Jumat, 20 Desember 2019

Mengapresiasi Lasem di Hari Batik Nasional

Di Hari Batik Nasional ini, tak ada salahnya kita mengapresiasi batik karya tanah air. Salah satu yang cukup menarik adalah batik tulis Lasem di Jawa Tengah.

Seperti yang telah kita ketahui sebelumnya, Batik ditetapkan sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and the Intangible Heritage of Humanity) pada 2 Oktober 2009 oleh UNESCO, salah satu badan PBB yang mengurus hal terkait budaya.

Hal itu pun menegaskan, bahwa batik merupakan kekayaan budaya Indonesia yang telah diakui dunia. Namun, dalam prosesnya batik memiliki berbagai jenis dan kisahnya masing-masing.

Bertepatan dengan Hari Batik Nasional yang jatuh pada hari ini, Rabu (2/10/2019), detikTravel ingin mengajak traveler mampir ke Kecamatan Lasem di Renbang, Jawa Tengah yang terkenal akan budaya batik tulisnya.

Bicara batik tulis Lasem, tak terlepas dari peran serta kedatangan Laksamana Cheng Ho pada tahun 1413. Di mana tercatat dalam Babad Lasem karangan Mpu Santri Badra di tahun 1401 Saka ( 1479 M,) yang ditulis ulang oleh R Panji Kamzah tahun 1858.

Di dalam kapal Cheng Ho atau yang memiliki nama asli Dhang Puhawang Tzeng Ho dari Negara Tiong Hwa (China), turut serta Bi Nang Un dan istrinya Na Li Ni yang akhirnya terpesona akan Lasem dan memilih menetap di Lasem.

Dalam prosesnya, Bi Nang Un inilah orang yang mengenalkan budaya menulis serta membatik yang menjadi cikal bakal batik tulis Lasem yang kita kenal sekarang. Hal itu pun tampak dari motif batik tulis Lasem yang bergambar burung hong, liong, bunga seruni, banji, mata uang dan warna merah darah ayam khas Tiong Hwa.

Kembali ke masa sekarang, detikTravel pun sempat mewawancarai salah satu pecinta dan pelaku usaha batik tulis Lasem bernama Fransiska Anggraini atau akrab disapa Chika. Berawal dari perjalanannya ke Lasem, ia mendadak jatuh cinta dan kini giat mengenalkan batik lasem lewat akun Instagramnya yang bernama @awesomelasem.

"Mereka bangga lagi sama warisan nusantara. Kebetulan pemicunya itu aku ke Lasem November tahun lalu. Aku yang gak suka batik, baru appreciate batik pas ke Lasem karena warna-warnyanya kayak benar-benar oke banget. Mindblowing," ujar Chika.

Berawal dari kunjungan biasa, Chika pun mendadak memiliki ketertarikan dengan budaya batik tulis Lasem beserta para pengrajinnya. Malah, Chika jadi kerap memesan batik tulis dan mempopulerkannya pada teman-temannya di Jakarta.

"Tadi yang awalnya ke sana jadi berlanjut (kayak batik lo masih ada gak) jadi bolak-balik confirm ketersediaan barang sama pengrajinyya yang di sana. Jadi kita jadi sering ngobrol sering curhat sama masalah mereka lalu kepikiran awal tahun ini dikit-dikit memperkenalkan kalau batik bisa dipakai sehari-hari, gak mesti kondangan. Jadi lo bisa pakai sneaker lalu t-shirt. Aku pernah bikin tutorial batik yang ojek ready," cerita Chika.

Kecintaan Chika akan batik tulis Lasem itu pun menjelma jadi akun Instagram @awesomelasem. Perlahan, Chika berhasil membuat teman-temannya mengapresiasi batik tulis Lasem. Harga batik tulis Lasem yang dimulai dari Rp 500 ribu hingga jutaan karya pengrajin lokal pun berhasil diterima dengan baik.

"AKu gak percaya kalau orang gak punya daya beli, tapi pasar aku target 500 ribu gak ada apa-apanya. Mereka beli baju Zara 500 ribu langsung gak pake nawar. Memang harus diedukasi dan kayaknya orang-orang ini belum aware sama batik Lasem. Yang aku tau mereka juga belum pernah lihat batik sekompleks ini, dengan warna-warni berani yang sesuai selera mereka bukan sogan-sogan Solo Yogya gitu," ungkap Chika.

Lebih lanjut, Chika pun kerap memadupadankan batik tulis lasem dalam penampilan kesehariannya. Hal itu pun jadi bukti, kalau batik tulis yang dihargai mahal tak hanya bisa dipakai saat kondangan atau hari besar saja.

"Jadi gak harus cuma ke kondangan, padahal di masa lalu batik separuh daily life orang-orang. Kita mau mengembalikan batik sebagai baju sehari-hari. Bukan yang dalam bentuk fashion, tapi jarik terutama batik tulis," terang Chika.

Itulah cerita Chika yang bergelut mengenalkan batik tulis Lasem dalam keseharian sehari-hari. Tak melulu terkesan oldschool atau lawas, toh nyatanya batik tetap menarik untuk dipakai dalam keseharian kita.

Ikuti terus detikTravel untuk cerita menarik tentang batik tulis Lasem lainnya. Oya, Selamat Hari Batik Nasional.

Seperti Apa Ya Museum Santet di Surabaya?

Mungkin kamu belum ada yang tahu. Surabaya memiliki museum yang tak biasa, dikenal dengan nama Museum Santet!

Dalam catatan detikcom, Museum Santet ini aslinya bernama Museum Kesehatan. Lokasinya berada di Jalan Indrapura 17, Surabaya. Isi museumnya bisa bikin bulu kuduk kamu merinding!

Mengapa lantas disebut Museum Santet?

Sebabnya, museum ini menyimpan berbagai koleksi dari jailangkung sampai santet yang juga berhubungan dengan dunia medis tradisional.

Tiket masuk museum ini cukup murah, Rp 1.500 saja. Museum Santet terdiri dari tiga sasana yakni kesehatan sejarah, kesehatan iptek dan kesehatan tradisional.

Tiga bagian tersebut menjelaskan seputar dunia medis di Indonesia. Bagaimana pengobatan terus berkembang seiring perkembangan zaman, jenis-jenis penyakit di Indonesia dan sebagainya.

Tentu yang paling menarik, adalah sasana kesehatan tradisional.

Mari masuk ke sasana kesehatan tradisional. Inilah yang paling menarik buat pengunjung karena koleksinya tentang santet!

Pada salah satu sudut ruangan ditampilkan dua foto rontgen pasien yang terkena santet. Pada foto rontgen orang dewasa terlihat gotri dan paku di dalam ususnya. Sementara pada foto rontgen bayi terlihat ada jarum di dalam usus dan di dalam rongga perut (abdomen).

Di bawah koleksi tersebut, terdapat berbagai benda di dalam etalase yang berhubungan dengan santet. Seperti misalnya paku yang dikeluarkan bersama muntahan, tanah kuburan untuk menyantet, telur untuk mendiagnosa suatu penyakit, peralatan santet, senjata penangkal santet, dan lain sebagainya.

Bahkan di dinding ruangan tertempel plakat tentang cara bagaimana santet dilakukan. Pada plakat itu diterangkan bagaimana sebuah paku bisa berpindah ke orang lain melalui santet. Dalam hal ini yang dijadikan media adalah ayam.

Setelah disiapkan peralatannya, sang dukun kemudian melakukan ritual mengirim paku ke sebuah ayam jago yang diletakkan di situ. Setelah proses ritual selesai, ayam jago pun disembelih. Benar saja, terlihat beberapa jarum menancap di organ hati dan jantung ayam.

Tak dipungkiri, santet merupakan hal gaib yang sulit dijelaskan oleh dunia medis di Indonesia. Bagaimana pendapat kamu?

Sejumlah koleksi lain yang menarik yang dikatakan berhubungan dengan hal gaib dan dunia medis adalah sampel air batu Ponari dari Megaluh, Jombang. Seperti kita tahu, Ponari pernah menjadi fenomenal. Bocah yang pernah disambar petir itu dikatakan bisa menyembuhkan penyakit hanya dengan meminum air yang dicelupkan batu petirnya.

Ada juga air yang digunakan untuk media santet, air dari paranormal, air dari paranormal Ki Kusumo, air tumbal kambing berkepala hitam. Ada juga berbagai benda sebagai penolak bala seperti gelang rumput, rajah kulit kambing dan kertas, kalung nama untuk bayi, bulu landak, sendok perak, tapal kuda.

Salah satu koleksi Museum Kesehatan yang juga populer adalah Jelangkung dan Nini Towok. Dua boneka tradisional itu di letakkan di sebuah etalase yang menempel di dinding ruangan. Berlatar belakang merah, dua boneka untuk memanggil arwah itu cukup menyeramkan dan membuat bergidik bagi yang melihatnya. Suasana ruangan yang temaram, sepi, dan berhawa dingin juga menjadi sensasi sendiri menikmati kemisteriusan Museum Santet ini.

Bagaimana, tertarik datang ke sini?