Selasa, 10 Desember 2019

Domain .id Dinilai Layak Go International

Nama domain .id dinilai layak untuk go international karena mempunyai keunikan dan dianggap bisa merepresentasikan Idea dan Identity.

"Itu (ekspansi ke pasar internasional) langkah yang tepat karena memang (nama domain .id) unik. Tapi jangan lupa juga terus branding di dalam negeri," ungkap pengamat teknologi informasi Onno W. Purbo, dalam keterangan yang diterima detikINET.

Menurut data Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (Pandi), hingga pertengahan 2019, total pengguna domain .id mencapai 318.090 di seluruh dunia, dengan rincian 304.126 di dalam negeri (95,61%) dan 13.964 pengguna (4,39%) di luar negeri.

Mengacu pada jumlah tersebut penggunaan nama domain .id di dalam negeri masih relatif rendah apabila dibandingkan jumlah penduduk yang mencapai sekitar 267 juta jiwa.

Terkait hal itu, Onno menilai bahwa ekspansi pasar domain .id ke luar negeri dinilai tepat. Pasalnya, dengan keunikannya, domain .id dianggap dapat sejajar dengan beberapa domain unik dunia seperti .tv (Tuvalu) dan .me (Montenegro).

"Keunikan tersebut yang dapat menjadi branding utama," tambahnya.

Terganjal regulasi pemerintah
Di tengah rencananya untuk ekspansi pasar, Pandi masih terganjal regulasi pemerintah, yakni Permen Kominfo Nomor 23 Tahun 2013 tentang Pengelolaan Nama Domain, atau PP Nomor 82 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik, yang mengharuskan Pandi untuk hanya bekerjasama dengan registrar berbadan hukum Indonesia.

Merespon hal tersebut, Onno mendorong registrar dalam negeri pun untuk turut melebarkan sayapnya di pasar internasional guna mengakomodir ekspansi pasar domain .id di seluruh dunia.

"Itu 'kan dapat mengakomodir Pandi untuk tetap go international tanpa mesti terbentur regulasi pemerintah," pungkasnya.

Pada kesempatan yang berbeda, Ketua Dewan Pengurus Pandi Yudho Giri Sucahyo mengungkapkan, pihaknya menargetkan penambahan hingga 800 ribu pengguna baru selama 2019, gabungan dari pasar domestik dan internasional.

"Tentunya selain terus mendorong dukungan dari pemerintah, kami pun telah berupaya dengan merancang kegiatan kampanye," pungkasnya.

Surat Perpisahan Eks CEO Bukalapak Achmad Zaky Untuk Karyawan

Eks CEO Bukalapak Achmad Zaky mengirimkan surat perpisahan yang menyentuh kepada para karyawannya. Dalam surat tersebut, Zaky bercerita bagaimana membangun Bukalapak dari nol hingga sebesar saat ini.

Sebelumnya menjadi bagian startup yang bergelar unicorn, Zaky ingat betul bagaimana ia bersama para pendiri lainnya, Fajrin Rasyid dan Nugroho Herucahyono (Xinuc) mendirikan Bukalapak dari kosan. Seiring dilakukan perbaikan hingga menerapkan best practice perusahaan teknologi kelas dunia, perusahaan ini semakin menggaung di dunia startup.

Semua itu, disampaikan Zaky, berkat andil dari para karyawan Bukalapak yang dikatakannya punya kegigihan, kekompakan, dan semangat untuk menciptakan perubahan bagi banyak orang.

Di tahun ke-10 Bukalapak berdiri, Zaky menyatakan mengundurkan diri dan peran tersebut dipegang oleh Rachmat Kaimuddin yang pada 6 Januari 2020 mendatang bakal memulai tantangannya sebagai CEO Bukalapak.

Domain .id Kurang Diminati, Apa Penyebabnya?

Pengelola Nama Domain Indonesia (PANDI), yang merupakan operator domain .id menyebut sampai Juni 2019, pengguna domain .id baru mencapai angka 304 ribu.

Jumlah ini terbilang kecil, mengingat Indonesia saja mempunyai total penduduk lebih dari 260 juta jiwa. Sementara itu di dua negara tetangga Indonesia, rasio penggunaan domain lokalnya terbilang lebih baik.

Contohnya adalah Singapura, dengan jumlah penduduk sebanyak 5,5 juta jiwa, pengguna domain .sg mencapai 118 ribu. Sementara Malaysia yang jumlah penduduknya 32 juta jiwa, mempunyai 360 ribu pengguna domain .my.

Salah satu penyebab rendahnya pengguna domain .id di Indonesia ditenggarai adalah karena kurangnya literasi internet. Hal ini diutarakan pakar teknologi informasi dari Universitas Bina Nusantara Agung Trisetyarso.

Menurutnya, domain .id yang notabene merupakan country code Top Level Domain (ccTLD) Indonesia seharusnya bisa sejajar dengan domain unik dunia lainnya, seperti .tv milik Tuvalu, .me milik Montenegro, atau .co milik Kolombia. Namun ada syaratnya, yaitu masyarakat harus mendapat literasi internet yang memadai untuk menumbuhkembangkan minat menggunakan domain .id.

"Itu (kurangnya literasi internet) tentunya sedikit banyak mempengaruhi tingkat penggunaan domain .id di Indonesia," ujar Agung dalam keterangan yang diterima detikINET.

Ketika ditanyakan perihal dukungan dari pemerintah dalam pengembangan nama domain .id, dia mengaku memahami bahwa dengan luas wilayah Indonesia yang sangat besar, menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah. Dia pun menekankan agar sinergi antar kementerian bisa lebih dipererat.

"Dengan masing-masing kapasitasnya, sinergi Kemenkominfo dengan Kemenristekdikti dinilai akan sangat efektif meningkatkan penggunaan domain .id," ujarnya.

Terkait dengan potensi pasar luar negeri, dimana pihak PANDI berencana untuk melakukan ekspansi nama domain .id ke luar negeri, Agung berpendapat bahwa itu merupakan hal yang positif.

"Sangat potensial karena memiliki keunikan," tukasnya.

Program Satu Juta Domain

Pemerintah melalui Kemenkominfo sebenarnya pernah menggagas program Satu Juta Nama Domain .id gratis kepada para pelaku Usaha Kecil, Mikro, dan Menengah (UMKM), desa, sekolah/pesantren, dan komunitas lokal pada 2017 lalu. Namun hingga program tersebut usai, hanya sekitar 50 ribu pengguna yang mendaftar, dan bahkan hanya 30 persen yang melanjutkan berlangganan di tahun kedua.

Ketua PANDI, Yudho Giri Sucahyo menilai, prevalensi penggunaan domain .com atau nama domain unik lain seperti .co dan .tv di Indonesia didorong oleh kesan bahwa penggunaan domain-domain tersebut lebih keren atau komersil.

"Tentunya, kami juga berupaya untuk membangun kesadaran korporasi-korporasi dalam negeri untuk beralih ke nama domain .id," tutur dia.

PANDI pun telah memantapkan rencananya untuk ekspansi domain .id ke luar negeri. Hal itu dilakukan lantaran domain .id memiliki peluang besar di pasar internasional. Menurut Yudho, domain .id memiliki potensi besar di pasar internasional. Salah satunya adalah keunikan dan makna dari nama domain .id itu sendiri. Nantinya, hingga akhir tahun 2019 ini, PANDI menargetkan 800 ribu nama domain .id terdaftar di registrar PANDI.

"Kelebihan nama domain .id yang merepresentasikan 'idea' atau 'identity' merupakan sebuah berkah tersendiri yang hanya dimiliki oleh nama domain .id. Hal ini harus dimanfaatkan supaya penjualan di luar negeri meningkat dengan pesat," tukas Yudho.