Sabtu, 08 Februari 2020

Bubble Tent Pertama di Sumatera Hadir di The Kaldera Danau Toba

Kehadiran The Kaldera-Toba Nomadic Escape membuat destinasi Danau Toba menjadi semakin menarik. Banyak fasilitas yang ditawarkan ke para wisatawan, salah satunya adalah berdirinya Bubble Tent.

Amenitas Bubble Tent ini terbilang baru di Indonesia. Ketua Tim Percepatan Nomadic Tourism Kementerian Pariwisata, Waizly Darwin menyebut di Indonesia Bubble Tent baru ada di Uluwatu dan Ubud, yang mana keduanya berada di Bali.

"Bubble Tent adalah amenitas yang mudah diterapkan di nomadic tourism. Keunggulannya adalah bisa dipindah. Tapi kenyamanan yang ditawarkan sangat luar biasa. Bubble Tent bisa diterapkan di sejumlah destinasi Indonesia," tutur Waizly dalam keterangan tertulis, Kamis (4/4/2019).

"The Kaldera sangat beruntung bisa memiliki Bubble Tent. Karena belum banyak diterapkan. The Kaldera adalah lokasi pertama Bubble Tent di Sumatera. Dan ini akan melengkapi amenitas di The Kaldera," sambungnya.

Posisi Bubble Tent di The Kaldera berada di ketinggian, yang mana para pengunjung bisa menikmati keindahan Danau Toba secara jelas. Apalagi, ada pemandangan Desa Wisata Sigapiton yang membuat Bubble Tent menjadi salah satu lokasi dengan view terindah di The Kaldera.

Selain Bubble Tent, The Kaldera juga memiliki fasilitas lain, di antaranya Bell Tent, Amphitheater, The Kaldera Hill, dan masih banyak lagi.

Sementara itu Kepala Badan Pelaksana Otorita Danau Toba (BPODT), Arie Prasetyo mengatakan BPODT sebagai pengelola The Kaldera akan menyiapkan konsep untuk membuat atraksi reguler yang akan digelar setiap pekan.

"The Kaldera adalah gabungan amenitas dan atraksi. Untuk amenitas, kita punya Bell Tent dan Bubble Tent. Sedangkan atraksi, kita akan siapkan atraksi yang bisa digelar secara reguler setiap pekan. Tapi konsepnya seperti apa sedang kita pikirkan. Yang pasti kita akan memaksimalkan Amphitheater sebagai lokasinya," papar Arie.

Menanggapi hal ini, Menteri Pariwisata Arief Yahya pun mengaku senang dengan hadirnya The Kaldera.

"The Kaldera adalah atraksi dan amenitas kelas dunia. Pembangunannya tidak membutuhkan waktu lama, tapi yang ditawarkan adalah kelas dunia. Nomadic tourism adalah solusi untuk destinasi wisata di Indonesia. Khususnya buat yang belum lengkap unsur 3A, yaitu atraksi, amenitas, dan aksesibilitas," tutur Arief.

Pemenang VitaminSea: Saya Akan ke Lombok Lagi!

Petualangan VitaminSea di Lombok berakhir. Lombok yang cantik ini membuat mereka ingin kembali lagi.

Para petualang VitaminSea telah menjelajahi Lombok sejak Selasa (2/4) sampai hari ini, Kamis (4/4/2019). Tidak hanya berkunjung ke pantai impian, Pantai Pink saja. Namun juga pergi ke tempat lain.

Di hari pertama, Yayang Delfitia dan Teguh Bagus Surya melihat indahnya Bukit Marese dan Pantai Kuta Mandalika. Di hati kedua snorkling dan menuju ke Pantai pink. Di hari yang sama mereka juga melihat pembuatan songket Lombok.

Sedangkan di hari terakhir, mereka menuju Desa Banyumulek yang terkenal dengan industri gerabahnya. Tidak hanya melihat hasil namun mereka juga melihat dan mencoba membuat kerajinan tanah liat ini.

Petualangan pun terpaksa di akhiri. Para prmenang pun berat hati untuk meninggalkan Lombok. Alamnya yang cantik membuat mereka jatuh hati.

"Ini adalah pengalaman yang tidak akan pernah terlupakan. Kunjungan perdana saya ke Lombok sungguh berkesan. Tidak hanya melihat desrinasi wisata saja, namun juga dapat ilmu baru," ujar Teguh.

Pantai Tanjung Mangga, Surga Tersembunyi dari Maluku

Keindahan pantai-pantai Timur Indonesia memang tak ada tandingannya. Satu lagi nih buat daftar liburanmu, Pantai Tanjung Mangga di Maluku.

Tim detikcom menempuh perjalanan laut dari Pulau Bacan hingga sandar di Desa Lele, Pulau Mandioli, Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku, pekan lalu.

Pemuda-pemuda setempat menceritakan tentang pantai indah di ujung pulau ini. Di sana, pasir putih terhampar di depan air laut yang bersih. Mereka juga menjanjikan karang-karang raksasa yang cocok untuk dijadikan objek foto guna diunggah di Instagram. Tanpa pikir panjang, kami berangkat sebelum hari gelap.

"Di sana ada makam keramat juga," kata Alfikram, salah seorang pemuda setempat.

Alfikram, Ari, dan Lamudin menyediakan tumpangan ke Pantai Tanjung Mangga. Letak pantai surgawi itu ada di Desa Bahu. Beruntung ada sepeda motor.

Kami lajukan motor sejak pukul 15.30 WIT. Jalannya berupa tanah, tanah berbatu, dan jalan setapak. Medan landai dan menanjak beberapa kali dilalui dengan ekstra hati-hati.

"Ini jalannya aduhai!" teriak Ari yang memboncengkan saya. Dia seolah tak peduli dengan kondisi sepeda motornya saat melewati jalan tak rata, tetap saja gas ditarik sampai maksimal.

Ini adalah akses darat dari Desa Lele menuju Desa Bahu. Selain jalur darat ini, penduduk bisa menggunakan perahu bermesin, orang setempat menyebutnya 'bodi'. Jalur darat yang kami lalui jauh dari kata layak. Tidak ada penerangan jalan di sini.

Sepeda motor bahkan sempat nyaris hilang keseimbangan, tapi kaki Ari masih mampu menahan. Entah berapa tikungan yang sudah dilewati. Kami mulai memasuki area perkebunan kelapa yang luas sekali. Laut biru berada di depan.

Sampailah di tepian Pantai Tanjung Mangga setelah sekitar 20 km perjalanan dalam waktu sejam. Tempatnya jauh dari perkampungan. Hari sudah sore.

Menakjubkan! Karang-karang setinggi rumah berdiri gagah, air laut jernih menghempas ke bebatuan, dan angin sore berudara sejuk menyegarkan badan.

Semuanya tersenyum. Kamera-kamera langsung aktif seketika. Pemandangan ini bakal lebih banyak dinikmati wisatawan sebagai objek wisata bila akses ke Pulau Mandioli dan akses darat ke sini dibikin lebih baik. Namun justru kesunyian pantai ini yang menambah nilai plus destinasi wisata di pelosok Nusantara.

Sore ini air laut sudah pasang. Pasir pantai sudah tenggelam.

"Ini kalau sedang surut bagus sekali. Kalau mau ke sini seharusnya pagi. Kalau cuaca bagus, bisa pakai perahu saja dari Desa Lele, bayar Rp 20 ribu," kata Ari menyarankan.

Tak ada pasir pantai, karang pun jadi. Saya meniti dan mendaki karang-karang tajam nan tinggi itu, mengikuti langkah Lamudin, anak muda setempat. Gerakan Lamudin cepat sekali seperti sudah kenal betul dengan tiap lekuk bebatuan di sini. Padahal karang begitu tajam, perlu berhati-hati bahkan untuk sekadar memegangnya.

"Di ujung sebalik karang besar, ada makam keramat," kata Lamudin menunjuk titik yang sulit dijangkau.

Suara ombak menabrak relung karang, menciptakan suara gemuruh yang mengintimidasi. Bila terjatuh dari titian sempit, maka tubuh akan terhempas ke karang-karang tajam. Ini berbahaya dan sangat tidak disarankan untuk dilakukan tanpa bimbingan warga lokal.

Sampailah saya pada posisi karang yang cukup tinggi. Dari sini terlihat pemandangan laut dan formasi bebatuan, plus tebing yang menawan hati. Sayang, ada yang mengganggu suasana.

Bendera parpol dan poster caleg berdiri di antara karang-karang indah. Saya melihat ada dua alat peraga kampanye itu, berasal dari parpol pendukung masing-masing calon presiden yang bersaing di Pemilu 2019 ini.

Memang Pemilu semakin dekat. Bendera-bendera parpol dan spanduk caleg dipasang di sana-sini, termasuk di sudut yang mustahil dibayangkan ini. Di depan ada laut yang kadang dilewati kapal-kapal. Bendera dan spanduk ini ditujukan untuk dilihat kapal-kapal yang jarang lewat itu.

Keberadaan spanduk dan bendera parpol ini sempat membuat rekan-rekan berpikir ulang untuk mengambil foto. Suasana alami akan berkurang bila benda-benda politis dipajang tanpa mengindahkan estetika, apalagi di tempat yang punya potensi wisata. Pantai Tanjung Mangga ini akan lebih indah bila tanpa kehadiran spanduk parpol.

Matahari sudah hampir tenggelam. Kami bergegas pulang. Jalan setapak di tengah hutan kami lalui lagi, kali ini dalam kondisi gelap total karena tak ada lampu penerangan jalan. Lampu dari sepeda motor adalah senjata utama di perjalanan menerobos gelap.

Baca berita lainnya mengenai Teras BRI Kapal Bahtera Seva di Ekspedisi Bahtera Seva.