Kamis, 12 Desember 2019

Sejarah Pantai Pulau Merah Banyuwangi hingga Lokasi Wisatanya

Daerah Banyuwangi terkenal akan wisata pantainya. Nah, salah satu yang terkenal adalah Pulau Merah Banyuwangi. Seperti apa fakta lain dari lokasi ini? Yuk simak.

Pulau Merah Banyuwangi ini identik dengan bukit kecil yang berada di dekat bibir pantai. Bila air tengah surut, maka para pengunjung dapat berjalan kaki dan mengunjungi bukit tersebut.

Berikut fakta-fakta pantai Pulau Merah di Banyuwangi, yang dirangkum detikTravel:

1. Lokasi

Lokasi Pulau Merah Banyuwangi ini terletak di Desa Sumber Agung, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi. Untuk menuju pantai Banyuwangi ini wisatawan bisa berkendara selama tiga jam lamanya dari pusat kota Banyuwangi.

2. Sejarah

Sejarah Pulau Merah Banyuwangi sebelumnya dikenal sebagai pantai Ringin Pintu. Setelah itu dikenal sebagai Pulau Merah karena tanah pada bukit di bibir pantai yang berwarna kemerahan.

3. Harga Tiket Masuk

Wisata Pulau Merah Banyuwangi ini juga mematok biaya masuk. Untuk menikmati keindahan pantai sepuasnya per orang hanya akan dikenakan Rp 8.000. Kemudian, biaya kendaraan Rp 5.000 untuk mobil dan Rp 2.000 untuk motor.

4. Wisata

Selain pantai Pulau Merah Banyuwangi, wisata lainnya juga ada Pura Tawang Alun yang merupakan rumah ibadah umat Hindu. Pura ini dibangun di tahun 1980-an dan sering menyelenggarakan upacara adat.

Nah, sudah siap jalan-jalan ke Pulau Merah Banyuwangi?

Main ke 'Rumah' Crayon Shinchan

Traveler gemar atau masih ingat kartun Crayon Shinchan karya Yoshito Usui? Jika mengaku fansnya, "rumah" Shinchan di Kasukabe, Jepang bisa jadi destinasi untuk liburan akhir tahun.

Populer di tahun 90-an, nama besar Crayon Shinchan ramai ditonton di televisi baik di Jepang maupun di luar negeri. Mungkin ada di antara traveler yang masih tertawa jika mengingat kelakuan Shinnosuke 'Shin' Nohara di anime atau manga-nya.

Namun, mungkin tak banyak yang tahu kalau setting di komik dan film Crayon Shinchan berlatar di sebuah kota bernama Kasukabe di Prefektur Saitama. detikcom pun sempat berkunjung ke kota kelahiran Shinchan pada hari Rabu (11/12/2019) kemarin.

Setibanya di Stasiun Kasukabe, nuansa Crayon Shinchan dapat langsung ditemui di sejumlah sisinya. Mulai dari atas papan informasi hingga mural di tembok, dapat dijumpai karakter Shinchan beserta teman-teman kecilnya.

Melangkah ke luar stasiun, kamu juga bisa melihat sosok Shinchan dan anjing kecil putihnya yang bernama Shiro di atas papan nama stasiun. Nah, ini baru di stasiunnya saja.

Bertolaklah dari stasiun dan langkahkan kakimu ke Ge-sen Crayon Shinchan yang berada di dalam bangunan pusat perbelanjaan di sana. Mulai dari luar, saya pun kembali disambut oleh papan bergambar Shinchan dalam ukuran besar.

Layaknya surga bagi pecinta karakter Shinchan, di sini dapat dijumpai aneka game dan suvenir bertema Crayon Shinchan. Menariknya, hadir juga aneka display bergambar keluarga kecil Shinchan hingga teman-temannya.

Malah buat yang suka nonton filmnya, tersedia juga aneka film dan episode dari film tersebut yang dipajang rapi. Buat yang memang ngefans, "racun" banget deh!

Apabila kamu tidak mau keluar banyak dan ingin berfoto saja, tentunya bisa dong. Tidak dikenakan tarif masuk untuk melihat maupun berfoto dengan karakter Shincan di tempat tersebut.

Apabila ingin buah tangan atau suvenir untuk teman maupun kerabat di rumah, tempat ini pun cukup strategis. Khususnya bagi kamu yang suka Shinchan.

Karena Sulawesi Utara Tak Hanya Bunaken

Sulawesi Utara terkenal dengan Bunaken sebagai tempat wisatanya. Nyatanya, wisata di Sulawesi Utara tak hanya itu.

Dalam undangan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), awak media menjumpai Wakil Gubernur Sulawesi Utara Steven Octavianus Estefanus Kandouw di Kantor Gubernur Sulawesi Utara, Manado pada Jumat (29/11/2019). Steven menceritakan soal potensi-potensi wisata di daerahnya.

"Kita punya Likupang yang masuk dalam daftar 5 Destinasi Super Prioritas, Desember nanti akan diresmikan Presiden Jokowi," ujarnya.

Karena Sulawesi Utara Tak Hanya BunakenWakil Gubernur Sulawesi Utara Steven Octavianus Estefanus Kandouw (Afif Farhan/detikcom)
Menurut Steven, Sulawesi Utara sudah identik dengan Bunaken. Kawasan taman nasional di lepas laut Manado yang ciamik dengan dunia bawah lautnya.

"Tapi, kita tidak mau mengidentikan Sulawesi Utara dengan Bunaken," tegasnya.

Maksudnya?

"Kita punya 15 kabupaten kota yang banyak sekali potensinya. Ada Lembeh, Talaud di paling utara dan dijuluki Paradiso. Itu nama dalam bahasa Spanyol dan sudah disebut seperti itu sejak Spanyol datang ke sini," jelas Steven.

Bahkan masih ada Bitung, Tomohon yang terkenal dengan bunga-bunganya hingga Likupang dengan deretan pantai eksotis. Jangan lupakan juga Pulau Lihaga.

"Mau menyelam di bawah laut, sampai gunung berapi Sulawesi Utara punya," kata Steven.

Oleh sebab itu, pariwisata menjadi fokus dan komitmen dari Pemprov Sulawesi Utara. Kemenparekraf pun siap membantu mempromosikan pariwisatanya.

"Kita sudah punya 7 direct flight dari mainland (daratan utama) China dan dari Eropa seperti dari Jerman dan Inggris juga datang untuk menyelam. Dari pariwisata, kita menggerakan perekonomian dan lapangan kerja," tutup Steven.

Andai Toilet di Tempat Wisata Indonesia Seperti Ini

Lihaga adalah pulau kecil nan eksotis di Sulawesi Utara. Bukan hanya keindahan alam, toilet di sana pun sangat bersih dan nyaman. Juara!

Dalam undangan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) pekan lalu, detikcom diajak mengunjungi beberapa destinasi wisata di Sulawesi Utara. Salah satunya adalah Pulau Lihaga.

Untuk mencapai Pulau Lihaga, dapat ditempuh perjalanan sekitar 2 jam lebih dari Kota Manado. Kemudian, lanjut naik kapal dari pelabuhan di Desa Serei, Likupang Barat, Kabupaten Minahasa Utara sekitar 15 menit.

Pulau Lihaga begitu eksotis. Pantainya landai berpasir putih, yang pasirnya begitu halus saat disapu dengan kaki.

Belum lagi lautan biru jernih dan terumbu karang berwarna-warni di bawah perairannya. Bisa snorkeling, serta diving di empat spot menyelam di sana.

Pulau Lihaga dikelola oleh swasta, yakni oleh Lihaga Beach Club. Beberapa fasilitas penunjang pariwisata terdapat di sana, salah satunya toilet. Toilet inilah yang mencuri perhatian saya dan awak media lain.

Toiletnya begitu sedap dipandang. Bahkan tampak dari luar, mungkin wisatawan tak menyangka kalau bangunan ini adalah toilet.

Saya masuk ke dalam toiletnya, wah begitu bersih dan nyaman. Ada washtafel, toilet, dan shower tempat bilas. Toiletnya juga dijaga tetap kering, dengan beberapa petugas terlihat sigap membereskan air-air di lantai.

Saya bertanya pada Operational Manager Lihaga Beach Club, Theo Poling soal toilet di Pulau Lihaga. Sambil tersenyum, dia menjelaskan soal kebersihan toilet yang begitu diperhatikan.

"Simpelnya begini, kalau toilet bersih, wisatawan pasti betah dan merasa nyaman. Itu salah satu prinsip yang kita pegang," terang Theo.

Theo yang merupakan orang asli Labuan Bajo, sudah lama berkecimpung di dunia pariwisata. Oleh sebab itu, dia tahu kebutuhan wisatawan di tempat wisata adalah toilet.

"Apalagi tempat kita ini adalah pulau, artinya wisatawan pasti cari toilet untuk bilas dan sebagainya. Maka, kita sangat jaga toiletnya," terangnya.

Usut punya usut, air bersih begitu sulit ditemukan di Pulau Lihaga yang seluas hampir 6 hektar ini. Oleh sebab itu untuk memenuhi kebutuhan air, para petugas di pantainya harus membeli air dari Desa Serei.

"Kebutuhan air untuk toilet kita utamakan. Pengolahan limbah juga kita jaga. Jangan sampai pulau ini rusak," kata Theo yang juga merupakan sarjana biologi ini.

Tiket masuk ke Pulau Lihaga sebesar Rp 50 ribu untuk wisatawan lokal dan Rp 100 ribu untuk turis mancanegara. Pulau Lihaga pun menjadi daya tarik di Destinasi Super Prioritas Likupang.

Ah andai, tempat wisata di Indonesia punya toilet seperti di Pulau Lihaga ini...