Selasa, 11 Februari 2020

Inilah 10 Bandara Terbaik Sedunia 2019, Asia Jadi Raja

Bagaimana sebuah bandara menjadi yang terbaik sedunia? Apakah yang punya fasilitas berteknologi tinggi, staf yang ramah, fasilitas liburan atau layanan lainnya, seperti imigrasi yang cepat?

Menurut Skytrax World Airport Awards seperti dilansir CNN Travel, Kamis (28/3/2019), Bandara Changi Singapura untuk ketujuh kalinya secara berturut-turut dinobatkan sebagai bandara terbaik dunia.

Menjadi pemimpin penerbangan global, Changi terus berupaya untuk meningkatkan, berinovasi, dan mengesankan wisatawan. Di tahun 2019, penghargaan itu tepat pada waktu pembukaan Terminal Jewel Changi di bulan April.

"Dipilih sebagai bandara terbaik dunia tujuh tahun berturut-turut adalah prestasi yang benar-benar luar biasa bagi Bandara Changi. Penghargaan ini membuat popularitas bandaranya meningkat di mata pelancong internasional," kata Edward Plaisted, CEO Skytrax.

Penghargaan bergengsi itu diberikan di Passenger Terminal Expo 2019 di London pada hari Rabu. Daftar Skytrax World Airport Awards dipilih oleh penumpang dalam survei kepuasan pelanggan bandara global.

Selain menghitung 10 bandara terbaik, Skytrax memberikan penghargaan dalam kategori bandara regional, staf bandara terbaik, tempat makan bandara, pengiriman bagasi dan bandara terbersih.

Ketika Jewel Changi dibuka, pusat transportasi ini juga akan menjadi rumah bagi air terjun indoor tertinggi di dunia. Di nomor dua dalam daftar adalah Bandara Internasional Tokyo (Haneda), naik satu tempat dari 2018 dan juga memenangkan bandara domestik terbaik dunia dan bandara terbersih dunia.

Ketiga teratas adalah Bandara Internasional Incheon, turun satu tempat dari tahun 2018. Incheon tetap menjadi idola, karena juga meraih penghargaan untuk bandara transit terbaik dunia.

Yang baru di sepuluh nomor ini adalah Bandara Internasional Narita ada di nomor 9 dan terkenal karena lintasan larinya yang unik di Terminal 3. Narita adalah salah satu dari tiga bandara Jepang di peringkat 10 besar, dan satunya lagi adalah Central Japan International Airport, yang berada di nomor 6.

Bandara-bandara di Asia mendominasi peringkat ini dengan Bandara Internasional Hong Kong juga mendapatkan tempat teratas, yakni di nomor lima. Bandara Frankfurt, di Jerman, keluar dari 10 besar setelah memegang nomor 10 selama dua tahun terakhir.

Berikut 10 besar bandara terbaik sedunia dari Skytrax World Airport Awards:

1. Singapore Changi Airport, Singapura
2. Tokyo International Airport (Haneda), Jepang
3. Incheon International Airport, Korea Selatan
4. Hamad International Airport, Qatar
5. Hong Kong International Airport, Hong Kong
6. Central Japan International Airport, Jepang
7. Munich Airport, Jerman
8. London Heathrow Airport, Inggris
9. Narita International Airport, Jepang
10. Zurich Airport, Swiss.

Pesona Pantai Manggar yang Didatangi Jokowi Kampanye

 Hari ini Presiden Jokowi berkampanye di hadapan nelayan Pantai Manggar, Balikpapan. Di kalangan traveler lokal, pantai ini juga terkenal karena keindahannya.

Kedatangan Jokowi Kamis pagi tadi pun langsung mencuri perhatian para nelayan di Pantai Manggar. Tak sedikit yang berebut salaman hingga berfoto bareng.

Faktanya, Pantai Manggar atau yang memiliki nama lengkap Pantai Manggar Segarasari ini sudah populer sebagai tempat wisata di Balikpapan. Dihimpun detikcom, Kamis (28/3/2019), lokasinya pun tak jauh dari pusat kota. Cukup setengah jam dari bandara.

Datang ke Pantai Manggar, traveler bisa melihat garis batas pantai. Laut yang biru dan hamparan pasir yang putih, menambah keanggunan pantai ini.

Jika ingin santai, traveler pun bisa menyewa tikar yang dijajakan oleh penjual jasa setempat. Bisa juga duduk di bawah payung yang lebih adem.

Traveler yang mau datang berwisata ke pantai ini pun tak usah khawatir membawa bekal. Soalnya, sudah tersedia rumah makan sederhana yang menjajakan aneka kuliner seafood.

Kualitasnya pun sudah tak perlu ditanyakan lagi, karena semua ikannya diambil langsung dari laut oleh nelayan di pantai tersebut. Bisa jadi rekomendasi jika tengah liburan ke Balikpapan.

Telaga Biru Misterius di Maluku Utara

Di Maluku Utara, tepatnya di Pulau Mandioli terdapat telaga biru nan misterius. Konon ada buaya putih yang menghuni telaga. Penasaran?

Kapal BRI Bahtera Seva III sandar di Desa Lele, Pulau Mandioli, Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara , Selasa (5/3/2019) siang. Penduduk setempat bicara soal telaga misterius yang bisa kami kunjungi.

"Telaga biru, tapi jauh kalau jalan kaki," kata Yani (25), nelayan setempat yang sedang tidak melaut karena cedera tangan.

Dia bahkan mewanti-wanti tim detikcom supaya hati-hati sesampainya di lokasi, dia menyarankan agar memberi salam kepada alam di telaga. Menurut cerita orang tuanya, ada buaya putih yang menghuni telaga misterius itu.

Pulau Mandioli punya luas 260 km persegi. Desa Lele adalah salah satu dari 12 desa di pulau ini. Letak telaga biru bukan di Desa Lele di belahan selatan pulau ini, tapi di Desa Waya di belahan utara.

Meski ada cerita misteri buaya putih yang disampaikan penduduk, namun kami tetap berangkat. Jarang ada orang luar desa yang mencapai lokasi di seberang barat daya Labuha Ibu Kota Halmahera Selatan ini, apalagi bagi orang Jakarta yang berjarak 2.351 km dari tempat ini.

Kami berangkat ditemani para pemuda setempat yang berbaik hati menyediakan tumpangan sepeda motor. Mereka adalah Ari (22), Alfikram (14), dan Lamudin (14). Selepas permukiman, medan makin berat.

Pertama, sepeda motor harus melewati tanjakan berbatu. Jalan setapak yang panjang menyambut di depan. Kami melewati perkebunan warga yang dijadikan tempat mengungsi saat gempa bermagnitudo 5,2 tanggal 18 Februari lalu. Tampak ilalang yang dibakar untuk dipersiapkan sebagai kebun.

Jalanan tanah makin tidak rata dan berkelok saat melewati kawasan pepohonan. Namun Ari dan kawan-kawan tetap memaksimalkan laju motornya. Setengah jam perjalanan, sekitar 10 km dari Desa Lele, akhirnya kami turun dari sepeda motor.

Di balik pepohonan terlihat telaga yang biru. Ini benar-benar biru, lebih biru dari air laut. Seolah, ada yang melarutkan tinta ke dalam air di sini, namun jelas bukan itu sebabnya.

Kaki melangkah menuruni lereng dipenuhi seresah daun. Teduh dan redup akibat pepohonan menciptakan kesunyian khas hutan. Suara serangga dan burung bergema dari balik ketinggian ranting-ranting.

"Kalau baru datang, tolong cuci muka dulu di air telaga ya," kata Alfikram, menyampaikan tata cara yang biasa dilakukan warga saat berkunjung di telaga ini.

Dia berjongkok menangkup air Telaga Biru, tanpa menghiraukan ikan gabus yang berenang semeter di seberangnya. Bila dilihat dari dekat, air telaga ini bening sekali dan menyegarkan, rasanya tawar saat diminum. Namun bila dilihat dari kejauhan, air yang bening ini biru. Entah dari mana warna biru ini berasal.

Belum ada yang meneliti berapa kedalaman telag Konon, pohon tinggi yang pernah jatuh ke telaga menjadi tak terlihat lagi. "Saya berani berenang di laut, tapi kalau berenang di sini tidak berani. Soalnya kita tidak tahu ada apa di dalam situ," kata Lamudin yang merupakan anak nelayan ini.

Di bagian lain Indonesia, telaga-telaga berwarna biru atau hijau juga ada. Warna dari telaga disebabkan banyak faktor, mulai dari pengaruh batu kapur di dinding telaga hingga jenis ganggang yang hidup di dalamnya.

Di Jerman, ada pula telaga biru semacam yang dipunyai Pulau Mandioli ini, yakni Blautopf, dalamnya 21 meter dengan terowongan bawah tanah menuju Sungai Danube. Blautopf di negara Eropa Barat yang maju itu juga menyimpan mitos tentang dewi air sebagai penunggunya. Kini penelitian yang coba menguak potensi Blautopf sudah dilakukan.

Di Telaga Biru Mandioli, mitos soal buaya putih sebagai penunggu juga hidup. "Buaya itu biasanya keluar tiap Jumat siang, waktu salat Jumat," kata Ari. Entah kearifan apa yang terkandung dalam mitos itu. Namun birunya telaga ini memang membuat imajinasi terbang ke mana-mana, mendorong orang berpikir soal potensi apa yang ada di balik telaga indah ini.