Jumat, 14 Februari 2020

Mau Foto Instagramable di Labuan Bajo? Kenali Musimnya

 Zaman sekarang, wajib posting foto liburan di medsos, apalagi bila berlibur ke Labuan Bajo. Bukit ini adalah tempat yang terkenal menjadi spot foto.

Sebelum berangkat panen foto-foto Instagramable, kenali dulu musimnya. Soalnya, musim menentukan penampilan bukit dan pemandangan sekitar Labuan Bajo. Tim detikcom bersama Teras BRI Kapal Bahtera Seva sandar di Ibu Kota Manggarai Barat ini pada 24 Februari 2019, saat hujan sudah cukup sering turun.

Di sini ada Bukit Sylvia dan Bukit Amelia. Aksesnya melewati jalan aspal mulus, sekitar 40 menit dari Bandara Komodo. Ini termasuk lokasi wisata yang mudah dijangkau dari pusat kota.

"Saat ini sedang Green Season, Februari sampai April," kata Heronimus atau Iron, pria setempat yang tahu betul lokasi-lokasi wisata sekitar sini.

Pria 30 tahun ini menjelaskan soal pemandangan hijau yang sedang kami saksikan. Panorama ini akan berganti warna begitu kemarau datang, dari hijau menjadi kuning kecokelatan yang juga memukau, seperti di foto-foto populer bertemakan Pulau Komodo atau perbukitan Nusa Tenggara Timur.

"Kemarau atau Yellow Season itu biasanya di bulan Mei, Juni, Juli," kata Iron.

Bukit Sylvia dan Bukit Amelia yang berdekatan terlihat segar. Kami menaiki Bukit Sylvia di siang bolong yang panas. Meski bikin sedikit berkeringat, tapi ini masih tergolong cukup mudah didaki. Tingginya kira-kira 30 meter.

Bukit Amelia menjulang lebih tinggi. Saya mendakinya sendirian. Bukit setinggi sekitar 40 meter ini bikin ngos-ngosan. Medannya tanah berbatu. Perlu hati-hati menapakinya, disarankan untuk tidak mendakinya sendirian.

Dari bukit-bukit itu, pemandangan indah terhampar di sekeliling, 360 derajat. Di bawah bukit ada jalan aspal bak urat nadi yang menjalar ke sekujur daratan sampai terhalang bukit lain.

Laut utara dan laut barat Labuan Bajo terlihat biru bersih. Pulau-pulau di ujung cakrawala terlihat mungil. Di bawah, kapal-kapal yang merapat membuat gambaran tentang destinasi wisata semakin kental. Berfoto di atas Bukit Sylvia, Alexius Sander (Lexi) berteriak.

"Ini tanah punya kita!" teriaknya sambil tertawa cekikikan. Dia cuma bercanda. Pria 31 tahun yang sehari-harinya menjadi pengantar tamu Labuan Bajo ini menjelaskan, nama-nama bukit diambil dari nama pemiliknya.

Bukit-bukit di sini cocok menjadi tempat berfoto saat matahari terbit. Jadi, bila Anda ingin maksimal, bangunlah pagi-pagi dan pertimbangkan juga, ingin mendapat Green Season atau Yellow Season. Selamat menyusun rencana vakansi!

Baca berita lainnya mengenai Teras BRI Kapal Bahtera Seva di Ekspedisi Bahtera Seva.

Salam Lestari! 47 Ekor Tukik Penyu Dilepas di Pantai Wakatobi

47 ekor tukik Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata) dilepas di Pantai Oa Wolio, Wakatobi. Ini termasuk program pelestarian penyu di Wakatobi.

Acara pelepasan tukik penyu ini dilangsungkan di Desa Kabita, SPTN Wilayah I Wangi-Wangi, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara (Sultra) pada Sabtu (16/3/2019).

Kepala Balai Taman Nasional Wakatobi, Darman, S,Hut, M.Sc., kepada detikcom mengatakan bahwa pelepasan tukik tersebut merupakan rangkaian dari agenda jambore konservasi yang dilaksanakan sejak tanggal 14 hingga 17 Maret.

Tukik yang dilepas tersebut berasal dari demplot penetasan semi alami yang dikelola oleh kelompok masyarakat binaan Taman Nasional Wakatobi di Pulau Binongko.

Dikatakannya pula sebelum pelepasliaran tukik, para peserta mendapatkan arahan teknis cara pelepasliaran tukik dari Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) SPTN Wilayah I, Ayub Gerit Polii, S.P.

"Sebelum dilepaskan, tukik dihadapkan ke arah darat sehingga dapat merekam memori tempat mereka akan kembali bertelur dalam jangka waktu ± 30 tahun yang akan datang," katanya.

Ia pun berharap agar kegiatan seperti itu dapat menumbuhkan jiwa konservasi pada generasi muda, sehingga keberadaan penyu dapat terus meningkat di kawasan Taman Nasional Wakatobi.

Penyu merupakan spesies prioritas peningkatan populasi satwa terancam punah di Taman Nasional Wakatobi.

Selain melakukan pelepasan tukik penyu yang berasal dari hasil pengelolaan demplot penetasan penyu semi alami, Balai Taman Nasional Wakatobi juga melakukan monitoring penyu di pulau-pulau yang merupakan lokasi naiknya penyu bertelur yaitu yakni Pulau Anano, Pulau Cowocowo, Pulau Kentiole, Pulau Ndaa, dan Pulau Runduma.

4 Tempat Terbaik Dunia Untuk Menikmati Festival Holi

Festival Holi jadi perayaan yang paling dinanti di India. Namun bukan cuma di India, ini dia tempat-tempat lain yang bisa bikin kamu menikmati Festival Holi.

Dalam rilis yang diterima detikcom dari Agoda, Sabtu (16/3/2019) Festival Holi awalnya digelar untuk menandakan datangnya musim semi. Namun, Holi kini sudah berkembang menjadi perayaan kasih sayang, kesuburan, persahabatan, dan masa muda.

Perayaan ini merupakan momen untuk berkumpul masyarakat Hindu dengan sahabat dan orang-orang terdekat. Festival Holi biasanya berlangsung pada 20-21 Maret 2019 di India, meskipun ada kemungkinan perbedaan tanggal di negara lain.

Pada puncak perayaan Holi masyarakat akan bermain air sambil saling melempar bubuk warna-warni yang dikenal sebagai gulal, serta menikmati suguhan manis. Festival ini hari yang dinantikan masyarakat India, baik anak-anak maupun orang dewasa.

Traveler yang ingin menikmati Festival ini secara maksimal, bisa datang ke India atau beberapa tempat lainnya.

1. Goa, India

India dan Nepal adalah dua destinasi paling pas untuk menyaksikan Festival Holi. Traveler bisa ke Goa, yang juga disebut pusatnya pesta di India.

Bersiaplah jika ada yang melempari Anda dengan balon air berwarna atau gulal sebagai bagian dari kegembiraan ini. Anda bisa berbagi penginapan dengan teman-teman di Amore Manolita. Di dapur akan tersedia tersedia, Anda dapat menyiapkan campuran warna-warna organik yang ramah lingkungan dari berbagai bunga dan bahan lain di pasar terdekat sebelum Festival Holi.

2. Pokhara, Nepal

Pokhara, Nepal adalah tempat yang tidak kalah ramai saat Festival Holi. Perayaan dimulai sehari sebelumnya dengan menyalakan api unggun, lambang kemenangan kebaikan atas kebatilan.

Jika wisatawan ingin ikut serta dalam kemeriahan melempar air berwarna, jangan lupa mengolesi kulit dengan pelembab dan memoles kuteks pada kuku Anda sebelum permainan dimulai. Hal ini agar Anda bisa segera membersihkan diri setelah permainan usai.

Untuk menutup semarak Holi di Nepal, Fishtail Lodge atau Pavilions Himalayas dengan pemandangan menakjubkan, bisa jadi pilihan tepat.

3. Los Angeles, Amerika Serikat

Salah satu hal terbaik mengenai Festival Holi adalah semua orang bisa ikut bergabung dan bersenang-senang, tanpa batasan usia atau kepercayaan yang dianut. Tak heran bila Festival Holi tak hanya dirayakan umat Hindu di India dan Nepal.

Beberapa negara lain juga memiliki keunikan tersendiri, seperti Festival of Colors di Los Angeles, AS, yang tahun ini dirayakan pada 9-10 Maret 2019. Perayaan ini menampilkan tarian, musik, yoga, dan tentu saja, banyak warna!

Untuk akomodasi, Bissell House Bed & Breakfast di Pasadena yang tidak terlalu jauh dari lokasi festival bisa jadi pilihan.

4. Pulau Mauritius

Mau merasakan Festival Holi dengan suasana pulau eksotis? Coba rayakan Festival Holi di Mauritius. Di tempat ini, hampir semua penduduk dan wisatawan bisa merayakan Holi.

Wisatawan yang belum pernah ikut merayakan Festival Holi harus berhati-hati. Karena siapa pun yang berada di area terbuka saat Festival Holi berlangsung, bisa menjadi sasaran permainan lempar air berwarna.

Untuk kemewahan akomodasi yang menawarkan banyak pilihan seperti naik perahu, bermain kano dan snorkeling, Anda bisa mempertimbangkan LUX Belle Mare.

Bagaimana Traveler, sudah tahu mau menikmati Festival Holi di mana?