Sabtu, 15 Februari 2020

Viral #trashtag di Instagram, Aksi Netizen Berburu Sampah

Viral yang satu ini boleh banget ditiru. Kemajuan media sosial saat ini juga bikin sejumlah orang menularkan hal baik dengan cepat.

Melansir CNN World+, Rabu (13/3/2019), inilah #trashtag. Adalah virus tantangan bagi netizen melakukan aksi berburu sampah.

Akhir pekan ini, tantangan #trashtag menginspirasi orang untuk pergi ke lokasi yang penuh sampah berserakan, mengambilnya. Lalu, mereka memposting foto sebelum dan sesudah di media sosial.

Sejauh ini ada lebih dari 27.000 unggahan di Instagram. Dan, banyak pula sukarelawan telah membersihkan taman, jalan dan pantai di seluruh dunia.

Di Instagram ada unggahan yang mengambil tutup botol, sedotan dan balon dari sebuah pantai di California. Lainnya ada yang mengumpulkan plastik yang dibuang sembarangan oleh penduduk Junagadh, India.

Tantangan #trashtag menjadi populer setelah unggahan Reddit yang menantang individu, yakni membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik. Ide itu dimulai pada tahun 2015 ketika brand out door UCO meluncurkan proyek #TrashTag.

"Saya dan seorang teman saya sedang dalam perjalanan darat di California. Melihat keluar, kami merasa tidak enak karena lokasi yang sangat cantik ada sampah dan kami memutuskan untuk mengambilnya, setidaknya ada 100 lembar sampah kuitansi" kenang Steven Reinhold, seorang duta UCO saat itu.

Tantangan #trashtag telah meningkatkan kesadaran tentang polusi sampah dan jumlah plastik di laut. Lebih dari 150 juta ton plastik ada di lautan kita, menurut sebuah makalah Forum Ekonomi Dunia dari tahun 2016.

Dan, sebuah laporan dari pemerintah Inggris tahun 2018 memperingatkan bahwa jumlah sampah plastik yang mencemari lautan dunia diperkirakan akan berlipat tiga kalinya antara tahun 2015 dan 2025.

Seperti Ice Bucket Challenge yang mengumpulkanUSD 115 juta untuk AsosiasiALS, #trashtag pun bisa bertindak sedemikian rupa. Itu menjadi tantangan langka di media sosial yang membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik.

So Sweet, Pilot Kasih Kejutan Manis untuk Orang Tuanya di Pesawat

Cara manis dilakukan pilot Filipina di penerbangan pertama bersama orangtuanya. Sebelum terbang, melalui pengeras suara dia ucapkan kata-kata manis. So sweet!

Orangtua merupakan orang terbaik yang selalu ada dan memberi pondasi awal dalam kehidupan kita. Mengingat hal itu, pilot asal Filipina punya cara manis mengungkapkan rasa terimakasihnya kepada orangtuanya.

Dirangkum detikTravel, Rabu (13/3/2019) aksi manis ini dilakukan oleh pilot Filipina, Genesis Bernardo yang bekerja di maskapai AirAsia. Melalui interkom, sebelum terbang dia pun mengucapkan kata-kata manis untuk orangtuanya yang ikut dalam penerbangannya dari Filipina ke Taiwan.

"Selamat pagi bapak dan ibu dari deck penerbangan. Saya Genesis Bernardo, kapten penerbangan," ucapnya dari interkom.

Mendengar nama kapten, sontak kedua orang tuanya yang berada di bangku penumpang terkejut dan memasang ekpresi senang. Sorot wajah bahagia mereka ini direkam oleh adik sang pilot, Joshua Bernardo yang juga ikut dalam penerbangan.

Setelah mengucapkan kata-kata rutin sebelum terbang untuk para penumpang, pilot pun melanjutkan ucapan manis untuk orangtuanya.

"Di kesempatan ini saya ingin menyambut dua orang yang sangat penting dalam hidup saya, Tuan Paul Bernardo dan Nyonya Solly Bernardo, ayah dan ibu saya," lanjutnya.

Ini Tempat Wisata Baru di Gunungkidul yang Ndeso Tapi Asyik

Ada tempat wisata baru di Gunungkidul yang ndeso tapi asyik. Suasana pedesaannya yang asri dan masih alami dijamin bikin kamu betah.

Suasana pedesaan yang masih asri dan alami memang cocok dijadikan tempat merefresh pikiran seseorang. Salah satunya dengan mengunjungi 'Wulenpari', sebuah Desa yang berada di Pinggir Sungai Oya, Desa Beji, Kecamatan Patuk, Gunungkidul.

Berjarak 25 KM dari jantung Kota Yogyakarta, lokasi Wulenpari sangat mudah ditemukan. Mengingat pengunjung hanya perlu menyusuri jalan utama Jogja-Wonosari hingga sampai di Desa Beji, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul. Tepatnya setelah Desa Putat atau sebelum tempat para pedagang yang menjajakan buah di pinggir jalan tersebut.

Nantinya, terdapat sebuah pelakat bertuliskan Desa Beji yang berada di sebelah kanan jalan, tepatnya di sebuah tikungan. Setelah itu, pengunjung hanya perlu menyusuri jalanan beraspal tersebut hingga menemukan simpang 3 yang di dekatnya terdapat sebuah plakat bertuliskan Jelok.

Tak perlu lama, usai menyusuri jalanan cor blok itu pengunjung akan menemukan dua jembatan gantung. Dari sini pengunjung diharap mengambil arah ke kiri yakni menuju ke Wulenpari. Untuk melewati jembatan gantung itu, pengunjung hanya dapat mengendarai motor atau berjalan kaki saja.

Selama perjalanan di jalan setapak yang terbuat dari konblok itu, mata pengunjung akan dimanjakan dengan pemandangan Sungai Oya di sebelah kanan dan hijaunya pepohonan menuju Wulenpari. Tak sampai 5 menit pengunjung akan mendapati beberapa rumah tradisional yang berdiri di atas hamparan rerumputan hijau.

Suasananya di Wulenpari juga sangat asri dan jauh dari suara kendaraan bermotor. Selain itu, terdapat pula beberapa perahu yang berada di atas rerumputan tersebut, di mana perahu itu dapat digunakan untuk menyusuri Sungai Oya yang berada tepat di pinggir Wulenpari.

Melongok ke dalam, pengunjung akan mendapati beberapa bangunan dengan konsep tradisional yang di dalamnya terdapat gamelan dan beberapa benda jaman dahulu. Selain itu terdapat pula, rumah makan yang menyajikan makanan tradisional seperti sayur lombok (cabai) hijau, oseng-oseng dan aneka minuman seperti wedang rempah serta kelapa muda.

Salah seorang penggagas Wulenpari, Aminudin Azis mengatakan, bahwa Wulenpari sendiri baru akan memasuki usia 1 tahun. Mengingat Wulenpari sendiri baru dibangun pada bulan Desember tahun 2017 dan dibuka untuk umum pada bulan Juni tahun 2018.

"Jadi setelah badai cempaka itu kan bantaran Sungai Oya rusak, terus kita bersama-sama dengan warga berniat untuk memperbaikinya. Nhah, karena lokasinya ada di pinggir Sungai maka saat itu warga sepakat untuk membuat tempat peristirahatan sekaligus tempat wisata," ujar Aziz, Senin (11/3/2019).

Lebih lanjut, untuk nama Wulenpari sendiri diambil dari bahasa Jawa yang artinya untaian padi. Terlebih, dalam falsafah Jawa untaian padi kerap ditaruh di rumah guna menandakan kemakmuran atau kesejahteraan. Sehingga nama tersebut akhirnya dipilih dengan harapan keberadaan Wulenpari dapat mensejahterakan masyarakat di Desa Beji pada khususnya.

"Seperti jembatan gantung itu sengaja dibikin untuk akses masyarakat biar bisa mudah ke lahannya untuk bertani. Jadi keberadaan Wulenpari ini ingin mensejahterakan masyarakat sekitar, untuk pengelolaannya juga kita libatkan seluruh masyarakat Desa Beji," ucapnya.

Sambung Aziz, Wulenpari sendiri berdiri di atas tanah dengan luas sekitar 1 hektare yang di dalamnya berisi bangunan tradisional untuk homestay, rumah makan dan beberapa tempat yang digunakan untuk mempelajari pertanian. Aziz menyebut, konsep yang diusung Wulenpari memang lebih ke arah tradisional dan sarat akan nilai budaya.

Menurutnya, hal itu agar pengunjung dapat merasakan suasana asri, alami dan nyamannya pedesaan saat mengunjungi Wulenpari. Selain itu, ia menganggap suasana seperti itu sangat dibutuhkan wisatawan yang penat dan jenuh dengan rutinitasnya di perkotaan.

"Dibuat seperti ini (konsep pedesaan) karena harapannya yang ke sini bisa menenangkan pikiran dari hiruk pikuk kota dan kesibukannya saat hari kerja. Dengan suasana asri gini kan orang itu bisa merasa lebih damai, lebih tenang, serta pulang dari sini bisa fresh dan logika berpikirnya jadi lebih baik saat beraktivitas," ujarnya.

Aziz menambahkan, Wulenpari juga memiliki Pasar tradisional bernama Pasar Srawung yang mengusung konsep pasar jaman dahulu. Di Pasar tersebut, pengunjung dapat membeli aneka makanan dan minuman tradisional saat mengunjungi Wulenpari.

"Tapi pasarnya tidak setiap hari buka, bukanya setiap 35 hari sekali, tepatnya pas pasaran Kliwon," katanya.

Untuk biaya masuk ke Wulenpari sendiri pengunjung tidak dikenakan biaya. Pengunjung hanya perlu menyediakan uang untuk menyusuri Sungai Oya dengan menggunakan perahu dan membeli makanan dan minuman saja. Untuk harga makanan sendiri bervariasi, mulai dari Rp 20 ribu hingga Rp 50 ribu.