu pulau sekaligus kota di Provinsi Newfoundland and Labrador, bagian utara Kanada. Dari Kota St John, ibukota Provinsi Newfoundland and Labrador, jarak ke sana hanya 60 km saja.

Namanya pun kerap disandingkan dengan kota bernama nyeleneh lain di dunia, seperti Sssex di Inggris dan Moron di Mongolia. Hanya jangan berpikir negatif dulu, nama dildo ternyata tak ada hubungannya dengan alat bantu seks. Bahkan, nama dildo di kota tersebut sudah dipakai sejak tahun 1711.

Soal asal usul atau sejarah penggunaan kata dildo pun belum jelas sampai saat ini. Kala itu, kata dildo dipakai untuk menyebut apa pun setiap objek silinder untuk menguji pipa. Kata itu sering digunakan oleh pelaut dan nelayan setempat.

Bahkan, seorang pelayar terkenal, Kapten James Cook yang mendarat di sana pada akhir abad ke-18 juga tidak mengganti nama tersebut. Nama dildo sudah sangat melekat bagi masyarakat setempat.

Beberapa kali wacana penggantian nama Kota Dildo pernah didengungkan, tapi selalu gagal. Masyarakat Kota Dildo tidak mempermasalahkan soal namanya. Lagipula, namanya sudah dipakai sejak ratusan tahun silam oleh nenek moyang mereka.

Malah, kota ini juga memiliki event tahunan Dildo Days. Kegiatannya berupa festival yang dimaksudkan untuk menyambut wisatawan.

Selain namanya yang unik, traveler juga bisa datang ke Kota Dildo untuk berwisata. Anda bisa mengikuti tur dengan kapal, di mana traveler bisa wisata melihat paus, bongkahan es hingga Pulau Dildo sendiri. Pastinya menarik dan nggak bikin tegang!

Eksotisnya Sunset di Pantai Tanjung Pendam Belitung

 Banyak pantai yang menawan di Belitung. Tapi kalau mau melihat indahnya sunset, Pantai Tanjung Pendam bisa menjadi pilihan tepat.

Matahari terbenam atau sunset memang selalu memiliki keindahan tersendiri saat melihatnya di manapun kita berada. Salah satu tempat terbaik untuk melihat matahari terbenam adalah di pantai. Kali ini saya akan menceritakan pengalaman saya saat melihat matahari terbenam di Pantai Tanjung Pendam, Kepulauan Bangka Belitung.

Ini merupakan pertama kalinya saya melakukan perjalanan keluar Pulau Jawa dengan menggunakan pesawat. Selain merasa khawatir bagaimana rasanya naik pesawat untuk pertama kalinya, saya juga merasa antusias karena akan mengunjungi salah satu daerah di Indonesia yang menjadi salah satu pesona di Asia.

Pesawat yang saya tumpangi sempat kembali ke bandara karena cuaca yang semakin buruk. Namun saya tetap sampai di Belitung dengan selamat walaupun harus menunggu cuaca kembali normal. Sesampainya di Belitung, saya dan beberapa teman menuju ke penginapan terlebih dahulu untuk menaruh barang-barang agar tidak banyak yang dibawa untuk mengeksplor Belitung ini.

Dari penginapan, tujuan pertama perjalanan saya adalah melihat matahari terbenam di pantai. Awalnya saya berniat untuk menuju Pantai Tanjung Tinggi yang populer itu. Namun salah seorang teman saya merekomendasikan untuk mengunjungi Pantai Tanjung Pendam terlebih dahulu.

Akhirnya saya memutuskan untuk mengikuti rekomendasi teman saya itu menuju Pantai Tanjung Pendam. Sebenarnya saya tidak yakin akan mendapatkan momen untuk melihat matahari terbenam di pantai ini karena cuacanya mendung.

Sesampainya di pantai yang terletak di pusat Kota Tanjung Pandan ini, saya merasa takjub karena keindahannya. Pantainya yang putih dan bersih semakin membuat saya ingin berlama-lama di sini. Pengunjung yang datang pun tidak terlalu ramai sehingga saya merasa lebih leluasa untuk mengabadikannya dalam bentuk foto.

Semakin sore menjelang, ternyata cuaca semakin cerah dan Yang Maha Kuasa memperlihatkan matahari terbenam yang indah. Saat itu hampir semua pengunjung mengabadikan momen ini. Ada yang berswafoto dan ada pula yang foto bersama-sama dengan keluarga dan kerabatnya.