Sabtu, 14 Desember 2019

Pengalaman Solo Traveling Berkesan ke Labuan Bajo

Liburan tak harus selalu bersama teman atau keluarga. Terkadang solo traveling sendirian bisa jadi sangat berkesan, seperti cerita satu ini.

Saya punya pengalaman menarik tentang kecintaan sayapada dunia traveling. Dimulai dari bergabungnya saya pada salah satu open trip dengan destinasi Nusa Penida. Saya ke sana bersama dengan 1 orang teman.

Pada group open trip tersebut, ada salah satu kenalan saya yang traveling sendirian. Saya pun bertanya tanya pada diri saya sendiri, apa ya enak liburan kok sendirian? Apa nggak kesepian tuh waktu di jalan?

Saya pun ingin sekali merasakan bagaimana enaknya solo travelling. Lalu saya memutuskan untuk menuju Labuan Bajo sendirian. Memang saya ikut open trip juga soalnya kalo sewa kapal sendirian, rasanya kemampuan dompet ini tidak bisa memenuhinya.

Akhirnya saya berangkat dari kost ke Bandara Juanda sendirian pake sepeda motor. Saya mulai kesepian di situ. Saya menepikan sepeda dan memasang headset di dalam helm, lalu suasana hati mulai berubah, sedikit lebih tenang dan terhibur.

Di bandara, saya benar benar merasa sendiri. Tak ada satu orang pun yang saya kenal di sana. Saya putuskan untuk mengaji.

Tak lama kemudian saya harus boarding. Tak berbeda dengan di bandara, di dalam pesawat pun saya masih merasa sendiri, hanya hp dan headset yang setia menemani.

1 jam kemudian saya sampai di Bandara Lombok untuk transit, sangat lama sekitar 5 jam. Ternyata ada duta wisata yang sedang berkunjung ke Lombok, jadi banyak atraksi wisata yang ditampilkan, saya pun cukup terhibur dengan hiburan gratis ini.

Di Bandara Lombok saat menunggu untuk boarding, ada seseorang yang mengajak berbicara, ternyata dia orang asli Labuan Bajo. Berutungnya saya, jadi bisa bertukar informasi dengannya.

Tetapi saya tidak duduk berdekatan dengannya saat di dalam pesawat, jadi kami berpisah di dalam pesawat. Namun bertemu lagi di Bandara Komodo, tetapi tak lama karena dia sudah dijemput keluarganya.

Saya pun berfikir 2x untuk menyewa taksi, karena tarifnya yang mahal. Lalu ada bis Damri yang sedang ngetem di depan bandara, langsung saya berlari ke arah sana, karena pasti tarifnya murah. Saya pun membuka omongan dengan sopir dan kondektur bisnya karena saya rasa mereka ramah, saya pun merasa punya teman baru.

Ada sepasang turis asing juga di dalam bus yang saya tumpangi. Kru bus tidak ada yang bisa bahasa Inggris. Mereka pun meminta saya untuk berbicara dengan turis tersebut dan ternyata mereka menginap di hotel yang sama dengan saya.

Saat sampai hotel, saya berpisah dengan turis tersebut karena beda kamar. Sorenya saya memutuskan berjalan jalan sendiri di dermaga. Pemandangannya sangaat indah, tapi saya merasa kesepian. Saat saya duduk sendiri ada seseorang yang duduk di samping saya, ternyata warga lokal, dia sangat ramah.

Malamnya saya bertemu dengan teman open trip yang sebelumnya belum saya kenal, namanya Yuleq. Dia asyik banget. Kita berdua sama-sama baru pertama kali solo travelling. Kami pun bertukar ilmu malam itu.

Kami berdua 1 kapal dan saat pertama kali naik kapal, kami berdua dikira sepasang suami istri yang honeymoon karena terlihat akrab. Padahal baru kenal tadi malam.

Di dalam kapal saya bertemu dengan orang-orang hebat dan keren dari seluruh Indonesia. Kami saling bertukar ilmu di sana. Mereka semua ramah sudah seperti keluarga yang baru bertemu. Saya sama sekali tidak merasa kesepian setelah itu.

Btw, untuk liburan di Labuan Bajo ini, saya cuma menyediakan budget 3jt an include tiket pesawat by tiket.com dan paket wisata sailing komodo 3D2N.

Wisata ke Ikon Ibu Kota Bermodal Rp 50 Ribu Saja

Wisata ke ibu kota tidak harus mahal. Bermodal Rp 50 ribu, kita sudah bisa berwisata ke ikonnya Jakarta, yaitu Monas.

Ini adalah moment pada saat aku pertama kali keluar kota naik pesawat sendirian. Aku pernah sekali naik pesawat, tetapi itu dulu dan tidak sendiri namun bersama keluarga.

Mengapa ini merupakan Unforgettable experience menurut aku? Karena di moment aku merasakan betapa beratinya uang Rp 50 ribu. Mengapa demikian? Jadi begini ceritanya.

Dulu aku bekerja sebagai karyawan magang di salah satu bank BUMN di surabaya. Aku baru bekerja. Pada moment ini ada acara nikahan sodara di Jakarta. Ceritanya pengen menyelam sambil minum air gitu. Lumayan kan bisa liburan juga.

Akhirnya aku pesan tiket pesawat yang paling murah kalo gak salah pp Surabaya Jakarta itu sekitar Rp 1,1 juta. Langsung deh pada saat hari H aku cus ke Jakarta. Pada hari H keberangkatan aku persiapkan semuanya. Keperluan pribadi baju dan lain lain, termasuk transport dan uang saku.

Untuk uang saku aku bawa sangat minim sekali karena memang aku belum gajian. Aku bawa Rp 100 ribu. Dengan berbekal uang cepek aku berangkat ke Jakarta. Sampailah aku di bandara Juanda.

Pada saat masuk pintu bandara, tiba-tiba koperku ada yang bawain dan langsung sama bapak bapak itu di pack sedemikian rupa (di plastiki). Di dalam hati aku membatin orang ini kok baik banget.

Setelah selesai ritual pengemasan koper orangnya langsung memberikan kata-kata "Rp 50 ribu mbak". Aku langsung kaget dan baru ngeh kalau ini merupakan jasa bungkus koper. What what uangku uangku minim sekali. Akhirnya aku berikan pecahan 50 ribuan.

Dalam hati aku maki tu orang (aku memang gak berani maki maki langsung). Tanpa ba bi Bu, langsung narik koper dan dibungkus. Sebelnya tuh di sini tau gak pak. Dengan uang 50 ribu aku mulai check in di bandara untuk menuju ke Jakarta.

Berharap tidak ada tambahan biaya seperti airport tax atau lainnya nanti pada saat check in. Karena aku pesan tiket melalui salah satu online travel agent. Bersyukur tidak ada biaya tambahan apa pun. Jadi aku langsung bisa cus ke Jakarta.

Setelah mendarat di Jakarta aku langsung order ojol. Karena pada saat itu sudah booming dompet elektronik akupun tidak perlu mengeluarkan uang tunaiku untuk membayar jasa ojol. Jadi uangku yang 50 ribu masih untuk dan bisa digunakan untuk beli makan nanti pada saat aku balik ke Surabaya nanti.

Sampai di Jakarta aku langsung menjalankan misi utamaku untuk berfoto selfie di icon ibu kota Jakarta yaitu Monas. Sayangnya saya tidak memiliki kesempatan untuk masuk dan explore ke dalam cukup dari luar dan saya cukup senang.

Monas itu jakarta. Jakarta itu indonesia. Monas itu Indonesia. Semoga suatu saat nanti punya kesempatan untuk explore ke dalam.

Sampai di Jakarta aku langsung menjalankan misi utamaku untuk berfoto selfie di icon ibu kota Jakarta yaitu Monas. Sayangnya saya tidak memiliki kesempatan untuk masuk dan explore ke dalam cukup dari luar dan saya cukup senang.