Sabtu, 08 Februari 2020

Geliat Destinasi Digital dari Kacamata Pakar Media Sosial (2)

Freelancer Social Media Strategist Ang Tek Khun mengatakan pintu kreativitas di sektor pariwisata dibuka lebar-lebar pada era Presiden Joko Widodo (Jokowi). Menurutnya, destinasi digital dibangun di mana-mana sehingga hasilnya bisa ikut dinikmati langsung oleh masyarakat.

"Kabinet Kerja di bawah Presiden Jokowi banyak memberikan kejutan. Presiden Jokowi menjadikan pariwisata sebagai leading sector. Dahulu pariwisata menjadi urusan urusan orang tua juga para pejabat terkait. Tapi, saat ini pariwisata justru banyak ditopang kaum muda milenial. Konsepnya kekinian banget. #MillennialsItuKita," ungkapnya dalam keterangan tertulis, Kamis (4/4/2019).

Dia juga menjelaskan pariwisata memberikan devisa sekitar Rp 223 triliun di 2018. Angkanya surplus Rp 20 triliun dari tahun sebelumnya. Dengan postur besar, pariwisata mampu menyerap tenaga kerja hingga 12,6 juta orang. Sektor ini pun memberikan kontribusi pada PDB Nasional sebesar 5,25%. Angka ini jauh di atas profil 2014, sebab waktu itu devisa yang dihasilkan hanya Rp 144 Triliun.

"Pada masa pemerintahan Presiden Jokowi banyak melakukan gebrakan baru. Sektor pariwisata terus didorong hingga menjadi motor ekonomi baru. Atraksi, aksesibilitas, dan amenitas terus disempurnakan. Lebih menarik lagi, kaum milenials juga diberi slot untuk berkreasi," terang Khun yang lulusan Universitas Surabaya.

Hal ini semakin diperkuat dengan Kementerian Pariwisata yang merilis konsep Destinasi Digital. Hingga akhir Maret 2019, jumlah Destinasi Digital sudah mencapai 65.

Beberapa Destinasi Digital diantaranya, Pasar Karetan (Jawa Tengah), Pasar Pancingan (NTB), Pasar Kakilangit (Yogyakarta), Pasar Rimba (Bangka Belitung). Ada juga trio Jawa Tengah lainnya seperti Pasar Inis, Kumandang, dan Watu Gede.

Destinasi Digital ini menjadi wadah kreativitas anak-anak milenial. Sebab, para milenial memiliki banyak value. Entah itu creative value, maupun commercial value. Creative value memberikan space lebar bagi member untuk mendapatkan konten terbaik bagi platform media sosialnya. Baik itu konten text, foto, maupun video. Lalu, commercial value mendatangkan income besar secara rutin.

Dari Destinasi Digital, menurutnya, ada pergerakan ekonomi yang positif dinikmati oleh masyarakat. Bahkan berdasarkan progres Pasar Karetan, setiap lapak milik masyarakat memiliki omzet sekitar Rp 1,5 juta pada 2018. Pasar Karetan membuka akses ekonomi 3 desa, yaitu Segrumung, Sasak, dan Slamet. Mereka mendapatkan aliran kas Rp2 juta sampai Rp 3 Juta per pekan dari lahan parkir.

"Hasil positif dari Destinasi Digital ini harus diapresiasi. Apalagi merespons Presiden Jokowi, Kemenpar banyak melakukan gebrakan hebat. Bukan sekadar aksi, prestasi besar yang didapat juga sangat nyata. Rapor positif Destinasi Digital ini menjadi sisi lain keberhasilan pengembangan pariwisata," tegasnya.

Profil serupa juga ditunjukan oleh Pasar Rimba. Pasar ini melibatkan masyarakat dalam aktivitasnya. Warga diajak mengembangkan konsep pertanian dengan fokus sayuran dan buah. Mereka kini menjadi pemasok produk holtikultura di pasar utama Belitung. Ilustrasinya, Pasar Rimba memiliki 4 buah green house dengan sayuran yang ditangkap lengkap. Ada sawi, kangkung, tomat, edamame, dan bayam.

Pada akhir 2018, dengan masa panen 5 pekan, sawi memberikan kapasitas produksi 25 kg. Produk dari edamame dihasilkan 30 kg per panen. Untuk bayam, produksinya 25 kg per 3 pekan atau tomat dengan kapasitas 25 kg. Menempati lahan 6 hektare, koleksi buahnya ada sirsak, mangga, sawo, rambutan, manggis, sukun, matoa, nangka/cempedak, jambu, durian, dan jeruk hingga rosela.

Buah markisa bahkan sudah dipanen dengan kapasitas produksi sekitar 3 ton. Kini, Pasar Markisa ini setiap pekannya memanen sekitar 100 Kg buah Markisa.

"Destinasi Digital diberikan kebebasan untuk mengembangkan seluruh potensinya. Hasilnya tentu sangat riil. Selain dirinya, Destinasi Digital ini juga menghidupi masyarakat di sekitarnya. Pangsa pasarnya juga sangat jelas," papar Khun lagi.

Menurutnya, Kemenpar juga merintis program Local Guide. Program ini memberikan kesempatan lebih luas bagi milenial untuk aktif dalam industri pariwisata lebih besar. Lalu, secara teknis mereka juga bisa meng-create bisnisnya secara masif. Kanalnya pun lengkap melalui sport tourism, adventure, wisata sejarah, alam, budaya, hingga nomadic tourism.

Local Guide memungkinkan milenial mengembangkan paket wisatanya sendiri. Selain destinasi menarik di daerahnya, mereka juga bisa menentukan harga paket wisatanya. Lebih menarik lagi, Kemenpar akan membantu branding setiap paket wisata yang ditawarkan. Untuk menguatkan sumber daya manusianya, format training of trainers akan diberikan.

Pemenang VitaminSea: Saya Akan ke Lombok Lagi!

Petualangan VitaminSea di Lombok berakhir. Lombok yang cantik ini membuat mereka ingin kembali lagi.

Para petualang VitaminSea telah menjelajahi Lombok sejak Selasa (2/4) sampai hari ini, Kamis (4/4/2019). Tidak hanya berkunjung ke pantai impian, Pantai Pink saja. Namun juga pergi ke tempat lain.

Di hari pertama, Yayang Delfitia dan Teguh Bagus Surya melihat indahnya Bukit Marese dan Pantai Kuta Mandalika. Di hati kedua snorkling dan menuju ke Pantai pink. Di hari yang sama mereka juga melihat pembuatan songket Lombok.

Sedangkan di hari terakhir, mereka menuju Desa Banyumulek yang terkenal dengan industri gerabahnya. Tidak hanya melihat hasil namun mereka juga melihat dan mencoba membuat kerajinan tanah liat ini.

Petualangan pun terpaksa di akhiri. Para prmenang pun berat hati untuk meninggalkan Lombok. Alamnya yang cantik membuat mereka jatuh hati.

"Ini adalah pengalaman yang tidak akan pernah terlupakan. Kunjungan perdana saya ke Lombok sungguh berkesan. Tidak hanya melihat desrinasi wisata saja, namun juga dapat ilmu baru," ujar Teguh.

Yayang punya komentar yang sama. Dia tidak hanya menikmati alam, namun juga mendapatkan ilmu dan pengalaman berharga .

"Petualangan ini memberi saya wawasan baru. Bertemu orang baru dan lingkungan baru, dan ini menyenangkan. Aku tidak akan lupakan pengalaman ini," kata Yayang.

Ternyata Teguh dan Yayang punya hal berbeda yang disukai dari Lombok. Mereka pun berniat untuk kembali lagi ke sini.

"Yang saya sukai dari Lombok adalah kulinernya. Makanan di sini enak-enak. Setelah itu baru pantainya. Pokoknya rekomendasi deh liburan ke sini. Saya nanti pasti liburan ke sini lagi," ucap Teguh.

"Kalau aku suka pantainya. Cantik!" Kata Yayang.

VitaminSea merupakan program detikcom bersama tiketcom untuk memberangkatkan pembaca ke pantai impian. Pada kali ini pantai impiannya adalah Pantai Pink di Lombok.

Petualangan Vitaminsea telah berakhir dan sampai jumpa di VitaminSea selanjutnya. Baca selalu detikcom ya!

Geliat Destinasi Digital dari Kacamata Pakar Media Sosial

Freelancer Social Media Strategist Ang Tek Khun mengatakan pintu kreativitas di sektor pariwisata dibuka lebar-lebar pada era Presiden Joko Widodo (Jokowi). Menurutnya, destinasi digital dibangun di mana-mana sehingga hasilnya bisa ikut dinikmati langsung oleh masyarakat.

"Kabinet Kerja di bawah Presiden Jokowi banyak memberikan kejutan. Presiden Jokowi menjadikan pariwisata sebagai leading sector. Dahulu pariwisata menjadi urusan urusan orang tua juga para pejabat terkait. Tapi, saat ini pariwisata justru banyak ditopang kaum muda milenial. Konsepnya kekinian banget. #MillennialsItuKita," ungkapnya dalam keterangan tertulis, Kamis (4/4/2019).

Dia juga menjelaskan pariwisata memberikan devisa sekitar Rp 223 triliun di 2018. Angkanya surplus Rp 20 triliun dari tahun sebelumnya. Dengan postur besar, pariwisata mampu menyerap tenaga kerja hingga 12,6 juta orang. Sektor ini pun memberikan kontribusi pada PDB Nasional sebesar 5,25%. Angka ini jauh di atas profil 2014, sebab waktu itu devisa yang dihasilkan hanya Rp 144 Triliun.

"Pada masa pemerintahan Presiden Jokowi banyak melakukan gebrakan baru. Sektor pariwisata terus didorong hingga menjadi motor ekonomi baru. Atraksi, aksesibilitas, dan amenitas terus disempurnakan. Lebih menarik lagi, kaum milenials juga diberi slot untuk berkreasi," terang Khun yang lulusan Universitas Surabaya.

Hal ini semakin diperkuat dengan Kementerian Pariwisata yang merilis konsep Destinasi Digital. Hingga akhir Maret 2019, jumlah Destinasi Digital sudah mencapai 65.

Beberapa Destinasi Digital diantaranya, Pasar Karetan (Jawa Tengah), Pasar Pancingan (NTB), Pasar Kakilangit (Yogyakarta), Pasar Rimba (Bangka Belitung). Ada juga trio Jawa Tengah lainnya seperti Pasar Inis, Kumandang, dan Watu Gede.

Destinasi Digital ini menjadi wadah kreativitas anak-anak milenial. Sebab, para milenial memiliki banyak value. Entah itu creative value, maupun commercial value. Creative value memberikan space lebar bagi member untuk mendapatkan konten terbaik bagi platform media sosialnya. Baik itu konten text, foto, maupun video. Lalu, commercial value mendatangkan income besar secara rutin.

Dari Destinasi Digital, menurutnya, ada pergerakan ekonomi yang positif dinikmati oleh masyarakat. Bahkan berdasarkan progres Pasar Karetan, setiap lapak milik masyarakat memiliki omzet sekitar Rp 1,5 juta pada 2018. Pasar Karetan membuka akses ekonomi 3 desa, yaitu Segrumung, Sasak, dan Slamet. Mereka mendapatkan aliran kas Rp2 juta sampai Rp 3 Juta per pekan dari lahan parkir.