Kamis, 05 Desember 2019

KPAI Minta Guru Jaga Saudara Kandung Siswa yang Bunuh Diri di Kupang

Polisi menemukan catatan di dekat YS, siswa SMP di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang bunuh diri. Salah satu poin catatan curahan hati tersebut, YS merasa tertekan karena kerap diolok-olok terkait kasus terbunuhnya sang ibu yang dilakukan bapaknya.

Kasat Reskrim Polres Kupang Kota Iptu Bobby Mooynafi mengatakan polisi memastikan hal tersebut ke teman sekolah YS. Namun diduga YS mengalami perundungan (bully) karena bapaknya dipenjara.

"Untuk memastikan itu memang harus ditelusuri dulu di rekan-rekan sekolahnya, namun kalau ikut catatan dalam surat itu, sepertinya almarhum nyatakan bahwa terkadang dia diolok tentang keturunannya (mungkin karena ayahnya yang adalah napi) di lingkungan keluarga tempat dia (almarhum) tinggal," kata Bobby, Minggu (20/10/2019).

Terkait kasus ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyatakan dukacita yang mendalam. Komisioner KPAI Retno Listyarti mengatakan diduga YS mendapatkan tekanan psikologis hingga akhirnya bunuh diri.

"Pertama, KPAI menyampaikan duka yang mendalam atas meninggalnya ananda YSS yang bunuh diri karena masalah psikologis dan diduga juga mengalami bullying berupa diolok-olok (bullying) sebagai anak pembunuh dari teman-temannya. Mengingat masa lalu ananda sangat tragis karena memendam dendam kepada sang ayah yang sedang menjalani hukuman karena membunuh sang ibu," kata Retno saat dimintai konfirmasi terpisah.

Dia menyayangkan bullying terhadap YS tak ditangani hingga membuatnya depresi. Hal ini jadi ironis karena YS dikenal pintar dan berprestasi.

Retno mengatakan bullying merupakan intimidasi atau penindasan yang tidak boleh dipandang remeh. Sebab gangguan kesehatan mental yang tak tertangani dengan baik bisa berdampak buruk.

"Pasalnya, remaja sering kali tak terbuka soal masalah-masalah yang dialaminya. Begitu pula dengan orang tua dan guru yang abai pada kondisi remaja. Pengabaian ini mengakibatkan anak korban merasa tidak ada solusi dari permasalahannya sehingga akhirnya memutuskan bunuh diri," ujar dia.

KPAI ingin saudara kandung YS mendapatkan pendampingan dan rehabilitasi psikologis. Dia berharap pihak sekolah melindungi saudara kandung YS dari bullying.

"Para guru dimana kedua saudara YSS bersekolah harus dapat melindungi keduanya dari potensi bully dari lingkungan sekolahnya. Orang tua pengganti yang mengasuh saat ini juga didorong memiliki kepekaan untuk melindungi kedua anak tersebut dari bully di lingkungan rumahnya," ungkapnya.

Sebelumnya diberitakan, YS bunuh diri pada Senin (14/10) di rumahnya sekitar pukul 08.30 Wita. Sebelum gantung diri, YS menuliskan surat berisi curahan hati mengenai ayahnya.

"Isi surat intinya terima kasih kepada kakak dari ibu kandungnya yang mengurus dirinya. Dia (YS) meminta maaf karena sering membuat budenya marah. Dan dia (menyampaikan) menyesal belum sempat niatnya kesampaian balas dendam ke ayahnya atas meninggal ibunya," ujar Kasat Reskrim Polres Kupang Kota, Iptu Bobby Jacob Mooynafi, Kamis (17/10).

Curahan hati siswa SMP YS ini ditulis dalam buku yang ditemukan di dekat jasad korban. YS juga menandatangani pesan yang ditulis pada buku yang ditindih dengan batu kecil warna putih tersebut.

Dituduh Istri Selingkuh, Pria di Surabaya Nekat Gantung Diri

Seorang pria di Surabaya ditemukan tewas gantung diri di pekarangan belakang rumahnya. Ia mengakhiri hidupnya diduga karena ada masalah dengan sang istri.

Seperti data yang dihimpun detikcom, pria yang bunuh diri itu berinisial AW (22). Ia ditemukan tewas tergantung dengan jeratan tambang di leher yang terikat pada kayu bagian atap rumahnya. Yakni di Jalan Manyar Sambongan, Kelurahan Kertajaya, Kecamatan Gubeng.

Kapolsek Gubeng Kompol Naufil Hartono mengaku mendapat laporan dari warga terkait kasus gantung diri tersebut. Kemudian dalam pemeriksaan, pihaknya tidak menemukan tanda-tanda kekerasan di tubuh korban.

"Kejadian sekitar pukul 12.00 WIB. Dari hasil olah TKP Tim Inafis, korban bunuh diri dan tidak ada tanda-tanda kekerasan," kata Naufil kepada wartawan di lokasi, Senin (11/11/2019).

Naufil menyampaikan berdasarkan keterangan saksi, sebelumnya korban pernah melakukan percobaan bunuh diri. "Ini kejadian yang kedua kalinya dan ini seperti kita lihat kejadian," imbuh Naufil.

Aksi gantung diri AW pertama kali diketahui ibu kadungnya. Ibu korban yang biasa melihat anaknya berangkat kerja, tadi tidak melihatnya.

"Akhirnya ibu kadungnya yang bernama Suyatin ke belakang melihat korban dalam keadaan gantung diri," lanjut Naufil.

Mengenai motif gantung diri yang dilakukan korban, AW diduga tengah memiliki masalah dengan sang istri. AW ketahuan chatting dengan seorang wanita.

"Dugaan sementara ada masalah sedikit dengan istrinya. Memergoki handphone suaminya ada chat dengan seorang wanita. Tapi sudah dijelaskan oleh suaminya, bahwa itu hanya temennya, dan sudah dijelaskan," papar Naufil.

Setelah dilakukan olah TKP, jenazah korban kemudian dibawa ke kamar mayat RSU dr Soetomo. Sementara keluarga korban masih histeris meratapi aksi gantung diri korban.

Pria di Surabaya Nekat Gantung Diri karena Masalah Ekonomi

 Seorang warga Tegalsari, Surabaya, ditemukan tewas gantung diri di kamar mandi. Korban nekat mengakhiri hidup diduga karena diterpa masalah ekonomi.

"Dugaannya karena motif ekonomi. Pengangguran sih nggak. Korban ini kerjanya di properti dan bangunan. Mungkin karena lagi sepi," kata Kanit Reskrim Polsek Tegalsari Iptu Kenardi kepada detikcom, Rabu (30/10/2019).

"Setahun yang lalu istrinya meninggal. Bisa juga karena faktor itu," imbuhnya.

Kenardi menambahkan, dari data yang dihimpun, korban berinisial AK (53). Selama ini korban tinggal berdua di rumah kontrakan bersama anak perempuannya yang masih berusia 15 tahun.

"Korban tinggal berdua dengan putrinya di rumah kontrakan. Korban ini jarang mengeluh meski ada masalah dan orangnya tertutup," tambahnya.

Korban yang tewas gantung diri, tutur Kenardi, diketahui putrinya Subuh tadi. Saat itu, sang putri hendak mengambil air wudu ke kamar mandi untuk melaksanakan salat Subuh.

"Anak korban ini pas bangun tidak mendapati bapaknya di kamar tidur. Terus dia mencari ke belakang sambil sekalian ambil wudu. Tapi sudah menemukan tewas tergantung," tuturnya.

Anak korban langsung berteriak dan sempat memotong tali yang menjerat leher sang ayah. Mendengar anak itu berteriak, tetangga langsung berdatangan ke rumah korban.

"Korban sudah kami evakuasi ke RSU dr Soetomo dan, dari keterangan tim Inafis, tidak ada tanda-tanda penganiayaan terhadap korban," pungkasnya.