Kamis, 12 Desember 2019

China Minati Pesawat Super Cepat

Traveler masih ingat dengan pesawat supersonik Concorde? Kabar terbaru akan ada penggantinya dan sudah diminati China.

Melansir CNN Travel, Senin (4/5/2018), pesawat ini dapat memangkas waktu perjalanan dari Shanghai ke Los Angeles dalam 5 jam. Tokyo ke San Francisco hanya 5,5 jam dan Sydney ke Los Angeles hanya 6 jam.

Dalam beberapa tahun terakhir, startup aeronautika mulai menggeluti lagi pesawat supersonik. Seperti diketahui, pesawat Concorde sudah pensiun pada tahun 2003 lampau.

Penggantinya itu adalah adalah Boom Technology, sebuah perusahaan dari Amerika Serikat. Telah mengumpulkan USD 85 juta untuk pendanaannya dari investor dan mitra strategis, seperti Virgin Atlantic Airways dan Japan Airlines juga dilaporkan menginvestasikan USD 10 juta untuk pre-order 20 dari 55 kursi pesawat. Dijadwalkan debutnya pada tahun 2023 nanti itu.

Ctrip, penyedia jasa perjalanan terbesar di Asia dari China dengan 300 juta pelanggan menjadi mitra strategis pertama Boom Technology.

"China menjanjikan untuk menjadi salah satu pasar terbesar perjalanan pesawat supersonik. Permintaan perjalanan udara sangat besar dan orang China kini semakin tertarik menghabiskan uang untuk sebuah pengalaman," kata Victor Tseng, Chief Commercial Officer Ctrip.

Pada tahap pertama, Boom Technology telah mengumumkan rencana menerbangkan XB-1, pesawat demonstrasi dua kursi pada tahun 2019 nanti. Hal itu sebagai bukti konsepnya.

Jika itu berjalan dengan baik, perusahaan akan memulai misi utamanya, yakni membangun armada jet komersial supersonik yang akan terbang di Mach 2.2. Kecepatannya setara dengan 1.451 mph.

Tak seperti Concorde juga Tupolev Tu-144, pesawat supersonic Boom Technology memiliki beberapa perbedaan utama. Boom Technology berencana hanya memasang 55 kursi saja, sedang di pesawat Concorde memiliki 92 hingga 128 kursi.

Pesawat supersonic Boom yang bentuknya mirip jet pribadi dan pesawat supersonik Concorde juga Concordski (CNN Travel)Pesawat supersonic Boom yang bentuknya mirip jet pribadi dan pesawat supersonik Concorde juga Concordski (CNN Travel)

Perbedaan kedua ada di harga tiket, dengan kursi yang lebih sedikit, tarif Boom lebih terjangkau. Perbandingan tiket PP Concorde sekitar USD 11.000-13.000 untuk perjalanan New York-London, namun Boom hanya mematok tiket sekitar USD 5.000 pada rute yang sama.

Menurut situs resmi perusahaan, kursi penumpangnya dijamin lebih luas. Masing-masing kursi menyediakan loker untuk penyimpanan dan jendela besar untuk melihat panorama dari ketinggian 60.000 kaki.

Amerika Serrikat sendiri melarang penerbangan supersonik karena suara yang menggelegar mengganggu penduduk. Untuk meredam kebisingan itu, desain pesawatnya memiliki hidung amat mancung yang panjang dan sayap yang sangat lebar.

Traveler berminat mencobanya nanti? 

Turis China Begitu Suka ke Sulawesi Utara

Beda wilayah di Indonesia, beda juga negara asal turis yang datang. Kalau Sulawesi Utara, turis China paling suka.

"90 Persen turis yang datang ke Sulawesi Utara berasal dari China," kata Wakil Gubernur Sulawesi Utara Steven Octavianus Estefanus Kandouw di Kantor Gubernur Sulawesi Utara, Manado, Jumat (29/11/2019) pada awak media atas undangan kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf).

Steven menjelaskan, sejak bulan Juli tahun 2016, Sulawesi mendapatkan direct flight dari China. Seiring berjalan waktu, turis asal China yang datang ke Sulawesi Utara makin banyak.

"Angkanya 40 ribu (kedatangan-red) turis China di 2016. 90 ribu di 2017, 126 ribu di 2018 dan tahun 2019 sampai saat ini 129 ribu," terang Steven.

Hingga kini, Sulawesi Utara punya 7 penerbangan langsung dari kota-kota mainland (daratan utama) di China. Rata-rata waktu tempuh penerbangannya 3-4 jam.

Menurut Steven, turis China paling suka snorkeling dan main ke pantai. Sebab hal tersebut sulit dilakukan mereka di negaranya.

Oleh sebab itu, turis China merupakan pasar potensial bagi pariwisata Sulawesi Utara. SDM pariwisata dan fasilitas pariwisata yang dikembangkan pun tentu makin ditingkatkan untuk membuat turis China makin nyaman dan makin banyak yang datang.

"Kita ada kursus bahasa mandarin, anak-anak kita juga belajar ke China," ungkap Steven.

Pesawat Supersonik Komersial Segera Mengudara?

Era baru penerbangan pesawat supersonik mungkin sudah di depan mata. Tapi ada tiga tantangan yang mesti diatasi pencipta pesawat yang terbang lebih cepat daripada kecepatan suara itu.

Seperti diberitakan CNN, tiga tantangan tersebut adalah mengenai teknik, lingkungan, dan ekonomi. Contoh, pesawat Concorde adalah keajaiban aeronautika yang terbang terakhir 16 tahun itu hanya memenuhi unsur yang pertama.

Pesawat saat ini yang mampu terbang dengan kecepatan paling rendah masih memiliki kekurangan di bidang ekologi dan biaya operasional yang tinggi. Di masa sekarang, saat emisi karbon sedang dalam sorotan, dapatkah kita kembali ke penerbangan supersonik komersial yang benar-benar berkelanjutan, menguntungkan bagi maskapai dan produsen, dan terjangkau bagi penumpang?

Ada dua perusahaan AS yang sejalan dengan hal-hal di atas. Mereka berencana menyajikan pesawat supersonik ke pasar pada pertengahan 2020-an. Waktu perjalanan yang ditawarkan dari New York ke London hanya dalam tiga jam 15 menit.

Target produsen itu ada yang dari maskapai, yang lainnya adalah pasar jet eksekutif. Mereka berdua punya solusi berbeda di salah satu poin utama, yakni bagaimana mengelola suara ledakan sonik.

Pesawat yang kedua dapat Anda baca di tautan di bawah ini:

Dunia sudah tidak sabar

"Concorde adalah pesawat dengan mesin yang brilian. Tapi pesawat ini menghasilkan terlalu banyak emisi dan bising. Concorde juga terlalu mahal untuk dioperasikan," kata Tom Vice CEO Aerion Corporation.

"Apa yang kami coba lakukan sangat berbeda," imbuhnya.

Perusahaan berbasis di Kota Reno, Nevada, AS ini sedang mengembangkan jet supersonik AS2 untuk 8-12 penumpang. Dibanding dengan penerbangan reguler, AS2 mampu melesat dengan kecepatan Mach 1,4 (lebih dari 1.000 mph.

AS2 berjanji mampu mencukur waktu perjalanan selama tiga setengah jam dari New York-Cape Town. Perjalanan antara JFK-Singapura dan JFK-Sydney hanya lebih dari empat jam.

Aerion telah mendapatkan pelanggan baru, kepemilikannya bisa melalui perusahaan leasing Flexjet, dengan pesanan sejumlah 20 pesawat. Penerbangan pertama AS2 dijadwalkan pada tahun 2024 dan pesawatnya akan ditawarkan ke pasar pada 2026.

AS2 memiliki label harga USD 120 juta atau Rp 1.7 triliun, harga yang setimpal karena penghematan waktunya. Ambisi Aerion yang utama adalah pesawat terbang dengan baik dan Vice mengatakan bahwa dunia tidak bisa menunggu hingga 2050 hingga ke keadaan netral karbon.

Minimal pembakaran BBM

Mitra dalam program AS2 Aerion yakni GE yang memulai debutnya mesin supersonik Affinity tahun lalu dan Spirit AeroSystems yang membuat pesawat bertekanan AS2. Di kokpit, Honeywell merevolusi kabin dan menggunakan keahliannya dalam jet militer supersonik untuk merancang prosesor, display, sensor, dan sistem kontrol penerbangan AS2.

Salah satu hal yang tidak dimiliki dan yang dimiliki Concorde adalah afterburner. Yakni, sebuah sistem di mana bahan bakar disemprotkan ke pembuangan mesin dan dibakar untuk meningkatkan daya dorong saat lepas landas dan akselerasi pesawatnya.

"Kami mengesampingkan itu karena terlalu berisik dan terlalu banyak membuang emisi. Hal kedua yang kami pikirkan adalah sumber energi kami. Kami menginginkan pesawat terbang yang tidak bergantung pada bahan bakar fosil dan mesinnya dapat beroperasi pada 100% bahan bakar sintetis," kata Vice.

Perusahaan juga berkomitmen pada program reboisasi hutan. Itu untuk memastikan penggantian karbon bagi setiap pelanggan di setiap penerbangannya.

Lebih hemat berjam-jam

Vice mengatakan bahwa AS2 dirancang untuk memenuhi Standar Kebisingan Pesawat Tahap 5. Itu adalah peraturan kebisingan yang paling ketat saat pendaratan dan lepas landas.

"Kami pikir telah memecahkan masalah itu. Pesawat kami akan setenang seperti pesawat lain yang kini ada di sekitar bandara," kata Vice.

Tapi mungkin salah satu fitur AS2 yang paling inovatif adalah penerbangan tanpa ledakan. Itu memungkinkan pesawat untuk terbang di kecepatan supersonik tanpa suara ledakan yang menghantam tanah karena dibiaskan kembali ke atmosfer.

Aerion menciptakan penerbangan tanpa ledakan karena memiliki teknologi yang disebut 'low boom'. Tidak se-berisik daripada Concorde, tapi masih menghasilkan suara yang mirip gemuruh guntur di kejauhan.

Vice sangat ingin membuktikan bahwa teknologi baru dapat bekerja. Vice ingin membuktikan ke regulator bahwa perusahaannya dapat diandalkan dan tak ada lagi suara ledakan di darat.

"Kami telah menganalisis saat AS2 dijalankan akan menghemat waktu perjalanan pelanggan hingga 142 jam setahun, "kata Vice.