Kerinci merupakan gunung tertinggi di Pulau Sumatera. Di masa muda dulu, Jokowi pernah mendaki sampai puncak gunung tersebut.
Gunung Kerinci berada di Provinsi Jambi, kalau dari pusat kota Jambi bisa ditempuh dengan berkendara sekitar 9 jam. Gunung berapi ini tingginya mencapai 3.805 mdpl dan menjadi gunung tertinggi di Pulau Sumatera, serta gunung berapi tertinggi di Indonesia.
Untuk pendakian Gunung Kerinci bisa melewati sejumlah jalur yang tersedia, seperti Kersik Tuo dan Solok Selatan di Sumbar. Titik awal pendakian memang memungkinkan dari Sumatera Barat karena lokasi gunung yang memang di perbatasan Provinsi Jambi dan Sumatera Barat.
Mendaki gunung yang masuk kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat itu tentunya tidak mudah, medannya begitu menantang dan mencapai puncaknya pun tak cukup sehari. Semakin ke atas mendekati puncak, traveler harus selalu siap melewati jalur yang miring dan curam, juga hamparan batuan cadas tanpa pepohonan dan oksigen yang semakin menipis.
Namun setelah tiba di Puncak Kerinci atau Puncak Indrapura tentunya segala rasa lelah tergantikan dengan kagum akan keindahan pemandangan yang tersaji. Pengalaman mendaki di sini pastinya takkan terlupa.
Terlihat kawah gunung yang luasnya sekitar 400x120 meter. Di ketinggian 3.805 mdpl itu, traveler bisa menikmati panorama sekitar Kerinci. Di kejauhan juga terlihat kota Jambi dan Padang.
Nah meskipun tidak mudah, pendakian Gunung Kerinci tetap digemari traveler. Presiden Joko Widodo di masa mudanya pun pernah mendaki gunung ini. Kisah pendakian Jokowi ke puncak Gunung Kerinci tertuang dalam buku berjudul 'Jokowi Travelling Story: Kerinci 1983' yang ditulis oleh Rifqi Hasibuan.
Jokowi yang aktif sebagai Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) Silvagama Universitas Gadjah Mada (UGM) mendaki Gunung Kerinci tahun 1983. Ia bersama rombongan 14 orang, dan menjadi orang pertama dari para rombongan pendaki Silvagama yang mencapai puncak Gunung Kerinci, termasuk yang bisa mendekati kawahnya. Saat itu tidak semua anggota bisa mendekati kawah Kerinci.
Soal Tiket Pesawat Mahal, Menpar: Tunggu 3-4 Hari Lagi
Baru-baru ini Menhub Budi Karya Sumadi memberi batas waktu seminggu bagi maskapai untuk turunkan harga tiket. Terkait itu, Menpar minta traveler menunggu.
Naiknya harga tiket pesawat untuk rute domestik membuat traveler yang ingin berwisata dalam negeri tercekik. Imbasnya, penurunan penumpang pesawat hingga kunjungan wisnus di destinasi wisata domestik turut tak terhindarkan.
Mendapati fakta tersebut, Menhub Budi Karya Sumadi sudah beberapa kali memanggil bos maskapai untuk menurunkan harga tiket pesawat. Yang terbaru adalah pada pada hari Minggu pekan lalu di Tanjung Priok.
"Saya akan mengevaluasi dalam 1 minggu ke depan apabila masih tidak tercatat tarif-tarif yang bervariasi sebagian yang terjangkau, maka pemerintah akan memberlakukan ketentuan yang berkaitan dengan subprice," katanya di Kantor PT IPC, Tanjung Priok, Jakarta, Minggu (7/4).
Pertanyaan yang sama juga terlontar untuk Menpar Arief Yahya dalam acara peluncuran Global Muslim Travel Index (GMTI) 2019 di Hotel Pullman Thamrin, Selasa (9/4/2019). Arief pun meminta traveler untuk bersabar.
"Kalau sampai setelah seminggu dari 3 hari yang lalu belum turun, Pemerintah akan mengeluarkan regulasi. Karena cara paling bagus adalah itu," ujar Arief.
Arief pun tak memungkiri, bahwa kenaikan harga tiket turut berpengaruh pada jumlah kunjungan wisatawan di lingkup domestik.
"Turunnya 20% sampai 40% persen, kalau dirata-rata 30%. Di NTB baru saja terkena gempa, kita mati-matian recovery dari 25% sampai 50%. Sekarang anjlok lagi 30% karena gempa harga yang naik," curhat Arief.
Arief pun berharap, agar kebijakan dan regulasi Menhub Budi Karya Sumadi dapat memaksa pihak maskapai untuk segera menurunkan harga tiket pesawat. Semua demi wisatawan.
"Kita tunggu regulasi harga yang Menhub janjikan, 3-4 hari lagi," tutup Arief.