Baru-baru ini, heboh penumpang pesawat bawa burung elang di kabin. Sebenarnya, amankah membawa elang baik untuk penumpang dan untuk burungnya sendiri?
Dirangkum detikcom dari berbagai sumber, Selasa (9/4/2019) baru-baru ini heboh di Twitter mengenai dua penumpang pesawat yang membawa burung elang di dalam kabin. Diketahui, itu terjadi di salah satu maskapai asal Timur Tengah.
Terlihat, burung elang itu ditutup bagian kepalanya. Elangnya ditaruh di tangan dan terlihat baik-baik saja.
Beberapa maskapai asal Timur Tengah seperti Qatar Airways dan Royal Jordania memang mengizinkan penumpang pesawat membawa burung elang ke kabin. Elang pun merupakan hewan yang begitu dihormati bagi masyarakat Timur Tengah dan punya stasus sosial yang tinggi. Dulunya, elang adalah 'teman' untuk berburu makanan di hutan atau di gurun pasir.
Beberapa ahli satwa dari Timur Tengah mengungkapkan, elang di dalam kabin pesawat cukup aman kepada penumpang. Sebab, maskapai-maskapai yang mengizinkan penumpang membawa elang punya aturan khusus yang harus dipatuhi.
Misalnya, burung elang tersebut sudah memiliki sertifikat kesehatan untuk terbang. Dalam hal ini, burung elangnya sudah diberi vitamin dan obat tertentu supaya tidak mengalami stress saat di pesawat.
Selain itu, kuku elang juga harus dipotong tidak terlalu tajam. Asal tahu saja, cengkraman elang sangat kuat dan tentu bisa merusak benda apapun di dalam kabin pesawat.
Belum selesai, rantai di kaki elang juga wajib terpasang dan terhubung ke tangan sang pemilik. Sang pemilik pun menggenakan sarung tangan khusus.
Terakhir, burung-burung elang yang mau masuk ke kabin pesawat harus menggenakan penutup kepala. Hal itu supaya elang tetap tenang.
"Karena ketika elang melihat sesuatu dan tertarik, dia akan berusaha mendapatkannya. Untuk itu, penutup kepala sangat penting dan membuat elang-elang juga tidak panik selama di kabin pesawat," kata salah seorang pakar, Kayed.
Karma! Pemburu Badak Tewas Diinjak Gajah dan Dimakan Singa
Mungkin inilah karma. Seorang pemburu badak di Afrika Selatan tewas diinjak gajah, kemudian dimangsa kawanan singa.
Dilansir dari BBC, Selasa (9/4/2019), kejadian ini menjadi pemberitaan setelah rekan korban melapor kepada keluarga. Pihak keluarga lantas menginformasikannya kepada jagawana.
Sekelompok orang lalu dikerahkan guna mencari jasad orang itu. Yang mereka temukan pada Kamis (4/4) adalah tengkorak manusia dan celana.
Pihak pengelola taman nasional menyampaikan ucapan duka cita kepada keluarga mendiang. Namun berburu badak di taman nasional adalah kegiatan ilegal.
"Memasuki Taman Nasional Kruger secara ilegal dan berjalan kaki tidak bijaksana. Banyak bahayanya dan insiden ini adalah buktinya," ujar pihak pengelola.
Kasus kedua
Ternyata, ini adalah kejadian kedua. Di tahun 2018, ada kasus dua pemburu badak diterkam hingga mati dan dimakan oleh singa. Kejadian ini ada di cagar alam Afrika Selatan.
Hal itu dibenarkan oleh pejabat setempat. Rangers menemukan sisa-sisa tulang mungkin tiga orang di area berpagar tempat singa di cagar alam Sibuya, dekat Kota Kenton-on-Sea.
Di sekitar lokasi juga ditemukan senapan bertenaga tinggi dan kapak. Menurut data telah terjadi peningkatan perburuan liar di Afrika dalam beberapa tahun terakhir, alasannya untuk memenuhi permintaan cula badak yang meningkat di beberapa bagian Asia.
Pemilik cagar alam Sibuya, Nick Fox dalam sebuah pernyataan di halaman Facebook resminya, mengatakan bahwa para pemburu yang dicurigai memasuki kawasan cagar alam pada Minggu malam atau awal Senin pagi.
"Mereka tersesat dalam kawasan singa sehingga mereka tidak punya waktu menyelamatkan diri. Kami tidak yakin ada berapa banyak singanya, tidak banyak yang tersisa dari tubuh mereka," kata Fox kepada kantor berita AFP.
Sisa-sisa tubuh pemburu pertama kali ditemukan pada pukul 16.30 waktu setempat pada hari Selasa, 3 Juli 2018. Tim anti-perburuan tiba di tempat kejadian dan menemukan senapan berburu dengan peredam, kapak panjang dan pemotong kawat, peralatan yang biasanya digunakan oleh pemburu badak.